Share

Bab 4 Deal

Author: Elva Larissa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-05 15:12:12

“Nyonya.” Arnol menelan ludah susah payah.

Liliana tidak menyahut. Senyum miring yang terukir di bibir merahnya mengisyaratkan dominasi mutlak. Wanita modis itu melangkah menjauh dari pintu dengan tempo lambat yang sengaja dibuat-buat.

Ayunan pinggulnya menciptakan ritme visual yang mengintimidasi sekaligus menggoda iman. Ia berjalan memutar mengelilingi sofa kulit, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan elegan di atas kursi kebesaran suaminya.

“Buka pintunya.” Arnol memohon pelan.

“Kenapa buru-buru? Bukannya tadi kamu bilang perutmu mulas mau mencret? Sekarang kelihatannya kamu sehat-sehat saja.”

Sindiran tajam itu menelanjangi kebohongan konyol Arnol. Pria itu menunduk dalam, meremas ujung kemeja seragamnya hingga kusut.

“Nyonya, saya mohon dengan sangat. Biarkan saya ngerjain tugas saya. Kalau Nyonya marah soal kejadian tadi, saya berani sumpah potong jari nggak akan bocor ke siapa pun soal kelakuan Bapak. Tolong jangan hukum saya pakai cara begini. Kalau sampai ada orang luar yang tahu kita berdua dikunci di ruangan ini, saya bisa langsung dipecat. Saya butuh banget kerjaan ini buat bayar operasi ibu saya besok pagi.”

Liliana menopang dagunya menggunakan punggung tangan. Tatapannya menyorot Arnol dengan binar ketertarikan yang semakin pekat.

“Ternyata kamu anak yang berbakti.”

Wanita itu membungkuk sedikit, menarik laci meja kerja suaminya yang tidak pernah dikunci. Sedetik kemudian, sebuah bungkusan tebal dilemparkan ke atas meja kaca dengan bunyi hantaman yang berat.

Bruk!

Arnol tersentak mundur selangkah. Matanya menatap lekat pada dua gepok uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih terikat rapi pita bank.

“Uang?” Arnol membeo tak percaya.

“Ini bukan soal tuduhan pencurian atau hukuman pemecatan, Arnol. Uang di atas meja itu murni penawaran bisnis pribadi dariku.”

Otak pas-pasan Arnol secara otomatis mencoba mengkalkulasi ketebalan tumpukan uang merah tersebut.

Pasti nominalnya mencapai puluhan juta. Cukup untuk melunasi seluruh tunggakan rumah sakit ibunya detik ini juga, bahkan sisa banyak untuk modal buka warung di kampung.

“Maksudnya penawaran bisnis?”

Liliana bangkit dari kursinya. Ia memungut dua gepok uang itu dengan santai lalu berjalan mendekati posisi Arnol yang masih mematung di dekat brankas. Jarak di antara mereka kembali terpangkas hingga hanya menyisakan satu jengkal.

“Bantuan.”

Tanpa permisi, tangan halus Liliana meraih telapak tangan Arnol yang kasar akibat kerja fisik. Ia meletakkan paksa dua gepok uang tebal itu langsung ke atas telapak tangan Arnol, lalu menggenggam jari-jari pria itu agar tidak menjatuhkannya.

“Saya nggak ngerti, Nyonya.” Napas Arnol memburu cepat.

“Ibumu butuh biaya operasi segera, kan? Ambil semua uang ini. Aku tidak butuh kembalian. Bahkan, aku akan mentransfer bonus yang jauh lebih besar dari ini ke rekeningmu, asalkan kamu bersedia melakukan satu hal kecil untukku.”

“Ba-bantu apa, Nyonya?”

Liliana memandu tangan besar Arnol yang masih memegang uang itu untuk turun. Perlahan, ia menempelkan punggung tangan pria itu tepat di atas perut datarnya yang terbalut kain kemeja sutra mahal.

“Suamiku mengancam akan menceraikanku dan membuangku ke jalanan kalau bulan depan aku tidak positif hamil. Kamu dengar sendiri pakai telingamu tadi, kan? Pabriknya yang rusak, benihnya  yang cacat, tapi aku yang disalahkan. Aku butuh benih baru yang kuat untuk mengisi perut ini.”

Bola mata Arnol melotot nyaris melompat keluar dari rongganya. Jantungnya berdentum brutal menghantam tulang rusuk.

“Gila.” Arnol berbisik syok.

“Hari ini aku sedang berada dalam masa subur puncak. Aku ingin kamu membuatku hamil sekarang juga, Arnol.”

Seketika, lutut Arnol terasa kehilangan tulang. Ia berusaha menarik tangannya dari perut Liliana, namun wanita itu menahannya kuat-kuat.

“Ini perbuatan terlarang, Nyonya! Kalau sampai Pak Andra tahu bibit di perut Nyonya itu bukan punya dia, nyawa saya taruhannya. Saya bisa dicor hidup-hidup di pondasi gedung proyek ini. Nggak, saya nggak berani ngambil risiko segila ini!

“Nggak akan ada yang tahu kebenarannya kalau kamu tutup mulut rapat-rapat. Suamiku itu terlalu narsis buat sadar kalau dia dibohongi. Anggap saja ini murni transaksi jual beli. Aku membeli spermamu yang sehat itu.”

Arnol memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca. “Nggak.”

“Kamu mau membiarkan ibumu mati menahan sakit cuma karena kamu mau sok suci menolak tawaranku? Ini uang halal dari hasil transaksimu. Kamu pilih mana, mempertahankan harga diri bawahan yang nggak ada harganya, atau menyelamatkan nyawa ibumu hari ini juga?”

Kalimat terakhir Liliana sukses menghancurkan dinding pertahanan terakhir Arnol. Bayangan ibunya yang merintih kesakitan menelan habis sisa-sisa kewarasannya. Uang puluhan juta di tangannya ini terasa semakin berat sekaligus menjanjikan kehidupan.

“Gagal gimana?” Suara Arnol akhirnya melemah drastis, menandakan penyerahan diri tanpa syarat.

Senyum kemenangan merekah lebar di wajah cantik Liliana. Ia sangat tahu cara menundukkan pria yang sedang putus asa.

“Kita bikin terus di sini sampai beneran jadi.” Liliana menepuk dada Arnol pelan. “Kamu cuma punya waktu kurang dari satu menit buat mikir. Kalau kamu nekat nolak, aku panggil satpam di lobi bawah buat nidurin aku di ruangan ini. Tujuanku cuma satu, hamil.”

Mendengar ancaman ekstrem itu, Arnol menghela napas panjang merelakan nasibnya. Ia mengalah pada kerasnya tuntutan kehidupan dan kuatnya godaan di depan mata yang tidak mungkin ditolak pria normal mana pun.

“Deal.” Arnol mengangguk pelan. Kesepakatan tabu itu pun resmi dimulai tanpa dokumen tertulis.

Namun, baru saja Arnol ingin kembali ke basement, tangan Liliana sudah meraihnya lagi, kali ini mencengkeram kerah bajunya kuat-kuat.

“Kamu kira, kita melakukannya besok?” Liliana menarik kerah baju Arnold, lalu mendekatkan wajah pria itu ke wajahnya.

“Aku butuh sekarang! Aku nggak mau nunda-nunda lagi, apalagi aku udah di puncak masa subur. Sekarang keadaan aman, jadi kita bisa melakukannya sepuas mungkin.”

Arnol hanya bisa berharap, kondisi ini segera selesai, ya walau sedikit enak, sih.

Namun, di hati kecilnya, Arnol sangat menghargai Bu Liliana yang selalu baik kepada karyawan. Justru karena kebaikan itulah, Arnol tidak mau menodai martabat istri majikannya ini, mengingat betapa terkenalnya dia sebagai orang baik.

Ya, meskipun baik, Bu Liliana terkenal cukup liat juga.

“Kalau suamiku berhubungan sama wanita lain, kenapa aku harus menahan diri?” Liliana kemudian menarik kepala Arnol lagi lebih dekat.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 15 Perhatian kecil

    Keduanya melangkah masuk ke dalam lift. Keheningan yang pekat seketika menyelimuti ruang sempit itu. Arnol, yang pada dasarnya memang seorang pria pendiam, hanya bisa mengikuti situasi dengan cermat.Namun, benaknya tidak bisa tenang. Satu pertanyaan besar terus berputar di kepala Arnol: apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh sang nyonya setelah melihat suaminya sendiri bermesraan dengan wanita lain? Tidakkah ada secuil saja rasa marah, kecewa, atau cemburu yang bergejolak di dada wanita itu?"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Arnol akhirnya, memecah kesunyian.Ia menatap punggung tegap sang nyonya. Namun, tidak ada respons sedikit pun dari wanita itu. Mengerti bahwa keheningan itu adalah isyarat bahwa sang nyonya sedang tidak ingin diganggu atau berbagi cerita, Arnol memilih untuk kembali mengunci mulutnya.Ting! Suara lift terdengar, disusul pintu yang mendenting terbuka."Nanti akan kuhubungi lagi," jawab Liliana dingin tanpa menoleh, lalu melangkah cepat keluar dari lift dan

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 14 Ketahuan?

    Pakaian mereka telah kembali rapi dan sempurna seperti semula. Sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa beberapa menit lalu, keduanya baru saja terlibat dalam pergumulan yang intim dan panas. Liliana sendiri tampak sibuk merapikan tatanan pakaiannya, atau bahkan sibuk melihat riasannya. Setelah merasa cukup ia menatap Arnol yang kini sudah rapi berdiri tak jauh dari Liliana."Aku yang akan menghubungi jika ada keperluan. Kamu dilarang keras menghubungiku lebih dulu. Terlalu rawan," ujar Liliana dingin sembari menyampirkan tasnya di bahu, kembali menatap penampilannya di cermin.Arnol yang berdiri tak jauh dari wanita itu mengangguk mengerti. Lagipula, ia tidak punya alasan untuk menghubungi Liliana. Waktunya terlalu berharga, dan ia lebih memilih menghabiskan waktu luangnya untuk menjaga ibunya. Karena itu Arnol hanya bisa mengiyakan dalam hati diiringi sebuah anggukan."Baiklah untuk hari ini selesai. Ingat untuk mengkomsumsi makanan yang bergisi, aku tak mau bibit ya

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 13 Puas nyonya

    Di bawah siraman cahaya lampu temaram yang hangat, keheningan di antara Liliana dan Arnol melebur menjadi atmosfer yang sarat akan gairah, memang mereka menjalankan kontrak bisnis, tapi ada hasrat pribadi yag diluar dari kendali kontrak. Ada dahaga yang Liliana ingin tuntaskan.Gengsi yang selama ini Liliana pertahankan runtuh begitu saja di hadapan pesona maskulin sang kuli. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Arnol menundukkan wajahnya dan langsung mengunci bibir Liliana dalam sebuah ciuman yang mendalam.Liliana refleks terpejam, tubuhnya berdesir hebat saat belahan bibirnya disapu oleh pria di hadapannya. Semula itu hanya berupa pagutan lembut, namun lama-kelamaan Arnol mulai mengubah ritmenya menjadi lebih agresif. Lidahnya bergerak menjelajahi rongga mulut Liliana, memarkirkan dominasi mutlak yang membuat seluruh persendian wanita itu seketika terasa lemas.Liliana terdiam, kenapa lelaki ini berubah jadi lebih ahli dari sebelumnya, apakah Arnol memang ahli dalam hal ini, tapi

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 12 Hotel

    Liliana menatap ke luar jendela. Tampak seorang lelaki tengah berdiri di dekat pintu mobilnya sembari sedikit menundukkan kepala dengan takzim.Liliana perlahan menurunkan kaca jendela mobilnya."Ada apa?" tanya Liliana dengan nada suara yang sengaja dibuat ketus."Mohon maaf karena telah membuat Nyonya menunggu terlalu lama," ucap lelaki itu dengan suara yang terdengar sopan.Liliana seketika terbungkam. Ia menatap syok ke arah lelaki yang baru saja mengajaknya bicara."Arnol?" tanya Liliana, memastikan pendengarannya tidak salah.Lelaki itu mengangguk pelan mengiyakan. "Benar, Nyonya."Liliana sendiri dibuat benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya. Lelaki yang biasanya selalu datang dengan penampilan kumal dan berantakan itu kini telah berubah drastis. Rambutnya yang biasa dibiarkan berantakan tanpa pernah disisir, kini terlihat pendek dan tersusun rapi.Tanpa penutup rambut yang acak-acakan seperti dulu, kini alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung sempurna

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 11 Berbelanja

    Rentetan pekerjaan berat yang menguras fisik akhirnya selesai Arnol lakukan. Kini, seluruh tubuhnya dipenuhi oleh debu dan cucuran keringat yang membuat aroma tubuhnya menjadi tidak sedap. Keadaan ini membuat Arnol cemas, apalagi sebentar lagi ia harus bertemu dengan Liliana untuk membahas "bisnis pribadi" mereka."Sepertinya aku harus segera bersiap-siap. Tidak mungkin, kan, aku menemui Nyonya dengan aroma tubuh seperti tikus got begini?" batin Arnol.Ia sempat mengendus lengan bajunya sendiri sekilas. Detik itu juga, ekspresi wajahnya langsung berkerut masam. Bau keringat yang menyengat itu sukses membuat dirinya sendiri merasa agak risih, apalagi jika sampai terhirup oleh hidung sensitif Nyonya Liliana yang terbiasa dengan kemewahan."Nol, kenapa kau malah diam saja di sana?" tanya sang teman kuli, memecah lamunan Arnol yang sedari tadi hanya terdiam, hal itu membuat Arnol tersentak.Sore ini, mereka dijadwalkan harus kembali ke kantor pusat terlebih dahulu untuk setor absensi, se

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 10 Kontak komunikasi

    Informasi yang dijelaskan oleh dokter semalam sukses membuat Arnol tidak bisa memejamkan mata semalaman. Pikirannya terus berputar tanpa henti, menghitung nominal uang yang masih kurang untuk biaya pengobatan, serta memutar otak bagaimana caranya mencari tambahan dalam waktu dekat. Saat ini ia hanya mengantongi uang lebih dari delapan puluh juta, ia masih membutuhkan uang yang sangat banyak."Anak muda zaman sekarang... pagi-pagi begini kok sudah bengong saja," ledek seorang pria paruh baya yang merupakan sesama pekerja kuli di sana.Arnol menoleh, lalu menatap pria itu dengan tatapan ramah sembari memaksakan sebuah senyuman tipis di wajah lelahnya."Aku hanya sedang berpikir, Paman. Kenapa uang rasanya sulit sekali untuk didapatkan, ya?" ucap Arnol pelan sambil menepuk-nepuk barang yang ada di sampingnya."Ya karena uang itu istimewa, makanya sulit didapatkan," jawab lelaki itu santai sembari menyulut sebatang rokok. "Seandainya daun yang dianggap istimewa oleh manusia, aku yakin saa

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 5 Ukuran Afrika

    “Cih, kenapa diam?”Dorongan tiba-tiba dari kedua tangan Liliana tepat di bagian dadamembuat Arnol kehilangan keseimbangan. Pria itu terhuyung mundur dua langkah,lalu jatuh terduduk dengan posisi canggung di atas sofa kulit panjang di tengahruangan.“Nyonya.” Napas Arnol tercekat di tenggorokan.

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 3 Nyonya Beringas

    Kewarasan Arnol nyaris putus mendengarnya. Logikanya bekerja sangatkeras mengingatkan bahwa ini adalah zona bahaya tingkat dewa yang bisamembuatnya dijebloskan ke penjara atau dipecat tanpa pesangon.“Nyonya!” Arnol tiba-tiba berseru nyaring.Liliana sedikit tersentak kaget lalu menarik tangannya

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 2 Masa Kamu Kepanasan?

    “Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati aja kamusana!”Arnol sontak menoleh ke arah pintu.Seketika, tangisan pilu wanita di hadapannya lenyap tak bersisa seiringusapan kasar jari lentiknya pada sisa air mata di pipi. Wajah yang tadinyamemelas itu langsung berubah sinis.“N

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 1 Dasar Istri Mandul!

    “Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yangbertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasapengap.Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakankasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status