"Ingin memegangnya?"Wajah Aruna semakin merah padam, jika sebelumnya ia sudah merah, kini ia merah seluruhnya, dari pipi sampai ke dada, dan matanya membelalak tak percaya mendengar pertanyaan itu. Ia susah payah menelan ludahnya, tenggorokannya kering, dan tak menjawab. Diamnya membuat Atlas memperlahan gerakannya, lalu perlahan menarik tangan Aruna turun. Seakan membimbingnya.Menuntun jari-jari Aruna melewati perutnya yang berkontraksi, melewati pinggang celananya, sampai ke bawah sana dan ketika telapak tangan Aruna akhirnya menggenggam sesuatu di balik kain, mata gadis itu membelalak.Ukurannya.Besar. Sangat besar. Bahkan di balik kain celana, Aruna bisa merasakan bentuknya yang panjang dan tebal, keras seperti batu, dan panas, panas yang menembus kain dan membara di telapak tangannya."Do you think you can handle it?" tanya Atlas, suaranya serak, rendah, dan diiringi senyum yang hampir kejam.Aruna masih tak bereaksi. Ia terlalu kaget, terlalu takjub, terlalu tersihir oleh se
Last Updated : 2026-05-06 Read more