Tania sadar betul kalau bicara banyak dengan Syifa tidak akan ada gunanya, jadi dia hanya bisa diam dan lanjut bersih-bersih.Namun, saat dia selesai bekerja sambil menahan rasa lapar yang luar biasa, lampu-lampu di luar sudah mulai menyala. Lambungnya terasa perih karena lapar, pandangannya pun mulai sedikit berkunang-kunang.Sambil berpegangan pada dinding untuk berdiri, Tania menarik napas panjang dan berusaha menegakkan punggungnya. "Kamar bayinya udah aku bersihin semua, sekarang aku boleh makan, 'kan?"Syifa berpura-pura terkejut. "Aduh, sayang banget ya, pelayan dapur udah pada pulang. Jadi udah nggak ada makanan lagi yang tersisa."Sambil tersenyum, Syifa melangkah mendekati Tania. "Di sekitar sini juga nggak ada yang jualan makanan. Gimana kalau kamu tahan aja dulu, besok baru makan?"Mana mungkin Tania tidak tahu kalau Syifa sengaja menyulitkannya?"Aku makan apa aja yang ada juga nggak apa-apa kok, nggak usah repotin orang lain," ucap Tania lirih.Syifa menutup mulutnya samb
Read more