“Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yangbertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasapengap.Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakankasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat pekerjaan kasar. Entahitu kuli, angkat barang, benerin listri, ngepel, dan lainnya.Yang pasti, pekerjaan Arnol hanya pekerjaan biasa saja.“Masuk, Pak Maman. Ada apa lagi ini? Pinggang saya rasanya udah maucopot,” jawab Arnol sambil menekan tombol PTT pada alat komunikasi tersebut.Napasnya masih ngos-ngosan.“Banyak ngeluh kamu! Tinggalkan kardus arsip itu sekarang. Naik kelantai eksekutif. Ke ruang CEO. Ada brankas raksasa yang harus kamu pindahkanke troli,” perintah Pak Maman tanpa basa-basi.Arnol membelalakkan matanya. “Waduh, ke ruangan Pak Andra? Brankasnyaisi apa, Pak? Emas batangan atau isi dosa perusahaan? Kok tumben banget kulimacam saya yang disuruh ke ruang bos besar?”“
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-05 อ่านเพิ่มเติม