"Gosok lebih keras lagi, Zepriyn. Aku masih bisa membaca kata 'Pemarah' di dahimu dengan sangat jelas dari sini." Suara bariton Kaelan yang bernada mengejek itu diiringi oleh kekehan pelan dari Roselina. Di depan sebuah air mancur kecil di taman istana, Jenderal Zepriyn sedang membungkuk, menggosok wajahnya dengan saputangan basah secara brutal. Kulit putihnya sampai memerah karena terlalu keras menggosok tinta pekat yang ditinggalkan Celia di wajahnya. "Ini sama sekali tidak lucu, Yang Mulia," gerutu Zepriyn dengan suara teredam, masih sibuk menggosok kumis palsu di atas bibirnya. "Saya akan memberikan hukuman disiplin pada pelayan barbar itu. Beraninya dia melecehkan seorang Jenderal Besar." Roselina kembali terkekeh, menutupi mulutnya dengan anggun. "Maafkan Celia, Jenderal Zepriyn. Dia memang sedikit... pendendam." Kaelan hanya menggelengkan kepala, menyandarkan punggungnya pada pilar batu di dekat air mancur. Namun, obrolan ringan mereka terhenti saat suara langkah kaki halu
閱讀更多