Share

Kuli Panggul Kesayangan Nyonya
Kuli Panggul Kesayangan Nyonya
Penulis: Elva Larissa

Bab 1 Dasar Istri Mandul!

Penulis: Elva Larissa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-05 15:11:00

“Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”

Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yang bertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasa pengap.

Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakan kasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat pekerjaan kasar. Entah itu kuli, angkat barang, benerin listri, ngepel, dan lainnya.

Yang pasti, pekerjaan Arnol hanya pekerjaan biasa saja.

“Masuk, Pak Maman. Ada apa lagi ini? Pinggang saya rasanya udah mau copot,” jawab Arnol sambil menekan tombol PTT pada alat komunikasi tersebut. Napasnya masih ngos-ngosan.

“Banyak ngeluh kamu! Tinggalkan kardus arsip itu sekarang. Naik ke lantai eksekutif. Ke ruang CEO. Ada brankas raksasa yang harus kamu pindahkan ke troli,” perintah Pak Maman tanpa basa-basi.

Arnol membelalakkan matanya. “Waduh, ke ruangan Pak Andra? Brankasnya isi apa, Pak? Emas batangan atau isi dosa perusahaan? Kok tumben banget kuli macam saya yang disuruh ke ruang bos besar?”

“Banyak tanya kamu ini! Pekerja lain lagi pada istirahat makan siang. Cuma kamu yang tenaganya kayak kuli panggul pelabuhan. Buruan naik, Bos lagi ngamuk besar di atas. Jangan sampai kamu telat, nanti kamu diamuk juga!”

“Siap, Pak Maman. Meluncur sekarang. Doakan saya selamat dari perut buncit si Bos, kena gampar bisa koid aku,” kelakar Arnol.

Arnol mematikan sambungan, menepuk-nepuk seragamnya yang kotor, dan menghela napas panjang. Pikirannya langsung melayang pada tumpukan tagihan yang menunggu di rumah.

Pihak rumah sakit sudah meneleponnya tiga kali pagi ini. Ibunya membutuhkan biaya operasi secepatnya. Arnol benar-benar butuh pekerjaan ini. Dia rela melakukan apa saja, termasuk menjadi kuli angkut brankas di ruangan bos besar yang super galak itu.

“Ayo, Nol. Demi Emak. Muka ndeso, otak pas-pasan, minimal tenaga harus kepakai buat cari duit,” gumam Arnol menyemangati diri sendiri.

Arnol segera menyeret troli besi beroda empat menuju lift barang. Roda troli berderit nyaring di sepanjang lorong sepi.

Lift terbuka, dan jantungnya berdebar ringan. Bosnya, Pak Andra, adalah tipe pria yang gampang meledak. Arnol sering membatin, bosnya itu sangat mirip belalang kayu kurang gizi. Tubuhnya kurus, badannya pendek, tapi suaranya melengking tajam hingga membuat sakit telinga.

Arnol mendorong trolinya dengan sangat hati-hati. Dia berhenti tepat di depan pintu ganda ruang CEO yang terbuat dari kayu jati berukir.

Samar-samar, terdengar suara pecahan barang dari dalam ruangan.

Prang!

“Dengar baik-baik, wanita mandul! Kalau sampai bulan depan hasil USG kamu masih kosong, aku bawa perempuan lain ke rumah ini! Atau sekalian aku ceraikan kamu biar kamu jadi gembel di jalanan!”

Suara bentakan Pak Andra menggema keras hingga menembus pintu tebal. Arnol menelan ludah. Tangannya ragu-ragu menyentuh gagang pintu.

“Mas, kamu nggak bisa terus-terusan nyalahin aku! Kita sudah periksa ke dokter, dan dokter bilang—” Suara lembut namun bergetar dari seorang wanita membalas.

Itu suara Nyonya Liliana, istri bosnya Arnol.

“Dokter tolol itu nggak tahu apa-apa! Aku ini sehat, jangan asal tuduh kamu yaa! Benih-ku bibit unggul! Kamu yang nggak becus nyimpan benih! Perutmu itu yang bermasalah, dasar wanita mandul, jalang!” potong Pak Andra dengan nada menghina yang luar biasa menyakitkan.

Arnol merasa situasi ini sangat tidak tepat untuknya masuk. Dia ingin berbalik dan kabur, tapi suara bentakan dari dalam tiba-tiba membuyarkan niat Arnol untuk lari dari sana.

“Nunggu apa lagi di luar pintu, Hah?! Cepat masuk dan pindahkan brankasnya!”

Ternyata pintu itu tidak tertutup rapat, dan Pak Andra menyadari kehadirannya. Arnol terkesiap kaget. Dia buru-buru mendorong pintu dan melangkah masuk bersama trolinya.

Pak Andra berdiri berkacak pinggang di tengah ruangan.

Di sudut lain, Nyonya Liliana berdiri menunduk. Wanita itu luar biasa cantik. Pakaian modisnya menempel pas di tubuhnya yang memiliki proporsi sempurna bak gitar spanyol.

“Maaf, Pak Andra, Bu Liliana. Saya disuruh Pak Maman memindahkan brankas,” ucap Arnol sambil menunduk dalam-dalam.

“Kamu! Ngapain bengong di situ? Matamu jelalatan ke mana-mana! Pindahkan brankas besi di sudut itu ke troli sekarang! Dasar kuli lamban!” bentak Pak Andra sambil menunjuk brankas raksasa di dekat rak buku.

“Siap, Pak. Saya kerjakan detik ini juga.”

Arnol segera memosisikan trolinya di dekat brankas. Dia menggulung lengan seragamnya hingga ke bahu.

Urat-urat di lengan dan bisep Arnol menonjol jelas. Otot-ototnya terbentuk alami dari kerja kasar bertahun-tahun yang tanpa disadari, istri Pak Andra menggigit bibirnya sendiri ketika melihat Arnol angkat-angkat seperti itu.

Pak Andra kembali menatap istrinya dengan sorot mata jijik.

“Kamu lihat dia?!” Pak Andra menunjuk tepat ke wajah Arnol dengan jari telunjuknya yang kurus.

“Kalau aku ceraikan kamu, hidupmu bakal melarat seperti dia! Kamu bakal mengemis di jalanan. Kamu cuma bisa hidup mewah karena aku! Tanpa aku, pria kotor, miskin, dan bau keringat seperti dia pun pasti ogah memungutmu!”

Arnol yang sedang membungkuk memeluk brankas besi mendadak kaku.

“Asem bener mulut si belalang kayu ini,” batin Arnol frustrasi. “Aku diam saja dari tadi berusaha nggak ikut campur, kenapa bawa-bawa fisikku ini, dasar Monyet?! Sudahlah muka pas-pasan, dibilang kotor dan miskin pula di depan wanita secantik ini. Sialan betul nasib kuli.”

Arnol menahan kekesalannya dalam diam. Dia menarik napas panjang, mengerahkan seluruh tenaga kulinya.

Brankas besi berukuran raksasa itu sangat berat. Normalnya butuh tiga orang untuk mengangkatnya dengan aman.

Arnol memeluknya erat, mengunci kuda-kuda kakinya yang kokoh, lalu dengan satu hentakan napas, dia mengangkat brankas itu sendirian. Punggungnya tegap menahan beban ratusan kilo. Dia memutarnya perlahan dan meletakkannya di atas troli dengan bunyi debuman pelan.

Bukk.

Suara isak tangis Nyonya Liliana mendadak terhenti total.

Dari sudut matanya, Arnol bisa merasakan tatapan wanita itu beralih padanya. Mata Nyonya Liliana melebar sedikit, menatap tak percaya pada brankas raksasa yang baru saja dipindahkan seorang diri oleh Arnol dengan begitu tenang.

“Bicaralah, Bodoh! Kamu pikir air matamu itu mempan buatku?!” Pak Andra kembali membentak, menyambar jas mahal yang tersampir di sandaran kursi kulitnya.

Jas itu terlihat kebesaran di tubuhnya yang kurus.

Pak Andra benar-benar terlihat seperti orang-orangan sawah yang siap diusir dari ladang jagung. Dia merogoh kunci mobil dari saku celananya dengan gerakan kasar. Wajahnya ditekuk kesal luar biasa.

“Jangan tunggu aku pulang malam ini. Aku mau cari hiburan di luar. Hiburan yang jauh lebih memuaskan dari wanita mandul sepertimu. Jangan jadi perempuan merepotkan yang berani meneleponku!” ancam Pak Andra dengan suara melengking.

Tanpa menunggu jawaban istrinya, pria kurus itu melangkah lebar melewati Arnol. Dia memelototi Arnol sekilas.

“Minggir kamu, kuli!”

Arnol mundur selangkah, memberi jalan. Pak Andra keluar ruangan dan menutup pintu dengan bantingan yang luar biasa keras.

BAM!

Kaca jendela ruangan bergetar hebat. Ruangan seketika hening. Hanya tersisa Arnol yang masih berdiri memegangi gagang troli, dan Nyonya Liliana yang masih mematung di tengah karpet tebal.

Keringat dingin mengucur deras di leher Arnol.

Berada di satu ruangan tertutup dengan istri bos yang baru saja disiksa secara batin sungguh situasi yang sangat canggung dan berbahaya.

“Aduh, Gusti. Saya harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum Nyonya ini nangis guling-guling minta tolong,” batin Arnol panik. “Lebih baik saya permisi sekarang juga.”

Baru saja Arnol melangkah, suara bentakan kembali terdengar dari belakang. “Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati saja kamu sana!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 5 Ukuran Afrika

    “Cih, kenapa diam?”Dorongan tiba-tiba dari kedua tangan Liliana tepat di bagian dadamembuat Arnol kehilangan keseimbangan. Pria itu terhuyung mundur dua langkah,lalu jatuh terduduk dengan posisi canggung di atas sofa kulit panjang di tengahruangan.“Nyonya.” Napas Arnol tercekat di tenggorokan.Matanya terpaku menatap Liliana yang kini berdiri menjulang tepat dihadapannya. Senyum sinis namun penuh gairah menghiasi wajah cantik wanita itu.“Aku nggak suka buang-buang waktu berharga.” Suara Liliana berubah serakdan mendalam.Tanpa sedikit pun keraguan, wanita modis itu mengangkat kedua tangannya.Jari-jari lentiknya mulai menanggalkan kancing kemeja sutra kerjanya satu persatu dari atas ke bawah. Kain mahal itu meluncur jatuh bebas ke atas karpetmarmer.“Gusti.” Arnol membatin panik.Pemandangan di depannya sukses membuat otak Arnol korslet permanen.Liliana kini hanya menyisakan bra renda tipis berwarna merah marun yangmembungkus erat dua gunung kembarnya. Dua gundukan kenyal

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 4 Deal

    “Nyonya.” Arnol menelan ludah susah payah.Liliana tidak menyahut. Senyum miring yang terukir di bibir merahnyamengisyaratkan dominasi mutlak. Wanita modis itu melangkah menjauh dari pintudengan tempo lambat yang sengaja dibuat-buat.Ayunan pinggulnya menciptakan ritme visual yang mengintimidasi sekaligusmenggoda iman. Ia berjalan memutar mengelilingi sofa kulit, lalu menjatuhkantubuhnya dengan elegan di atas kursi kebesaran suaminya.“Buka pintunya.” Arnol memohon pelan.“Kenapa buru-buru? Bukannya tadi kamu bilang perutmu mulas mau mencret?Sekarang kelihatannya kamu sehat-sehat saja.”Sindiran tajam itu menelanjangi kebohongan konyol Arnol. Pria itumenunduk dalam, meremas ujung kemeja seragamnya hingga kusut.“Nyonya, saya mohon dengan sangat. Biarkan saya ngerjain tugas saya.Kalau Nyonya marah soal kejadian tadi, saya berani sumpah potong jari nggakakan bocor ke siapa pun soal kelakuan Bapak. Tolong jangan hukum saya pakaicara begini. Kalau sampai ada orang luar yang tahu

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 3 Nyonya Beringas

    Kewarasan Arnol nyaris putus mendengarnya. Logikanya bekerja sangatkeras mengingatkan bahwa ini adalah zona bahaya tingkat dewa yang bisamembuatnya dijebloskan ke penjara atau dipecat tanpa pesangon.“Nyonya!” Arnol tiba-tiba berseru nyaring.Liliana sedikit tersentak kaget lalu menarik tangannya. “Apa?”“Maaf!” Arnol buru-buru membungkuk.Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menciptakan alasan paling absurdyang bisa dipikirkan otak paniknya.“Saya baru ingat ada panggilan mendadak dari Pak Supervisor di lantaibawah buat bersihin toilet lobi sekarang juga! Terus saya juga tiba-tibakebelet buang air besar karena kebanyakan makan sambal terasi basi tadi pagi!Perut saya mulas parah sampai mau mencret di celana, Nyonya! Saya permisi turundulu sebelum meledak di ruangan Nyonya ini!”Arnol langsung melepaskan gagang troli dan memutar tubuhnya seratusdelapan puluh derajat.“Hei!”“Mau ke mana kamu, Arnol?! Aku belum selesai bicara sama kamu soalurusan kita ini! Jangan berani-berani

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 2 Masa Kamu Kepanasan?

    “Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati aja kamusana!”Arnol sontak menoleh ke arah pintu.Seketika, tangisan pilu wanita di hadapannya lenyap tak bersisa seiringusapan kasar jari lentiknya pada sisa air mata di pipi. Wajah yang tadinyamemelas itu langsung berubah sinis.“Nyonya?” Arnol mengerjap.Liliana mendengus kasar sambil berkacak pinggang menatap pintu yangtertutup rapat.“Kamu pikir aku sungguhan peduli sama semua ocehannya tadi? Gila aja akusampai harus akting nangis bombay biar egonya yang rapuh itu merasa menang.Coba kalau aku ngelawan sedikit, ocehan cerewetnya pasti bisa sampai besok paginggak bakal berhenti. Kupingku bisa bernanah dengerin suaranya yang cemprengkayak knalpot bocor.”Lantaran salah tingkah, Arnol hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidakgatal.“Iya.”“Kamu pasti sering denger kita berantem kan tiap kali kamu bersihinlorong depan? Ngaku aja, semua pegawai di lantai ini pasti udah hafal kelakuanAndra.”“Kadang-kadang.” Arno

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 1 Dasar Istri Mandul!

    “Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yangbertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasapengap.Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakankasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat pekerjaan kasar. Entahitu kuli, angkat barang, benerin listri, ngepel, dan lainnya.Yang pasti, pekerjaan Arnol hanya pekerjaan biasa saja.“Masuk, Pak Maman. Ada apa lagi ini? Pinggang saya rasanya udah maucopot,” jawab Arnol sambil menekan tombol PTT pada alat komunikasi tersebut.Napasnya masih ngos-ngosan.“Banyak ngeluh kamu! Tinggalkan kardus arsip itu sekarang. Naik kelantai eksekutif. Ke ruang CEO. Ada brankas raksasa yang harus kamu pindahkanke troli,” perintah Pak Maman tanpa basa-basi.Arnol membelalakkan matanya. “Waduh, ke ruangan Pak Andra? Brankasnyaisi apa, Pak? Emas batangan atau isi dosa perusahaan? Kok tumben banget kulimacam saya yang disuruh ke ruang bos besar?”“

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status