Marcus mengikuti Mary ke sebuah ruangan. Ia melihat ibunya duduk di ranjang, mengamati keadaan kakeknya yang belum terbangun sejak lama.“Apakah dia akan bangun?” tanya Marcus sembari duduk di sofa. “Pria tua itu hanya membuatmu kerepotan selama bertahun-tahun.”“Dia adalah kakekmu, Marcus. Kau harus menjaga kata-katamu.” Mary melirik Marcus sekilas, mengembus napas panjang. “Aku yakin kakekmu akan bangun suatu saat nanti. Kita ... hanya perlu bersabar.”Mary menunduk, mengepalkan tangan. Air matanya nyaris jatuh jika ia tidak segera mendongak ke langit-langit ruangan. “Akulah yang sudah membuat ayah dan saudara-saudaraku menderita. Kalau saja aku mengikuti perkataan ayah dan saudara-saudaraku, aku, ayah, dan kami semua tentu tidak akan menderita seperti sekarang.”“Kau menangis?” Marcus menghampiri Mary, berhenti saat melihat bahu Mary berguncang. “Apa yang harus aku lakukan sekarang,” gumamnya.“Tidak, aku ... hanya sedikit kesal dengan sikap ayahmu. Dia sama sekali tidak berubah.”
Last Updated : 2026-04-05 Read more