Compartir

Bab 5 Ukuran Afrika

last update Fecha de publicación: 2026-03-05 15:13:33

“Cih, kenapa diam?”

Dorongan tiba-tiba dari kedua tangan Liliana tepat di bagian dada membuat Arnol kehilangan keseimbangan. Pria itu terhuyung mundur dua langkah, lalu jatuh terduduk dengan posisi canggung di atas sofa kulit panjang di tengah ruangan.

“Nyonya.” Napas Arnol tercekat di tenggorokan.

Matanya terpaku menatap Liliana yang kini berdiri menjulang tepat di hadapannya. Senyum sinis namun penuh gairah menghiasi wajah cantik wanita itu.

“Aku nggak suka buang-buang waktu berharga.” Suara Liliana berubah serak dan mendalam.

Tanpa sedikit pun keraguan, wanita modis itu mengangkat kedua tangannya. Jari-jari lentiknya mulai menanggalkan kancing kemeja sutra kerjanya satu per satu dari atas ke bawah. Kain mahal itu meluncur jatuh bebas ke atas karpet marmer.

“Gusti.” Arnol membatin panik.

Pemandangan di depannya sukses membuat otak Arnol korslet permanen. Liliana kini hanya menyisakan bra renda tipis berwarna merah marun yang membungkus erat dua gunung kembarnya. Dua gundukan kenyal itu terlihat sangat penuh dan montok, nyaris tumpah membelah cup bra yang menahannya mati-matian.

Kulit wanita itu yang seputih susu dan mulus tanpa cacat mencetak kontras tajam di bawah cahaya lampu ruangan. Lelaki mana yang sanggup mempertahankan kewarasan melihat pemandangan kualitas dewa ini secara langsung dengan jarak sedekat ini.

“Kenapa? Kurang cantik dari bayangan kasarmu di ruang bawah tanah?”

Godaan nakal itu meluncur saat Liliana melangkah maju. Ia terus bergerak hingga kedua lututnya yang terbalut rok span menabrak pelan lutut Arnol yang sedang duduk mengangkang.

Liliana membungkuk perlahan, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Arnol yang sedang menegang tegang. Tangannya terulur menyentuh kerah seragam Arnol, lalu mulai melepaskan kancing kemeja kuli pria itu dengan gerakan lambat yang memprovokasi.

Setiap kali kancing terlepas, ujung jari Liliana sengaja menggores kulit dada bidang Arnol.

Tahan, Nol. Jangan langsung barbar kayak anjing kelaparan. Ini bidadari nyasar, jangan dibikin lecet.

Arnol memejamkan matanya kuat-kuat, bertarung hebat meredam insting binatangnya agar tidak langsung menerkam wanita ini dan merobek sisa pakaiannya.

Seragam Arnol akhirnya terbuka lebar menampakkan tubuh atletisnya. Otot dada yang keras, perut kotak-kotak yang terbentuk dari angkat beban, dan bisepnya yang kokoh terpampang nyata. Liliana terdiam sejenak mengagumi pahatan fisik bawahannya.

Ia menyentuh perut Arnol, meraba tekstur keras dari otot yang seumur hidup hanya bisa ia impikan ada pada suaminya yang ringkih.

“Ternyata bukan cuma tenagamu buat ngangkat brankas yang besar.”

Liliana berbisik sensual. Pandangannya perlahan merambat turun. Tangan nakalnya bergerak gesit tanpa peringatan menuju area ikat pinggang celana kargo Arnol.

Dengan satu tarikan mulus, Liliana membuka ritsleting celana Arnol hingga ke bawah.

Saat menatap lurus pada apa yang tersembunyi di balik kain celana dalam pria itu, mata Liliana seketika melebar sempurna. Mulutnya sedikit terbuka, terkejut bukan main melihat ukuran yang menyembul menantang.

“Astaga.” Liliana bergumam tak percaya. “Ini ukuran lokal atau barang impor dari luar negeri?”

Arnol merasa wajahnya memanas hebat karena malu sekaligus bangga atas warisan genetiknya. Ia menutup matanya dengan sebelah tangan sambil memalingkan wajah.

“Afrika, Nyonya.”

Liliana terdiam kaku. Otaknya secara otomatis memproses perbandingan yang sangat jauh. Suaminya yang selalu bermodal bacot itu persis seperti ulat bulu kepanasan saat di ranjang, sementara kuli di depannya ini memiliki pusaka yang ukurannya di luar nalar. Ini jelas bibit unggul kualitas premium.

Melihat Liliana yang mendadak diam membisu, kesabaran Arnol akhirnya menguap habis. Ia bukan patung manekin yang bisa disentuh, dipuji, lalu dibiarkan kedinginan begitu saja.

Kalau Nyonya cuma mau lihat-lihat barang dagangan doang tanpa berani nyobain, lebih baik saya kancingin lagi celana saya dan pulang sekarang juga.

Sebelum Liliana sempat merespons kalimat sarkas itu, kedua tangan besar Arnol melesat cepat meraih pinggang ramping wanita itu. Dengan satu tarikan paksa yang sangat kuat, Arnol menarik tubuh Liliana hingga wanita itu terhuyung ke depan.

“Akh!”

Liliana tersentak kaget tatkala tubuhnya jatuh duduk mengangkang tepat di atas pangkuan Arnol. Bemper belakangnya menabrak telak pada traktor Arnol yang menegang brutal dari balik kain celana.

“Kamu nggak akan menarik kata-katamu soal transaksi tadi, kan?”

Bisikan tajam Arnol menggetarkan telinga Liliana. Hierarki bos dan bawahan resmi hancur berkeping-keping.

Tangan kanan Arnol menyusup agresif ke belakang tengkuk Liliana, mencengkeram helaian rambut wanita itu untuk mengunci pergerakannya agar tidak bisa mundur seinci pun. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arnol memajukan wajahnya dan langsung melumat Liliana.

Aroma lipstik rasa stroberi langsung memenuhi indera pengecap Arnol. Ia mencium majikannya dengan beringas, menuntut balasan, dan mendominasi permainan. Seluruh hasrat yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya meledak tanpa ampun.

Liliana awalnya terkejut menerima serangan frontal itu. Namun sedetik kemudian, tangannya melingkar erat di leher Arnol, membalas lumatan sang pelayan dengan gairah yang sama liarnya.

Tangan kiri Arnol tidak tinggal diam. Jari-jarinya merayap cepat ke punggung Liliana, menemukan kaitan bra merah marun itu. Dengan satu sentilan ahli, kaitan itu terlepas. Beban di dada Liliana melonggar sepenuhnya, membuat dua gundukan kenyal itu bergesekan langsung dengan dada telanjang Arnol.

Arnol mulai menaikkan tangannya, bersiap menyentuh puncak keindahan yang sejak tadi menggoda kewarasannya, membawa mereka berdua ke tepi jurang kenikmatan tabu yang tak terhindarkan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 15 Perhatian kecil

    Keduanya melangkah masuk ke dalam lift. Keheningan yang pekat seketika menyelimuti ruang sempit itu. Arnol, yang pada dasarnya memang seorang pria pendiam, hanya bisa mengikuti situasi dengan cermat.Namun, benaknya tidak bisa tenang. Satu pertanyaan besar terus berputar di kepala Arnol: apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh sang nyonya setelah melihat suaminya sendiri bermesraan dengan wanita lain? Tidakkah ada secuil saja rasa marah, kecewa, atau cemburu yang bergejolak di dada wanita itu?"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Arnol akhirnya, memecah kesunyian.Ia menatap punggung tegap sang nyonya. Namun, tidak ada respons sedikit pun dari wanita itu. Mengerti bahwa keheningan itu adalah isyarat bahwa sang nyonya sedang tidak ingin diganggu atau berbagi cerita, Arnol memilih untuk kembali mengunci mulutnya.Ting! Suara lift terdengar, disusul pintu yang mendenting terbuka."Nanti akan kuhubungi lagi," jawab Liliana dingin tanpa menoleh, lalu melangkah cepat keluar dari lift dan

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 14 Ketahuan?

    Pakaian mereka telah kembali rapi dan sempurna seperti semula. Sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa beberapa menit lalu, keduanya baru saja terlibat dalam pergumulan yang intim dan panas. Liliana sendiri tampak sibuk merapikan tatanan pakaiannya, atau bahkan sibuk melihat riasannya. Setelah merasa cukup ia menatap Arnol yang kini sudah rapi berdiri tak jauh dari Liliana."Aku yang akan menghubungi jika ada keperluan. Kamu dilarang keras menghubungiku lebih dulu. Terlalu rawan," ujar Liliana dingin sembari menyampirkan tasnya di bahu, kembali menatap penampilannya di cermin.Arnol yang berdiri tak jauh dari wanita itu mengangguk mengerti. Lagipula, ia tidak punya alasan untuk menghubungi Liliana. Waktunya terlalu berharga, dan ia lebih memilih menghabiskan waktu luangnya untuk menjaga ibunya. Karena itu Arnol hanya bisa mengiyakan dalam hati diiringi sebuah anggukan."Baiklah untuk hari ini selesai. Ingat untuk mengkomsumsi makanan yang bergisi, aku tak mau bibit ya

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 13 Puas nyonya

    Di bawah siraman cahaya lampu temaram yang hangat, keheningan di antara Liliana dan Arnol melebur menjadi atmosfer yang sarat akan gairah, memang mereka menjalankan kontrak bisnis, tapi ada hasrat pribadi yag diluar dari kendali kontrak. Ada dahaga yang Liliana ingin tuntaskan.Gengsi yang selama ini Liliana pertahankan runtuh begitu saja di hadapan pesona maskulin sang kuli. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Arnol menundukkan wajahnya dan langsung mengunci bibir Liliana dalam sebuah ciuman yang mendalam.Liliana refleks terpejam, tubuhnya berdesir hebat saat belahan bibirnya disapu oleh pria di hadapannya. Semula itu hanya berupa pagutan lembut, namun lama-kelamaan Arnol mulai mengubah ritmenya menjadi lebih agresif. Lidahnya bergerak menjelajahi rongga mulut Liliana, memarkirkan dominasi mutlak yang membuat seluruh persendian wanita itu seketika terasa lemas.Liliana terdiam, kenapa lelaki ini berubah jadi lebih ahli dari sebelumnya, apakah Arnol memang ahli dalam hal ini, tapi

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 12 Hotel

    Liliana menatap ke luar jendela. Tampak seorang lelaki tengah berdiri di dekat pintu mobilnya sembari sedikit menundukkan kepala dengan takzim.Liliana perlahan menurunkan kaca jendela mobilnya."Ada apa?" tanya Liliana dengan nada suara yang sengaja dibuat ketus."Mohon maaf karena telah membuat Nyonya menunggu terlalu lama," ucap lelaki itu dengan suara yang terdengar sopan.Liliana seketika terbungkam. Ia menatap syok ke arah lelaki yang baru saja mengajaknya bicara."Arnol?" tanya Liliana, memastikan pendengarannya tidak salah.Lelaki itu mengangguk pelan mengiyakan. "Benar, Nyonya."Liliana sendiri dibuat benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya. Lelaki yang biasanya selalu datang dengan penampilan kumal dan berantakan itu kini telah berubah drastis. Rambutnya yang biasa dibiarkan berantakan tanpa pernah disisir, kini terlihat pendek dan tersusun rapi.Tanpa penutup rambut yang acak-acakan seperti dulu, kini alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung sempurna

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 11 Berbelanja

    Rentetan pekerjaan berat yang menguras fisik akhirnya selesai Arnol lakukan. Kini, seluruh tubuhnya dipenuhi oleh debu dan cucuran keringat yang membuat aroma tubuhnya menjadi tidak sedap. Keadaan ini membuat Arnol cemas, apalagi sebentar lagi ia harus bertemu dengan Liliana untuk membahas "bisnis pribadi" mereka."Sepertinya aku harus segera bersiap-siap. Tidak mungkin, kan, aku menemui Nyonya dengan aroma tubuh seperti tikus got begini?" batin Arnol.Ia sempat mengendus lengan bajunya sendiri sekilas. Detik itu juga, ekspresi wajahnya langsung berkerut masam. Bau keringat yang menyengat itu sukses membuat dirinya sendiri merasa agak risih, apalagi jika sampai terhirup oleh hidung sensitif Nyonya Liliana yang terbiasa dengan kemewahan."Nol, kenapa kau malah diam saja di sana?" tanya sang teman kuli, memecah lamunan Arnol yang sedari tadi hanya terdiam, hal itu membuat Arnol tersentak.Sore ini, mereka dijadwalkan harus kembali ke kantor pusat terlebih dahulu untuk setor absensi, se

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 10 Kontak komunikasi

    Informasi yang dijelaskan oleh dokter semalam sukses membuat Arnol tidak bisa memejamkan mata semalaman. Pikirannya terus berputar tanpa henti, menghitung nominal uang yang masih kurang untuk biaya pengobatan, serta memutar otak bagaimana caranya mencari tambahan dalam waktu dekat. Saat ini ia hanya mengantongi uang lebih dari delapan puluh juta, ia masih membutuhkan uang yang sangat banyak."Anak muda zaman sekarang... pagi-pagi begini kok sudah bengong saja," ledek seorang pria paruh baya yang merupakan sesama pekerja kuli di sana.Arnol menoleh, lalu menatap pria itu dengan tatapan ramah sembari memaksakan sebuah senyuman tipis di wajah lelahnya."Aku hanya sedang berpikir, Paman. Kenapa uang rasanya sulit sekali untuk didapatkan, ya?" ucap Arnol pelan sambil menepuk-nepuk barang yang ada di sampingnya."Ya karena uang itu istimewa, makanya sulit didapatkan," jawab lelaki itu santai sembari menyulut sebatang rokok. "Seandainya daun yang dianggap istimewa oleh manusia, aku yakin saa

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 4 Deal

    “Nyonya.” Arnol menelan ludah susah payah.Liliana tidak menyahut. Senyum miring yang terukir di bibir merahnyamengisyaratkan dominasi mutlak. Wanita modis itu melangkah menjauh dari pintudengan tempo lambat yang sengaja dibuat-buat.Ayunan pinggulnya menciptakan ritme visual yang mengintimidasi

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 3 Nyonya Beringas

    Kewarasan Arnol nyaris putus mendengarnya. Logikanya bekerja sangatkeras mengingatkan bahwa ini adalah zona bahaya tingkat dewa yang bisamembuatnya dijebloskan ke penjara atau dipecat tanpa pesangon.“Nyonya!” Arnol tiba-tiba berseru nyaring.Liliana sedikit tersentak kaget lalu menarik tangannya

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 2 Masa Kamu Kepanasan?

    “Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati aja kamusana!”Arnol sontak menoleh ke arah pintu.Seketika, tangisan pilu wanita di hadapannya lenyap tak bersisa seiringusapan kasar jari lentiknya pada sisa air mata di pipi. Wajah yang tadinyamemelas itu langsung berubah sinis.“N

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 1 Dasar Istri Mandul!

    “Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yangbertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasapengap.Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakankasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status