Tatapannya menajam.“Kau tidak mencari perlindungan.”“Tidak.”“Tidak mengajukan petisi ke Dewan.”“Tidak.”“Tidak menghubungiku.”Ikatan itu berdenyut. Keras.Aku menatap matanya tanpa berkedip.“KaMu telah membuat pilihanmu,” kataku pelan. “Begitu juga aku.”Keheningan membentang. Ruangan terasa terlalu kecil untuk beban yang menekan tulang rusukku.“Kau berbeda,” katanya akhirnya.Aku memiringkan kepala. “Begitu juga kaMu.”“Bukan itu maksudku.”Aku tahu.Ikatan itu melingkar lebih erat, gelisah sekarang.“Kau … berlapis-lapis,” lanjutnya, kata-katanya hati-hati. “Ikatan itu tidak bergerak ke arahku seperti dulu.”Aku menelan ludah.“Seharusnya tidak,” kataku. “KaMu menolaknya.”“Aku menolakmu,” bentaknya, dan segera menahannya. “Ikatan itu tidak putus.”“Tidak,” kataku pelan. “Retak.”Kata itu terasa seperti pisau.Dia tersentak.Nah. Itulah retakannya.“Kau menyembunyikan sesuatu,” katanya.Bukan sebuah pertanyaan.Jantungku berdebar kencang hingga terasa sakit.“Aku sedang menye
Read more