Setelah kepergian Ayana, keadaan Nilam semakin memburuk. Ia berteriak histeris hingga membuat seluruh penghuni rumah terbangun. Tidak hanya itu, bahkan para tetangga pun merasa tidur mereka terusik."Ada apa, Nilam?" tanya Rafael dengan suara kesal yang tertahan."Aaaakkkhhh... Hizk... Hizk... Ayana... Ayana... Bunda menyesal, sayang... Hizk... Bunda menyesal," ucap Nilam dengan suara parau. Wajah dan rambutnya terlihat berantakan, air matanya mengalir deras seperti air sungai.Rafael yang kelelahan karena bekerja di luar, segera mendekat. Ia mengangkat tangannya tinggi, lalu kemudian...Plaaakkk!!!"Sampai kapan kamu seperti ini, Nilam? Sampai kapan, hah? Tidak capek kamu, hah?" ucap Rafael dengan nada marah.Wajah Nilam tertoleh. Darah mengalir pelan dari sudut bibirnya. Bukannya marah ataupun tersinggung, Nilam malah terkekeh pelan."Hahahaha... Ayana... Ayana sayang... kembalilah pada Bunda, Nak," ucapnya seraya menangis tanpa menghiraukan keberadaan Rafael dan lainnya.Rafael mem
Last Updated : 2026-03-23 Read more