"Berapa pun koin emas yang Letnan itu bayar untuk gaun tersebut, aku akan membayarnya sepuluh kali lipat. Batalkan pesanan itu sekarang juga." Suara Kaelan yang teramat dingin dan absolut memecah keheningan butik. Nyonya pemilik butik itu semakin gemetar, dahinya nyaris menyentuh lantai kayu. Ia terjebak di antara ancaman mematikan dari Faksi Barat dan murka sang Tiran yang berkuasa. Melihat urat kemarahan mulai menonjol di leher Kaelan, Roselina segera melangkah maju. Ia meletakkan tangan mungilnya di atas lengan pria itu, memberikan usapan yang menenangkan. "Yang Mulia," panggil Roselina dengan senyum lembut yang menyejukkan. "Anda mengajak saya ke Valtoria hari ini untuk menikmati ketenangan dan bersenang-senang, bukan untuk membuat keributan dengan rakyat Anda sendiri." Kaelan menoleh, menatap tangan Roselina yang bersandar di lengannya, lalu menatap wajah gadis itu. Hawa membunuh di sekitarnya perlahan mereda. "Lagipula, gaun bagus di butik sebesar ini bukan cuma satu, Yang
Read More