"Tunggu di depan saja, De Solis. Aku harus membahas soal kutukan esku juga dengan tabib." Roselina yang sedari tadi terus memegangi lengan Kaelan dengan wajah cemas, seketika menahan langkahnya di ambang pintu ruang perawatan istana. Awalnya gadis itu ingin menolak dan bersikeras menemani, namun mendengar kata 'kutukan', ia akhirnya mengalah. "Baik, Yang Mulia. Tolong biarkan Tabib Betrix memeriksa Anda dengan saksama," pesannya dengan nada berat sebelum pintu tertutup rapat. Di dalam ruangan, Kaelan duduk di atas ranjang perawatan. Tabib Betrix dengan sigap membersihkan darah di lengan pria itu, sementara Jenderal Zepriyn berdiri mengawasi dengan wajah tegang. Namun, raut tegang Zepriyn perlahan memudar saat melihat kondisi luka Kaelan yang sebenarnya. "Ini hanya luka goresan kecil, Yang Mulia," ucap Tabib Betrix dengan nada tenang, mulai mengoleskan salep herbal. "Untuk fisik superior bangsa Varka, luka seperti ini akan menghilang tanpa bekas dalam dua hari ke depan, dan saya
Read more