Mendengar pertanyaan sarkas yang dilontarkan oleh rajanya, Roselina tidak bisa menahan senyumnya. Ia melangkah maju, mengangkat sedikit ujung gaunnya, dan memberikan bungkukan hormat yang sangat anggun. "Anda sangat merepotkan diri Anda sendiri hanya karena seorang penasihat, Yang Mulia," ucap Roselina lembut. "Saya benar-benar berterima kasih atas semua ini." Kaelan mendengus pelan, raut wajahnya tetap angkuh namun matanya memancarkan kehangatan. "Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku," balas Kaelan. Pria itu membalikkan badannya, melangkah menuju pintu. "Ayo, ikut aku ke ibu kota." Roselina mengerjap kaget, langkahnya terhenti. "Ke ibu kota? Untuk apa, Yang Mulia? Saya... saya rasa saya tidak ingin keluar hari ini." Langkah Kaelan terhenti. Sang Tiran menoleh dari balik bahunya, menatap Roselina dengan sebelah alis terangkat. Hawa di ruangan itu sedikit menajam. "Kau barusan menolak perintah dari Rajamu, Roselina?" tegur Kaelan dengan nada rendah yang menuntut kepatuhan abs
Read more