“Joana, jangan bilang kamu mau pukul aku?”Denina menatap tajam Joana dengan sorot mata penuh amarah. Joana hanya sunggingkan senyum dingin.“Aku takut tanganku jadi kotor.”Denina begitu murka sampai hampir kehabisan napas. Lihat kesempatan itu, Diana segera maju dan pura-pura lindungi ibunya.“Joana, gimana cara bicaramu ke ibuku?”Dengan nada sedingin es, Joana ingatkan, “Ini bukan rumah Keluarga Widodo! Kalian nggak bisa bertindak seenaknya sendiri!”Setelah berkata demikian, Joana noleh ke manajer di sampingnya dan serahkan kartu ATM-nya.“Anda Pak Zyron, kan? Gaun ini saya ambil.”Manajer itu segera mengangguk penuh hormat dan menjilat.“Baik, Bos!”Joana kibaskan rambut panjangnya dengan anggun, lalu menatap ibu dan anak itu sambil berkata dingin, “Mulai sekarang, toko kita nggak akan layani dua orang ini lagi.”“Siap!”“Joana, berani sekali kamu!”Wajah Diana sampai berubah karena marah. Dia teriak keras penuh amarah. Sementara Denina menatap Joana seolah ingin lubangi tubuhnya
Magbasa pa