"Masuklah. Dan ingat, berhentilah memikirkan, surat, atau intrik politik apa pun malam ini." Suara Kaelan yang berat memecah keheningan di depan pintu kamar paviliun Roselina. Pria itu berdiri menjulang, menatap gadis di hadapannya dengan sorot mata yang tak lagi sedingin es. "Tidurlah dan beristirahat yang cukup, Roselina. Jangan berani-berani menyentuh kertas di meja kerjamu lagi malam ini. Kau butuh memulihkan tenagamu," titah Kaelan dengan nada yang terdengar sangat protektif, persis seperti seorang pria yang benar-benar mempedulikan wanitanya. Roselina menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipisnya. "Ya, Yang Mulia. Saya mengerti. Selamat malam." Setelah Kaelan berbalik pergi dengan jubahnya yang berkibar pelan, Ksatria Ishaq yang berdiri tak jauh dari sana ikut memberikan bungkukan hormat. "Saya juga pamit undur diri istirahat, Nyonya. Selamat beristirahat," ucap Ishaq. "Terima kasih, Ishaq." Roselina melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Semenjak insiden
閱讀更多