Tubuh Tania gemetar hebat, bayangan wajah ibunya yang pucat dan merana terlintas di benak. Sejak ayahnya menghilang, mental ibunya benar-benar hancur, bahkan sudah tidak mengenali lagi siapa dirinya.Belum lagi orang-orang rentenir itu. Terakhir kali mereka datang menagih utang, mereka sudah mengancam akan memotong jarinya.Tania pun memejamkan mata, air mata mengalir membasahi pipinya. Dia tidak tahu kenapa hidupnya jadi seperti ini, berkali-kali jatuh terperosok. Rasanya sangat sakit dan kejam."Baik." Dia membuka mata, suaranya terdengar tenang yang mengerikan. "Aku tandatangani!"Kilatan emosi yang rumit melintas di mata Dito. Tapi, hanya sekejap sebelum dia mengambil kontrak dari tangan asistennya dan menyerahkannya pada Tania.Tania dengan otomatis menerima pulpen itu, lalu menuliskan namanya di kolom tanda tangan.Tangannya sedikit gemetar, setiap goresan pena itu rasanya seperti sedang mengiris hatinya sendiri.Dito mengambil kembali kontrak itu. "Bentar lagi kamu turun, mobilk
Read more