“Jadi maksud lo, dokter yang biasa nanganin lo itu pindah ke kota lain, gitu?” tanya Dimas, yang baru saja mendengar keluh kesah gue. “Yaudah sih, tinggal cari yang lain aja, kan masih banyak,” lanjutnya menatap heran.“Ya, lo kan tau gue, Dims. Paling males kalo ketemu orang baru.” Tangan gue menyilang di depan dada, membayangkan sesuatu yang gue benci.Dimas terdiam. Ekspresinya tampak ragu. “Hmm, Dra,” celetuknya memecah sunyi. “Sebenernya gue itu kenal seseorang yang mungkin aja bisa ngebantu lo. Tapi dia itu psikolog. Gue nggak tau nih, apakah metode terapinya akan sama dengan yang biasa lo jalanin,” ucapnya, menarik perhatian gue.“Psikolog?” Gue berpikir sejenak. Berusaha memahami apa perbedaannya. “Iya. Dan kalo dibilang ahli, kenalan gue ini super banget. Bahkan setau gue, dia itu sering jadi pembicara di seminar-seminar karena pengikut sosmednya udah mencapai ratusan ribu orang,” tambahnya, tampak yakin.“Oh, ya? Terkenal dong berarti,” dengan serius gue mendengarkan. “Iya.
Dernière mise à jour : 2026-03-06 Read More