Masuk“Cih, kenapa diam?”
Dorongan tiba-tiba dari kedua tangan Liliana tepat di bagian dada membuat Arnol kehilangan keseimbangan. Pria itu terhuyung mundur dua langkah, lalu jatuh terduduk dengan posisi canggung di atas sofa kulit panjang di tengah ruangan.
“Nyonya.” Napas Arnol tercekat di tenggorokan.
Matanya terpaku menatap Liliana yang kini berdiri menjulang tepat di hadapannya. Senyum sinis namun penuh gairah menghiasi wajah cantik wanita itu.
“Aku nggak suka buang-buang waktu berharga.” Suara Liliana berubah serak dan mendalam.
Tanpa sedikit pun keraguan, wanita modis itu mengangkat kedua tangannya. Jari-jari lentiknya mulai menanggalkan kancing kemeja sutra kerjanya satu per satu dari atas ke bawah. Kain mahal itu meluncur jatuh bebas ke atas karpet marmer.
“Gusti.” Arnol membatin panik.
Pemandangan di depannya sukses membuat otak Arnol korslet permanen. Liliana kini hanya menyisakan bra renda tipis berwarna merah marun yang membungkus erat dua gunung kembarnya. Dua gundukan kenyal itu terlihat sangat penuh dan montok, nyaris tumpah membelah cup bra yang menahannya mati-matian.
Kulit wanita itu yang seputih susu dan mulus tanpa cacat mencetak kontras tajam di bawah cahaya lampu ruangan. Lelaki mana yang sanggup mempertahankan kewarasan melihat pemandangan kualitas dewa ini secara langsung dengan jarak sedekat ini.
“Kenapa? Kurang cantik dari bayangan kasarmu di ruang bawah tanah?”
Godaan nakal itu meluncur saat Liliana melangkah maju. Ia terus bergerak hingga kedua lututnya yang terbalut rok span menabrak pelan lutut Arnol yang sedang duduk mengangkang.
Liliana membungkuk perlahan, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Arnol yang sedang menegang tegang. Tangannya terulur menyentuh kerah seragam Arnol, lalu mulai melepaskan kancing kemeja kuli pria itu dengan gerakan lambat yang memprovokasi.
Setiap kali kancing terlepas, ujung jari Liliana sengaja menggores kulit dada bidang Arnol.
Tahan, Nol. Jangan langsung barbar kayak anjing kelaparan. Ini bidadari nyasar, jangan dibikin lecet.
Arnol memejamkan matanya kuat-kuat, bertarung hebat meredam insting binatangnya agar tidak langsung menerkam wanita ini dan merobek sisa pakaiannya.
Seragam Arnol akhirnya terbuka lebar menampakkan tubuh atletisnya. Otot dada yang keras, perut kotak-kotak yang terbentuk dari angkat beban, dan bisepnya yang kokoh terpampang nyata. Liliana terdiam sejenak mengagumi pahatan fisik bawahannya.
Ia menyentuh perut Arnol, meraba tekstur keras dari otot yang seumur hidup hanya bisa ia impikan ada pada suaminya yang ringkih.
“Ternyata bukan cuma tenagamu buat ngangkat brankas yang besar.”
Liliana berbisik sensual. Pandangannya perlahan merambat turun. Tangan nakalnya bergerak gesit tanpa peringatan menuju area ikat pinggang celana kargo Arnol.
Dengan satu tarikan mulus, Liliana membuka ritsleting celana Arnol hingga ke bawah.
Saat menatap lurus pada apa yang tersembunyi di balik kain celana dalam pria itu, mata Liliana seketika melebar sempurna. Mulutnya sedikit terbuka, terkejut bukan main melihat ukuran yang menyembul menantang.
“Astaga.” Liliana bergumam tak percaya. “Ini ukuran lokal atau barang impor dari luar negeri?”
Arnol merasa wajahnya memanas hebat karena malu sekaligus bangga atas warisan genetiknya. Ia menutup matanya dengan sebelah tangan sambil memalingkan wajah.
“Afrika, Nyonya.”
Liliana terdiam kaku. Otaknya secara otomatis memproses perbandingan yang sangat jauh. Suaminya yang selalu bermodal bacot itu persis seperti ulat bulu kepanasan saat di ranjang, sementara kuli di depannya ini memiliki pusaka yang ukurannya di luar nalar. Ini jelas bibit unggul kualitas premium.
Melihat Liliana yang mendadak diam membisu, kesabaran Arnol akhirnya menguap habis. Ia bukan patung manekin yang bisa disentuh, dipuji, lalu dibiarkan kedinginan begitu saja.
Kalau Nyonya cuma mau lihat-lihat barang dagangan doang tanpa berani nyobain, lebih baik saya kancingin lagi celana saya dan pulang sekarang juga.
Sebelum Liliana sempat merespons kalimat sarkas itu, kedua tangan besar Arnol melesat cepat meraih pinggang ramping wanita itu. Dengan satu tarikan paksa yang sangat kuat, Arnol menarik tubuh Liliana hingga wanita itu terhuyung ke depan.
“Akh!”
Liliana tersentak kaget tatkala tubuhnya jatuh duduk mengangkang tepat di atas pangkuan Arnol. Bemper belakangnya menabrak telak pada traktor Arnol yang menegang brutal dari balik kain celana.
“Kamu nggak akan menarik kata-katamu soal transaksi tadi, kan?”
Bisikan tajam Arnol menggetarkan telinga Liliana. Hierarki bos dan bawahan resmi hancur berkeping-keping.
Tangan kanan Arnol menyusup agresif ke belakang tengkuk Liliana, mencengkeram helaian rambut wanita itu untuk mengunci pergerakannya agar tidak bisa mundur seinci pun. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arnol memajukan wajahnya dan langsung melumat Liliana.
Aroma lipstik rasa stroberi langsung memenuhi indera pengecap Arnol. Ia mencium majikannya dengan beringas, menuntut balasan, dan mendominasi permainan. Seluruh hasrat yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya meledak tanpa ampun.
Liliana awalnya terkejut menerima serangan frontal itu. Namun sedetik kemudian, tangannya melingkar erat di leher Arnol, membalas lumatan sang pelayan dengan gairah yang sama liarnya.
Tangan kiri Arnol tidak tinggal diam. Jari-jarinya merayap cepat ke punggung Liliana, menemukan kaitan bra merah marun itu. Dengan satu sentilan ahli, kaitan itu terlepas. Beban di dada Liliana melonggar sepenuhnya, membuat dua gundukan kenyal itu bergesekan langsung dengan dada telanjang Arnol.
Arnol mulai menaikkan tangannya, bersiap menyentuh puncak keindahan yang sejak tadi menggoda kewarasannya, membawa mereka berdua ke tepi jurang kenikmatan tabu yang tak terhindarkan.
“Cih, kenapa diam?”Dorongan tiba-tiba dari kedua tangan Liliana tepat di bagian dadamembuat Arnol kehilangan keseimbangan. Pria itu terhuyung mundur dua langkah,lalu jatuh terduduk dengan posisi canggung di atas sofa kulit panjang di tengahruangan.“Nyonya.” Napas Arnol tercekat di tenggorokan.Matanya terpaku menatap Liliana yang kini berdiri menjulang tepat dihadapannya. Senyum sinis namun penuh gairah menghiasi wajah cantik wanita itu.“Aku nggak suka buang-buang waktu berharga.” Suara Liliana berubah serakdan mendalam.Tanpa sedikit pun keraguan, wanita modis itu mengangkat kedua tangannya.Jari-jari lentiknya mulai menanggalkan kancing kemeja sutra kerjanya satu persatu dari atas ke bawah. Kain mahal itu meluncur jatuh bebas ke atas karpetmarmer.“Gusti.” Arnol membatin panik.Pemandangan di depannya sukses membuat otak Arnol korslet permanen.Liliana kini hanya menyisakan bra renda tipis berwarna merah marun yangmembungkus erat dua gunung kembarnya. Dua gundukan kenyal
“Nyonya.” Arnol menelan ludah susah payah.Liliana tidak menyahut. Senyum miring yang terukir di bibir merahnyamengisyaratkan dominasi mutlak. Wanita modis itu melangkah menjauh dari pintudengan tempo lambat yang sengaja dibuat-buat.Ayunan pinggulnya menciptakan ritme visual yang mengintimidasi sekaligusmenggoda iman. Ia berjalan memutar mengelilingi sofa kulit, lalu menjatuhkantubuhnya dengan elegan di atas kursi kebesaran suaminya.“Buka pintunya.” Arnol memohon pelan.“Kenapa buru-buru? Bukannya tadi kamu bilang perutmu mulas mau mencret?Sekarang kelihatannya kamu sehat-sehat saja.”Sindiran tajam itu menelanjangi kebohongan konyol Arnol. Pria itumenunduk dalam, meremas ujung kemeja seragamnya hingga kusut.“Nyonya, saya mohon dengan sangat. Biarkan saya ngerjain tugas saya.Kalau Nyonya marah soal kejadian tadi, saya berani sumpah potong jari nggakakan bocor ke siapa pun soal kelakuan Bapak. Tolong jangan hukum saya pakaicara begini. Kalau sampai ada orang luar yang tahu
Kewarasan Arnol nyaris putus mendengarnya. Logikanya bekerja sangatkeras mengingatkan bahwa ini adalah zona bahaya tingkat dewa yang bisamembuatnya dijebloskan ke penjara atau dipecat tanpa pesangon.“Nyonya!” Arnol tiba-tiba berseru nyaring.Liliana sedikit tersentak kaget lalu menarik tangannya. “Apa?”“Maaf!” Arnol buru-buru membungkuk.Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menciptakan alasan paling absurdyang bisa dipikirkan otak paniknya.“Saya baru ingat ada panggilan mendadak dari Pak Supervisor di lantaibawah buat bersihin toilet lobi sekarang juga! Terus saya juga tiba-tibakebelet buang air besar karena kebanyakan makan sambal terasi basi tadi pagi!Perut saya mulas parah sampai mau mencret di celana, Nyonya! Saya permisi turundulu sebelum meledak di ruangan Nyonya ini!”Arnol langsung melepaskan gagang troli dan memutar tubuhnya seratusdelapan puluh derajat.“Hei!”“Mau ke mana kamu, Arnol?! Aku belum selesai bicara sama kamu soalurusan kita ini! Jangan berani-berani
“Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati aja kamusana!”Arnol sontak menoleh ke arah pintu.Seketika, tangisan pilu wanita di hadapannya lenyap tak bersisa seiringusapan kasar jari lentiknya pada sisa air mata di pipi. Wajah yang tadinyamemelas itu langsung berubah sinis.“Nyonya?” Arnol mengerjap.Liliana mendengus kasar sambil berkacak pinggang menatap pintu yangtertutup rapat.“Kamu pikir aku sungguhan peduli sama semua ocehannya tadi? Gila aja akusampai harus akting nangis bombay biar egonya yang rapuh itu merasa menang.Coba kalau aku ngelawan sedikit, ocehan cerewetnya pasti bisa sampai besok paginggak bakal berhenti. Kupingku bisa bernanah dengerin suaranya yang cemprengkayak knalpot bocor.”Lantaran salah tingkah, Arnol hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidakgatal.“Iya.”“Kamu pasti sering denger kita berantem kan tiap kali kamu bersihinlorong depan? Ngaku aja, semua pegawai di lantai ini pasti udah hafal kelakuanAndra.”“Kadang-kadang.” Arno
“Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yangbertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasapengap.Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakankasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat pekerjaan kasar. Entahitu kuli, angkat barang, benerin listri, ngepel, dan lainnya.Yang pasti, pekerjaan Arnol hanya pekerjaan biasa saja.“Masuk, Pak Maman. Ada apa lagi ini? Pinggang saya rasanya udah maucopot,” jawab Arnol sambil menekan tombol PTT pada alat komunikasi tersebut.Napasnya masih ngos-ngosan.“Banyak ngeluh kamu! Tinggalkan kardus arsip itu sekarang. Naik kelantai eksekutif. Ke ruang CEO. Ada brankas raksasa yang harus kamu pindahkanke troli,” perintah Pak Maman tanpa basa-basi.Arnol membelalakkan matanya. “Waduh, ke ruangan Pak Andra? Brankasnyaisi apa, Pak? Emas batangan atau isi dosa perusahaan? Kok tumben banget kulimacam saya yang disuruh ke ruang bos besar?”“