Suara kran air mengalir pelan, mengisi keheningan ruangan dengan gemericik yang menenangkan. Aruna membasuh tangannya, mengusap sisa busa sabun yang masih menempel di sela-sela jari, lalu mematikan kran dengan gerakan ringan.Di hadapannya, cermin besar menampilkan wajah yang baru saja ia bersihkan dari sisa keringat dan pelindung matahari. Ia mengoleskan lip gloss bening, perlahan, membuat penampilannya terlihat segar kembali, seolah baru saja beranjak dari tidur yang nyenyak.Senyum Aruna mengembang perlahan.Bukan senyum biasa. Ini adalah senyum yang lahir dari rasa bangga yang baru saja ia tanamkan sendiri. Untuk sekali ini, bukan wajahnya, bukan tubuhnya, bukan koneksi keluarganya yang membuat orang-orang di sekitar menoleh. Tapi otaknya. Aruna masih terpaku di depan cermin, masih tersenyum pada bayangannya sendiri, jari-jarinya masih memegang lip gloss yang belum ia kembalikan ke dalam pouch, ketika suara pintu terdengar.Klik.Aruna menoleh, dan di sana, di ambang pintu kamar
Last Updated : 2026-05-05 Read more