“Jangan jumawa kau makhluk terkutuk, kali ini dirimu yang akan mati di tangan kami!” teriak Arga tidak tahan dengan ocehannya.“Hohoho, bocah kecil yang berani. Tidak heran, ternyata kau yang waktu itu menembus kekuatan alam petapa,” Dewa Kegelapan menyipitkan mata menatap Arga.“Tapi sayang, kekuatan macam itu hanyalah sampah di hadapanku, hahaha,” sambung Dewa Kegelapan dengan tawa khasnya.“Begitukah,” Lintang ikut berbicara membuat dewa kegelapan melebarkan mata.“A-apa? Sial!” umpatnya melihat ke arah Lintang.“Apa kau takut kepada putraku, paman guru?” tanya Galuh sembari menyeringai.“Takut katamu? Hahahaha, sejak kapan aku takut kepada mahluk. Kekuatan cahaya putramu memang mengejutkanku, tapi itu masihlah sampah di hadapanku, hahaha,” ujar Dewa Kegelapan.“Uwa Batara! Kau sungguh telah kelewatan, Uwa. Sadarlah! Kakek sangHyang Wenang pasti akan kecewa terhadapmu,” teriak sang Hyang Sambu lantang.“Hmmm, putra mahkota Maniloka rupanya. Hahaha, kita memang memiliki ikatan darah
Read more