Share

Bab 21

Author: @doumbojoe
last update publish date: 2026-04-01 20:13:25

Di rumah Keluarga Shahab.

Suasana pagi itu terdengar begitu gaduh. Dentingan sendok dan garpu saling beradu di atas meja makan, menciptakan irama yang tidak teratur dan penuh ketegangan. Tidak ada percakapan hangat seperti pagi-pagi sebelumnya, yang ada hanya keheningan yang dipenuhi emosi terpendam.

Di dalam kamar, suara Nilam terdengar jelas. Ia terkekeh, tertawa, lalu di saat yang sama menangis. Suara itu menggema, menciptakan suasana yang semakin mencekam di dalam rumah.

"Ayah... sampai kap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 23

    "Kamu adalah pengasuh putriku. Jangan bilang kamu benar-benar tidak tahu?" tanya Imanuel dengan tatapan khas seorang kepala keluarga. Matanya datar, namun menyimpan sesuatu yang seolah bisa menghancurkan kapan saja.Pengasuh itu terdiam. Tubuhnya gemetar, lalu perlahan ia menggelengkan kepala."Saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Hanya saja..." ucapnya dengan suara bergetar.Ucapan itu menggantung. Ia menunduk, takut melanjutkan."Hanya apa?" tanya Imanuel datar.Pengasuh itu menelan ludahnya, lalu memberanikan diri mengangkat sedikit wajahnya."Beberapa hari yang lalu, Nona muda bertanya pada saya. Dimanakah hutan larangan itu berada," ucapnya gemetar.Ruangan itu seketika menjadi semakin sunyi."Lantas apa yang kamu katakan?" tanya Imanuel lagi, masih dengan wajah dan nada yang sama."Saya hanya mengatakan, mungkin di pegunungan, Nona," jawab pengasuh itu, suaranya hampir tak terdengar.Imanuel terdiam sejenak. Tatapannya berubah semakin dingin."Bawa dia. Berikan dia pelajaran karen

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 22

    Ayna terus berjalan menembus hutan larangan itu. Langkahnya mantap di awal, namun semakin dalam ia melangkah, suasana di sekelilingnya terasa semakin asing. Pepohonan menjulang tinggi dengan akar yang mencuat seperti tangan-tangan yang hendak meraih siapa pun yang lewat. Udara menjadi lebih dingin dan sunyi."Kenapa suasananya berubah begini..." gumam Ayna pelan, matanya menyapu sekitar dengan waspada.Tiba-tiba, suara grasak-grusuk terdengar dari balik semak dan pepohonan. Refleks, Ayna menghentikan langkahnya. Nafasnya tertahan."Ada sesuatu..." bisiknya.Di balik sebuah pohon besar, perlahan muncul sosok ular raksasa. Tubuhnya besar dan panjang, sisiknya berkilauan samar di bawah cahaya yang menembus celah daun. Lidahnya menjulur keluar, bergerak cepat mencicipi udara.Ssshhhhh...Ssshhhh...Ssssshhh...Suara desisan itu membuat bulu kuduk Ayna berdiri. Seketika, seluruh kekuatan dalam tubuhnya seolah menghilang. Kakinya gemetar hebat, tubuhnya melemah, hingga ia ambruk ke tanah."

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 21

    Di rumah Keluarga Shahab.Suasana pagi itu terdengar begitu gaduh. Dentingan sendok dan garpu saling beradu di atas meja makan, menciptakan irama yang tidak teratur dan penuh ketegangan. Tidak ada percakapan hangat seperti pagi-pagi sebelumnya, yang ada hanya keheningan yang dipenuhi emosi terpendam.Di dalam kamar, suara Nilam terdengar jelas. Ia terkekeh, tertawa, lalu di saat yang sama menangis. Suara itu menggema, menciptakan suasana yang semakin mencekam di dalam rumah."Ayah... sampai kapan Bunda seperti itu? Ayana sudah meninggal, kenapa masih menyusahkan keluarga kita?" tanya Ayuna. Ia menghentikan gerakan tangannya, menatap lurus ke arah ayahnya."Ayuna! Bagaimanapun, Ayana adalah kakakmu," tegur Donggala dengan nada tegas.Mendengar teguran itu, Ayuna tidak terima. Dadanya terasa sesak, emosinya memuncak. Baginya, semua orang di rumah ini sama saja. Tidak ada yang lebih baik darinya."Kakak menyalahkan aku? Bukankah Kakak juga memperlakukan Ayana dengan buruk selama ini? Beg

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 20

    Ayna diam-diam masuk ke dalam mansion tanpa sepengetahuan siapa pun. Langkahnya ringan dan nyaris tanpa suara saat ia menyelinap melewati lorong-lorong rumah besar itu. Keheningan malam menyelimuti setiap sudut bangunan megah tersebut, seolah turut menyembunyikan keberadaannya.Begitu sampai di dalam kamarnya, tubuhnya langsung terhempas ke atas ranjang. Rasa lelah yang menumpuk membuatnya tak mampu menahan diri lebih lama. Napasnya masih sedikit terengah, namun matanya sudah terpejam.Dalam hitungan detik, Ayna sudah tertidur pulas.---Keesokan harinya, pagi datang menyapa. Sinar mentari menembus jendela, memancarkan semburat emas yang hangat ke dalam ruangan. Cahaya itu perlahan menyentuh wajah Ayna yang masih terbaring di atas ranjang.Di atas ranjangnya, Ayna perlahan membuka mata. Pandangannya masih sedikit kabur, namun ia langsung menyadari sosok yang berdiri di dekatnya.Seorang bibi pengasuh yang selama ini merawatnya sudah berada di sana, menatapnya dengan penuh perhatian."

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 19

    Imanuel segera mengeluarkan ponselnya. Wajahnya berubah serius saat ia menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari tahu siapa dalang di balik penyerangan tersebut."Tenang, Daddy akan mengurusnya. Sepertinya, kamu harus menambah pengawal lagi, Ayna," ucap Imanuel dengan nada tegas.Ucapan itu langsung diangguki oleh yang lain dengan antusias.Ayna sempat ingin menolak, namun belum sempat ia berbicara, Tarina lebih dulu memotong."Mommy setuju," ucap Tarina sambil mengangguk tipis. "Tambahkan sepuluh pengawal sekaligus. Aku tidak mau anak-anakku mengalami hal seperti itu lagi," lanjutnya dengan suara penuh kekhawatiran.Imanuel terdiam sejenak. Begitu juga Ayna dan tiga kakak laki-lakinya."Mommy tenang saja. Aku sudah menyuruh Lascar untuk memilih pengawal yang cocok untuk putri kita," ucap Imanuel.Tarina mengangguk pelan, lalu mendekat ke arah Ayna. Ia memperhatikan putrinya dari atas hingga bawah, memastikan tidak ada luka sedikit pun."Syukurlah kamu tidak terluka," ucap Tarina

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 18

    Ayna sudah berada di kantin. Ia duduk dengan tenang sambil menikmati makanan siangnya. Semangkuk rawon terhidang di depannya, uap hangatnya masih mengepul pelan.Ia menyendok makanan itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut."Enak... enak banget," ucap Ayna dengan senyum tipis setelah beberapa suapan.Ia tampak menikmati setiap rasa yang masuk ke dalam mulutnya, seolah tidak ada beban sedikit pun dalam pikirannya.Namun, tanpa Ayna sadari, tingkahnya diperhatikan oleh sepasang mata dari kejauhan. Tatapan itu penuh selidik, seolah sedang mencoba mengenali seseorang yang telah lama hilang."Ayana... itu... itu kamu, Ayana?" ucap Donggala tanpa sadar.Ucapan itu membuat teman-teman di sekitarnya langsung menoleh."Lo kenapa, Don?" tanya salah satu temannya dengan alis terangkat."Itu... adik gue," ucap Donggala singkat.Tanpa menunggu lebih lama, Donggala bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menuju meja Ayna.Ayna yang masih fokus pada makanannya tidak menyadari kehadiran Donggala.

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 17

    Semua orang di dalam kelas itu menertawakan kepergian Ayuna. Gelak tawa memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang riuh. Ada kepuasan tersendiri yang tersirat di wajah mereka, seolah kepergian Ayuna menjadi hiburan singkat di pagi itu.Griyane melangkah mendekati meja Ayna. Dengan sikap percaya dir

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 16

    Flashback on. Semalam, Ayuna tidak bisa tidur. Ia duduk di dekat balkon rumahnya, sehingga pemandangan malam itu dapat ia lihat dengan jelas. Bunda Nilam berteriak histeris, memanggil nama Ayana yang berdiri di depannya. Sosok itu melambaikan tangan ke arah Nilam. Ayuna menyaksikan kejadian i

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 14

    Ayna terpaku. Ia terkejut dengan suara abangnya yang menggelegar itu. Saking terkejutnya, sendok yang berada di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.Triinggg...Tak!"Princess, are you oke?" tanya Michael dengan nada panik dan khawatir.Ayna membeku. Ia membiarkan tubuhnya dibalik dan diputar be

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 13

    Setelah kepergian Ayana, keadaan Nilam semakin memburuk. Ia berteriak histeris hingga membuat seluruh penghuni rumah terbangun. Tidak hanya itu, bahkan para tetangga pun merasa tidur mereka terusik."Ada apa, Nilam?" tanya Rafael dengan suara kesal yang tertahan."Aaaakkkhhh... Hizk... Hizk... Ayan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status