“Bzzz! Bzzz!” Terdengar suara dering ponsel bergetar beberapa kali. “HP siapa tuh yang geter?” tanya Dimas, melotot seperti detektif dadakan. “Punya gue,” dengan santai gue menjawab.“Lah, trus kok nggak lo angkat?” Dimas makin penasaran. “Biarin aja lah. Ntar juga berhenti sendiri,” jawab gue, berusaha untuk tidak peduli. “Emang dari siapa sih?” dengan tatapan tajam gue meliriknya. “Kepo banget sih lo, Dims!”“Ah, fix! Dari cewek pasti. To, pegangin Andra, To!” seru Dimas, langsung pasang mode ‘misi penyelamatan negara’. “Apaan sih! Woy, woy, jangan—HAHA! Geli anjir! Kek bocah aja!” heran gue, dengan tingkah laku mereka berdua.Dengan mengerahkan seluruh tenaga, akhirnya mereka berhasil meraih ponsel gue yang ada di kantong celana. Ekspresi mereka seperti baru dapat medali emas Olimpiade.“Nah, bener kan, dari cewek,” ucap Dimas, sambil senyum-senyum nakal seperti anak kecil nemu permen. Setelah membaca nama yang tertera di layar ponsel, “Mampus! Ternyata Sonya,” girang Dimas, langsu
Read More