Masuk“Nyonya.” Arnol menelan ludah susah payah.
Liliana tidak menyahut. Senyum miring yang terukir di bibir merahnya mengisyaratkan dominasi mutlak. Wanita modis itu melangkah menjauh dari pintu dengan tempo lambat yang sengaja dibuat-buat.
Ayunan pinggulnya menciptakan ritme visual yang mengintimidasi sekaligus menggoda iman. Ia berjalan memutar mengelilingi sofa kulit, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan elegan di atas kursi kebesaran suaminya.
“Buka pintunya.” Arnol memohon pelan.
“Kenapa buru-buru? Bukannya tadi kamu bilang perutmu mulas mau mencret? Sekarang kelihatannya kamu sehat-sehat saja.”
Sindiran tajam itu menelanjangi kebohongan konyol Arnol. Pria itu menunduk dalam, meremas ujung kemeja seragamnya hingga kusut.
“Nyonya, saya mohon dengan sangat. Biarkan saya ngerjain tugas saya. Kalau Nyonya marah soal kejadian tadi, saya berani sumpah potong jari nggak akan bocor ke siapa pun soal kelakuan Bapak. Tolong jangan hukum saya pakai cara begini. Kalau sampai ada orang luar yang tahu kita berdua dikunci di ruangan ini, saya bisa langsung dipecat. Saya butuh banget kerjaan ini buat bayar operasi ibu saya besok pagi.”
Liliana menopang dagunya menggunakan punggung tangan. Tatapannya menyorot Arnol dengan binar ketertarikan yang semakin pekat.
“Ternyata kamu anak yang berbakti.”
Wanita itu membungkuk sedikit, menarik laci meja kerja suaminya yang tidak pernah dikunci. Sedetik kemudian, sebuah bungkusan tebal dilemparkan ke atas meja kaca dengan bunyi hantaman yang berat.
Bruk!
Arnol tersentak mundur selangkah. Matanya menatap lekat pada dua gepok uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih terikat rapi pita bank.
“Uang?” Arnol membeo tak percaya.
“Ini bukan soal tuduhan pencurian atau hukuman pemecatan, Arnol. Uang di atas meja itu murni penawaran bisnis pribadi dariku.”
Otak pas-pasan Arnol secara otomatis mencoba mengkalkulasi ketebalan tumpukan uang merah tersebut.
Pasti nominalnya mencapai puluhan juta. Cukup untuk melunasi seluruh tunggakan rumah sakit ibunya detik ini juga, bahkan sisa banyak untuk modal buka warung di kampung.
“Maksudnya penawaran bisnis?”
Liliana bangkit dari kursinya. Ia memungut dua gepok uang itu dengan santai lalu berjalan mendekati posisi Arnol yang masih mematung di dekat brankas. Jarak di antara mereka kembali terpangkas hingga hanya menyisakan satu jengkal.
“Bantuan.”
Tanpa permisi, tangan halus Liliana meraih telapak tangan Arnol yang kasar akibat kerja fisik. Ia meletakkan paksa dua gepok uang tebal itu langsung ke atas telapak tangan Arnol, lalu menggenggam jari-jari pria itu agar tidak menjatuhkannya.
“Saya nggak ngerti, Nyonya.” Napas Arnol memburu cepat.
“Ibumu butuh biaya operasi segera, kan? Ambil semua uang ini. Aku tidak butuh kembalian. Bahkan, aku akan mentransfer bonus yang jauh lebih besar dari ini ke rekeningmu, asalkan kamu bersedia melakukan satu hal kecil untukku.”
“Ba-bantu apa, Nyonya?”
Liliana memandu tangan besar Arnol yang masih memegang uang itu untuk turun. Perlahan, ia menempelkan punggung tangan pria itu tepat di atas perut datarnya yang terbalut kain kemeja sutra mahal.
“Suamiku mengancam akan menceraikanku dan membuangku ke jalanan kalau bulan depan aku tidak positif hamil. Kamu dengar sendiri pakai telingamu tadi, kan? Pabriknya yang rusak, benihnya yang cacat, tapi aku yang disalahkan. Aku butuh benih baru yang kuat untuk mengisi perut ini.”
Bola mata Arnol melotot nyaris melompat keluar dari rongganya. Jantungnya berdentum brutal menghantam tulang rusuk.
“Gila.” Arnol berbisik syok.
“Hari ini aku sedang berada dalam masa subur puncak. Aku ingin kamu membuatku hamil sekarang juga, Arnol.”
Seketika, lutut Arnol terasa kehilangan tulang. Ia berusaha menarik tangannya dari perut Liliana, namun wanita itu menahannya kuat-kuat.
“Ini perbuatan terlarang, Nyonya! Kalau sampai Pak Andra tahu bibit di perut Nyonya itu bukan punya dia, nyawa saya taruhannya. Saya bisa dicor hidup-hidup di pondasi gedung proyek ini. Nggak, saya nggak berani ngambil risiko segila ini!
“Nggak akan ada yang tahu kebenarannya kalau kamu tutup mulut rapat-rapat. Suamiku itu terlalu narsis buat sadar kalau dia dibohongi. Anggap saja ini murni transaksi jual beli. Aku membeli spermamu yang sehat itu.”
Arnol memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca. “Nggak.”
“Kamu mau membiarkan ibumu mati menahan sakit cuma karena kamu mau sok suci menolak tawaranku? Ini uang halal dari hasil transaksimu. Kamu pilih mana, mempertahankan harga diri bawahan yang nggak ada harganya, atau menyelamatkan nyawa ibumu hari ini juga?”
Kalimat terakhir Liliana sukses menghancurkan dinding pertahanan terakhir Arnol. Bayangan ibunya yang merintih kesakitan menelan habis sisa-sisa kewarasannya. Uang puluhan juta di tangannya ini terasa semakin berat sekaligus menjanjikan kehidupan.
“Gagal gimana?” Suara Arnol akhirnya melemah drastis, menandakan penyerahan diri tanpa syarat.
Senyum kemenangan merekah lebar di wajah cantik Liliana. Ia sangat tahu cara menundukkan pria yang sedang putus asa.
“Kita bikin terus di sini sampai beneran jadi.” Liliana menepuk dada Arnol pelan. “Kamu cuma punya waktu kurang dari satu menit buat mikir. Kalau kamu nekat nolak, aku panggil satpam di lobi bawah buat nidurin aku di ruangan ini. Tujuanku cuma satu, hamil.”
Mendengar ancaman ekstrem itu, Arnol menghela napas panjang merelakan nasibnya. Ia mengalah pada kerasnya tuntutan kehidupan dan kuatnya godaan di depan mata yang tidak mungkin ditolak pria normal mana pun.
“Deal.” Arnol mengangguk pelan. Kesepakatan tabu itu pun resmi dimulai tanpa dokumen tertulis.
Namun, baru saja Arnol ingin kembali ke basement, tangan Liliana sudah meraihnya lagi, kali ini mencengkeram kerah bajunya kuat-kuat.
“Kamu kira, kita melakukannya besok?” Liliana menarik kerah baju Arnold, lalu mendekatkan wajah pria itu ke wajahnya.
“Aku butuh sekarang! Aku nggak mau nunda-nunda lagi, apalagi aku udah di puncak masa subur. Sekarang keadaan aman, jadi kita bisa melakukannya sepuas mungkin.”
Arnol hanya bisa berharap, kondisi ini segera selesai, ya walau sedikit enak, sih.
Namun, di hati kecilnya, Arnol sangat menghargai Bu Liliana yang selalu baik kepada karyawan. Justru karena kebaikan itulah, Arnol tidak mau menodai martabat istri majikannya ini, mengingat betapa terkenalnya dia sebagai orang baik.
Ya, meskipun baik, Bu Liliana terkenal cukup liat juga.
“Cih, kenapa diam?”Dorongan tiba-tiba dari kedua tangan Liliana tepat di bagian dadamembuat Arnol kehilangan keseimbangan. Pria itu terhuyung mundur dua langkah,lalu jatuh terduduk dengan posisi canggung di atas sofa kulit panjang di tengahruangan.“Nyonya.” Napas Arnol tercekat di tenggorokan.Matanya terpaku menatap Liliana yang kini berdiri menjulang tepat dihadapannya. Senyum sinis namun penuh gairah menghiasi wajah cantik wanita itu.“Aku nggak suka buang-buang waktu berharga.” Suara Liliana berubah serakdan mendalam.Tanpa sedikit pun keraguan, wanita modis itu mengangkat kedua tangannya.Jari-jari lentiknya mulai menanggalkan kancing kemeja sutra kerjanya satu persatu dari atas ke bawah. Kain mahal itu meluncur jatuh bebas ke atas karpetmarmer.“Gusti.” Arnol membatin panik.Pemandangan di depannya sukses membuat otak Arnol korslet permanen.Liliana kini hanya menyisakan bra renda tipis berwarna merah marun yangmembungkus erat dua gunung kembarnya. Dua gundukan kenyal
“Nyonya.” Arnol menelan ludah susah payah.Liliana tidak menyahut. Senyum miring yang terukir di bibir merahnyamengisyaratkan dominasi mutlak. Wanita modis itu melangkah menjauh dari pintudengan tempo lambat yang sengaja dibuat-buat.Ayunan pinggulnya menciptakan ritme visual yang mengintimidasi sekaligusmenggoda iman. Ia berjalan memutar mengelilingi sofa kulit, lalu menjatuhkantubuhnya dengan elegan di atas kursi kebesaran suaminya.“Buka pintunya.” Arnol memohon pelan.“Kenapa buru-buru? Bukannya tadi kamu bilang perutmu mulas mau mencret?Sekarang kelihatannya kamu sehat-sehat saja.”Sindiran tajam itu menelanjangi kebohongan konyol Arnol. Pria itumenunduk dalam, meremas ujung kemeja seragamnya hingga kusut.“Nyonya, saya mohon dengan sangat. Biarkan saya ngerjain tugas saya.Kalau Nyonya marah soal kejadian tadi, saya berani sumpah potong jari nggakakan bocor ke siapa pun soal kelakuan Bapak. Tolong jangan hukum saya pakaicara begini. Kalau sampai ada orang luar yang tahu
Kewarasan Arnol nyaris putus mendengarnya. Logikanya bekerja sangatkeras mengingatkan bahwa ini adalah zona bahaya tingkat dewa yang bisamembuatnya dijebloskan ke penjara atau dipecat tanpa pesangon.“Nyonya!” Arnol tiba-tiba berseru nyaring.Liliana sedikit tersentak kaget lalu menarik tangannya. “Apa?”“Maaf!” Arnol buru-buru membungkuk.Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menciptakan alasan paling absurdyang bisa dipikirkan otak paniknya.“Saya baru ingat ada panggilan mendadak dari Pak Supervisor di lantaibawah buat bersihin toilet lobi sekarang juga! Terus saya juga tiba-tibakebelet buang air besar karena kebanyakan makan sambal terasi basi tadi pagi!Perut saya mulas parah sampai mau mencret di celana, Nyonya! Saya permisi turundulu sebelum meledak di ruangan Nyonya ini!”Arnol langsung melepaskan gagang troli dan memutar tubuhnya seratusdelapan puluh derajat.“Hei!”“Mau ke mana kamu, Arnol?! Aku belum selesai bicara sama kamu soalurusan kita ini! Jangan berani-berani
“Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati aja kamusana!”Arnol sontak menoleh ke arah pintu.Seketika, tangisan pilu wanita di hadapannya lenyap tak bersisa seiringusapan kasar jari lentiknya pada sisa air mata di pipi. Wajah yang tadinyamemelas itu langsung berubah sinis.“Nyonya?” Arnol mengerjap.Liliana mendengus kasar sambil berkacak pinggang menatap pintu yangtertutup rapat.“Kamu pikir aku sungguhan peduli sama semua ocehannya tadi? Gila aja akusampai harus akting nangis bombay biar egonya yang rapuh itu merasa menang.Coba kalau aku ngelawan sedikit, ocehan cerewetnya pasti bisa sampai besok paginggak bakal berhenti. Kupingku bisa bernanah dengerin suaranya yang cemprengkayak knalpot bocor.”Lantaran salah tingkah, Arnol hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidakgatal.“Iya.”“Kamu pasti sering denger kita berantem kan tiap kali kamu bersihinlorong depan? Ngaku aja, semua pegawai di lantai ini pasti udah hafal kelakuanAndra.”“Kadang-kadang.” Arno
“Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yangbertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasapengap.Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakankasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat pekerjaan kasar. Entahitu kuli, angkat barang, benerin listri, ngepel, dan lainnya.Yang pasti, pekerjaan Arnol hanya pekerjaan biasa saja.“Masuk, Pak Maman. Ada apa lagi ini? Pinggang saya rasanya udah maucopot,” jawab Arnol sambil menekan tombol PTT pada alat komunikasi tersebut.Napasnya masih ngos-ngosan.“Banyak ngeluh kamu! Tinggalkan kardus arsip itu sekarang. Naik kelantai eksekutif. Ke ruang CEO. Ada brankas raksasa yang harus kamu pindahkanke troli,” perintah Pak Maman tanpa basa-basi.Arnol membelalakkan matanya. “Waduh, ke ruangan Pak Andra? Brankasnyaisi apa, Pak? Emas batangan atau isi dosa perusahaan? Kok tumben banget kulimacam saya yang disuruh ke ruang bos besar?”“