Paginya, ponsel Mila sudah berdering.“Jam 9 lo dijemput Edo,” kata Toni di ujung telepon.Mila melirik jam, masih pukul 6.03 pagi. Sambil mengusap matanya yang ngantuk, Mila mengerutkan keningnya.“Pagi amat sih, Ton.”Di ujung sana Toni hanya berdecak, “Si Hans bilang, jangan telat.”Mila mendengus.“Ya udah, siapa tamu gue?” tanya Mila.“Adrian,” jawab Toni singkat.Mila perlahan terduduk di kasurnya, “Adrian? Kirain kemarin gue ngga perform. Adrian yang terakhir itu kan?”“Iya, dia request lo…” kata Toni“Hmmm…” gumam Mila, pikirannya mulai berjalan.Namun sebelum ia sempat memproses lebih jauh, Toni sudah mengalihkan pembicaraan ke hal lain, ringan dan tanpa beban. Tanpa sadar, Mila mengikutinya sekilas, lalu percakapan itu pun berakhir.Ia segera beranjak untuk bersiap-siap.***Ruang galeri itu tidak terlalu ramai.Lampu-lampu putih hangat menyorot setiap lukisan dengan presisi, membuat warna-warna di dinding terlihat lebih hidup dari seharusnya.Mila berjalan di samping Adrian,
Leer más