Tepat sebelum fajar, seorang pelari tiba. Terengah-engah, mata lebar, membawa lambang yang sudah lama tidak kulihat.Bukan ancaman. Bukan surat perintah.Panggilan. Resmi. Netral. Tak terhindarkan.“Kau diminta,” katanya hati-hati. “Atas perintah takhta.”Hatiku tenggelam bukan karena takut. Dengan kepastian.Ikatan itu menjadi tegang dan tenang, seperti napas yang tertahan akhirnya dilepaskan.Mikail belum menemukanku. Tapi dia telah menemukan bukti.Aku menatap anak itu, yang balas menatapku dengan tenang, fokus tanpa berkedip.“Ini,” bisikku, “adalah harganya.”Dia tidak menangis. Dia tidak bergerak.Dia hanya mengamatiku dengan penuh kesadaran, tenang, terlahir sebagai Alpha.Yang tak terlihat adalah bertahan hidup. Yang terlihat adalah perang.* * *Kertas itu lebih berat dari seharusnya.Tidak tebal. Tidak berhias. Hanya berat dengan
Read more