Riven langsung mengernyit, “Mila…”“Terserah lo mau nyari siapa,” potong Mila cepat. “Tapi lo paham nggak sih semalam gue cuma mau…”Ia berhenti, napasnya tertahan. Kepalanya berdenyut terbawa emosi. Mila tahu ia sudah tidak mungkin menarik lagi kalimatnya.“…gue cuma mau peluk lo.”Riven tidak langsung menjawab, Ia hanya menatap Mila. Lalu akhirnya menghela napas pelan.“Mil,” katanya, nadanya lebih rendah sekarang, “maksud gue…”Ia berhenti lagi, berusaha memilih kata yang akan diucapkannya.“Gue nggak masalah lo kayak gitu.”Mila menoleh ke arah lain, rasanya ia tidak sanggup melihat pria itu. Tidak dalam keadaan hatinya bercampur aduk emosi seperti ini.“Semalam lo peluk gue, ya nggak apa-apa.”Mila menunduk, menatap jari-jarinya yang memegang gelas.“Tapi yang gue masalahin,” lanjut Riven, lebih tenang, “lo selalu buat diri lo di posisi yang bahaya.”Ia menatap Mila dalam-dalam.“Bukan karena gue harus jemput lo,” katanya. “Gue cuma nggak mau lo kenapa-napa.”Mila terdiam. Mencob
Leer más