"Anda tidak perlu terus mencari alasan yang menyakitkan hanya untuk menolak saya, Lady Calyspho." Suara Ziiten memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kamar itu. Pria itu tidak beranjak pergi, ia justru menatap lurus ke dalam sepasang mata Calyspho yang memancarkan keputusasaan. Calyspho memalingkan wajahnya, meremas gaun peraknya dengan tangan bergetar. "Kau tidak mengerti, Ziiten. Kau bebas, sementara aku hidup seperti boneka yang dipajang di etalase istana!" "Saya mengerti," balas Ziiten tenang, nada suaranya jauh dari kesan tengil yang biasa ia tunjukkan. "Seseorang memiliki perasaan bukan karena siapa gadis itu, bukan karena seberapa tinggi faksi atau gelarnya... tapi itu semata-mata karena dia adalah dirinya." Ziiten mengulurkan tangannya, dengan sangat lembut menyelipkan anak rambut Calyspho yang berantakan ke belakang telinganya. Sentuhan itu begitu hati-hati, seolah gadis di depannya adalah porselen yang rapuh. "Awalnya, aku memang hanya berniat bercanda dan menggo
Baca selengkapnya