"Tangkap maling istal! Dia kabur ke arah pasar!" teriak Lurah Kandang dengan suara membelah pagi.Bagas Surolegowo berlari sekencang mungkin dengan dua kaki yang bisa ia ayunkan. Nafasnya tersengal sejak menit pertama. Kaki Bagas tersandung batu yang sama untuk ketiga kalinya. Sarungnya hampir melorot dua kali. Kalau ada lomba lari yang dinilai dari seberapa kacau gayanya, Bagas pasti juara tanpa saingan.Di belakang Bagas, delapan prajurit Kerajaan Medang Raya mengejar dengan tombak terhunus, dan muka merah padam.Masalahnya, Bagas tidak mencuri kuda itu. Kuda itu yang mengikutinya."Ini bukan salahku!" teriaknya sambil menoleh ke belakang, lupa bahwa menoleh sambil lari itu ide yang sangat buruk.Hidungnya menghantam tiang pasar. Bunyi benturannya memuaskan semua orang, kecuali Bagas sendiri. Ia terhuyung, bintang-bintang kecil menari di depan matanya, tetapi kakinya tetap bergerak karena rupanya naluri bertahan hidup lebih pintar dari pemiliknya.Cempaka, kuda cokelat biang kerok
Last Updated : 2026-02-25 Read more