“APAKAH INI YANG NAMANYA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA!” seru gue, tiba-tiba membekukan suasana kantin sekolah. Dan semua tatapan pun tertuju ke arah gue. Hah! Kantin? Gue membeku begitu menyadarinya. Dan lebih terkejut lagi gue melihat Ibu kantin menatap gue dengan ekspresi herannya. “Cinta pada pandangan pertama?! Dek, Ibu janda anak 2 lho,” balasnya, membuat gue kehabisan kata-kata. “Eh, ma… maaf, Bu. Pikiran saya lagi ke mana-mana,” ucap gue sekenanya. “Lho, ya dikumpulin, biar nggak hilang,” balasnya, entah serius atau bercanda. Beberapa saat kemudian, “Nih, teh panas lo,” ucap gue, menyodorkan pesanan Joana yang sedang terbaring di ruang UKS. Gara-gara rambutnya tercabut paksa oleh gue, badannya mendadak meriang dan sepertinya akan menjadi demam. “Maafin gue ya, gue nggak sengaja tadi. Gue itu kagetan,” ucap gue, berusaha untuk meredam amarahnya yang masih membara. Dengan mata memelotot, Joana menatap gue. “Liat aja, suatu saat pasti akan gue bales!” Sejak pert
Read more