"Ya, begitulah, Roselina." Suara Kaelan terdengar sangat santai, sangat kontras dengan situasi mereka yang baru saja terkunci. Tiran es itu bahkan tidak terlihat panik sedikit pun, apalagi berusaha mendobrak pintu kayu tebal tersebut. "Sudahlah, kau lihat saja buku-buku di rak sana," lanjut Kaelan datar, melipat kedua tangannya di depan dada. "Pasti mereka akan segera mencari kita. Terutama Zepriyn. Firasat pria itu cukup tajam jika menyangkut kehilanganku." Roselina menghela napas panjang. Ia menatap pintu kayu solid itu dengan pasrah. Membantah Raja di saat seperti ini juga tidak akan membuka pintunya secara ajaib. "Baiklah, sampai ada yang membukakan pintu, saya akan membaca buku saja," putus Roselina akhirnya. Gadis itu mulai menyusuri rak-rak buku yang menjulang tinggi, mencari sesuatu yang menarik untuk dibaca. Sementara itu, Kaelan melangkah menuju ujung rak dan menyandarkan punggung tegapnya di sana. Pria bertubuh tinggi besar itu perlahan merosot dan duduk berselonjor sa
Read more