MasukKewarasan Arnol nyaris putus mendengarnya. Logikanya bekerja sangat keras mengingatkan bahwa ini adalah zona bahaya tingkat dewa yang bisa membuatnya dijebloskan ke penjara atau dipecat tanpa pesangon.
“Nyonya!” Arnol tiba-tiba berseru nyaring.
Liliana sedikit tersentak kaget lalu menarik tangannya. “Apa?”
“Maaf!” Arnol buru-buru membungkuk.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menciptakan alasan paling absurd yang bisa dipikirkan otak paniknya.
“Saya baru ingat ada panggilan mendadak dari Pak Supervisor di lantai bawah buat bersihin toilet lobi sekarang juga! Terus saya juga tiba-tiba kebelet buang air besar karena kebanyakan makan sambal terasi basi tadi pagi! Perut saya mulas parah sampai mau mencret di celana, Nyonya! Saya permisi turun dulu sebelum meledak di ruangan Nyonya ini!”
Arnol langsung melepaskan gagang troli dan memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat.
“Hei!”
“Mau ke mana kamu, Arnol?! Aku belum selesai bicara sama kamu soal urusan kita ini! Jangan berani-berani lari dari sini sebelum aku kasih izin keluar! Balik ke sini sekarang juga atau aku potong gajimu bulan ini!”
Akibat panik luar biasa yang menguasai akal sehat, Arnol memilih mengabaikan ancaman tersebut. Ia mendorong pintu ganda itu menggunakan bahunya secara kasar.
Langkah kakinya berdentum keras di sepanjang lorong sepi. Ia terus berlari kencang menyusuri tangga darurat, melompati dua anak tangga sekaligus seolah nyawanya sedang dikejar malaikat maut.
Menjauhi pesona mematikan istri bosnya adalah satu-satunya cara demi menyelamatkan harga diri dan kewarasannya hari ini.
Napas Arnol tersengal-sengal brutal tatkala ia menabrak pintu ganda ruang basecamp Cleaning Service di lantai dasar.
“Kamu kenapa, Nol? Muka udah kayak habis ketemu kuntilanak siang bolong.” Suara berat Pak Maman menyapa telinga Arnol.
Kepala divisi cleaning service itu sedang asyik bersandar di kursi plastik panjang sembari menyeruput kopi hitam panasnya. Asap rokok mengepul tipis dari sela-sela jarinya.
“Sumpah.” Arnol mengatur napas.
Ia merangkak naik dan menghempaskan bokongnya ke kursi di seberang meja Pak Maman. Tangannya gemetar menyambar botol air mineral bekas dan menegaknya rakus hingga tandas setengah.
“Pelan-pelan minumnya, nanti keselek mati kamu di sini.” Pak Maman terkekeh pelan. “Ada apa di atas? Kamu dimaki-maki habis-habisan sama Pak Andra gara-gara lambat pindahin brankas?”
“Bukan.” Arnol menggeleng kuat.
“Terus kenapa kamu lari sampai ngos-ngosan begitu? Ketahuan nyuri pulpen mahal di meja bos?”
Gila aja lo mikir gue nyolong pulpen. Ini lebih ngeri dari sekadar dituduh maling, Pak. Nyonya Liliana tadi cerita yang aneh-aneh soal urusan ranjangnya sama Bapak. Terus dia natep saya beringas banget kayak harimau kelaparan lihat mangsa empuk. Dia megang-megang bisep saya segala. Sumpah, mending saya lari sebelum dituduh yang nggak-nggak.
Mendengar rentetan kepanikan itu, tawa Pak Maman pecah seketika. Pria paruh baya itu menggelengkan kepala memaklumi kepolosan bawahan mudanya.
“Santai.” Pak Maman menepuk meja.
“Apanya yang santai? Istri bos godain kuli, Pak. Ini ancaman PHK massal buat saya!”
Halah, kamu ini kelewat penakut. Drama rumah tangga Pak Andra itu bukan rahasia lagi di kantor ini. Tiap minggu kerjanya ribut melulu sampai asbak terbang. Nyonya Liliana itu cuma butuh tempat pelampiasan emosi sesaat karena suaminya kabur duluan. Dia ngerasa kesepian aja makanya cari perhatian ke kamu.
Arnol mengusap wajah kasarnya dengan putus asa.
“Tetep aja bahaya.”
“Dengar ya, Nol. Kalau kamu menghadapi orang kaya yang lagi tantrum begitu, kuncinya cuma satu. Turuti saja maunya. Kamu diam, kamu dengar, kamu angguk-angguk. Beres urusan. Kalau kamu malah lari begini dan kerjaan utamamu mindahin brankas ditinggal, itu baru bahaya beneran buat periuk nasimu.”
Seketika, realitas pahit menghantam kepala Arnol. Brankas raksasa itu masih bertengger manis di atas troli di tengah ruang CEO.
“Mati.” Arnol menepuk jidatnya keras-keras.
Gimana ini, Pak? Kalau saya balik ke atas sekarang, Nyonya Liliana pasti masih nungguin buat ngamuk karena saya tinggal lari. Tapi kalau saya nggak balik, brankasnya nggak pindah. Ibu saya butuh duit buat nebus biaya rawat inap besok pagi. Kalau SP 3 saya turun hari ini, kelar hidup saya.
“Makanya jangan—”
Brak!
Suara bantingan kasar dari arah pintu membungkam ucapan Pak Maman. Sara, sekretaris pribadi sang CEO yang terkenal dengan julukan nenek sihir korporat, menerobos masuk tanpa permisi. Kacamata bacanya bertengger tajam di ujung hidung mancungnya.
“Ternyata di sini kamu ngumpet, kuli pemalas!”
Arnol meloncat berdiri layaknya tentara yang dikomando.
“Mbak Sara.”
Sara berkacak pinggang menatap Arnol penuh gurat sinis. Ujung sepatu hak tingginya mengetuk lantai tak sabaran.
“Kamu pikir, kamu lagi liburan di panti jompo? Brankas di ruangan Bapak masih di tengah jalan menghalangi pintu masuk. Kerjaanmu ini nggak becus amat sih! Nyonya Liliana dari tadi nungguin kamu balik ke atas sampai marah-marah ke meja resepsionis. Cepat naik ke sana sekarang atau aku telepon HRD detik ini juga!”
Ancaman langsung dari tangan kanan CEO itu sukses menciutkan sisa nyali yang Arnol miliki. Terbayang wajah ibunya yang pucat pasi berbaring di bangsal kelas tiga rumah sakit. Tidak ada ruang untuk ego atau ketakutan saat nyawa keluarga menjadi taruhannya.
“Sakit perut.” Arnol beralasan lemah.
“Bodo amat mau ususmu melilit atau meledak sekalian. Naik ke lantai eksekutif sekarang! Nyonya mintanya cuma kamu yang beresin ruangan itu. Nggak usah panggil kuli lain buat gantiin.”
Tanpa memberikan kesempatan membantah, Sara membalikkan badan dan melenggang pergi meninggalkan ruangan pengap tersebut.
“Balik sana.” Pak Maman memberi isyarat dagu.
Langkah gontai menyeret sepatu bot kotornya kembali menyusuri lorong menuju lift barang. Setiap meter yang ia tempuh terasa sepuluh kali lipat lebih berat. Otaknya merangkai ratusan skenario pemecatan yang akan menimpanya di atas sana.
“Gatot, tolong lu tidur yang nyenyak aja di dalem situ. Jangan bikin masalah baru.” Arnol membatin miris menundukkan pandangannya.
Pintu lift terbuka di lantai eksekutif.
Perlahan, telapak tangan Arnol yang kapalan memutar kenop pintu kayu jati tersebut. Ruangan super mewah itu tampak kosong melompong dari ambang pintu. Troli besi beserta brankas raksasanya masih bergeming di posisi terakhir kali ia tinggalkan.
“Syukurlah.” Arnol menghembuskan napas lega paripurna.
Arnol melangkah masuk dengan bahu merosot santai. Ia meraih gagang troli bersiap mendorongnya keluar. Namun, baru saja ia memutar arah roda troli, sebuah bunyi tajam dari arah belakang sukses membekukan aliran darahnya.
Klek.
Panik, kepala Arnol berputar cepat ke arah pintu.
Nyonya Liliana berdiri bersandar santai di depan pintu masuk yang tertutup rapat. Tangan lentiknya baru saja memutar slot pengunci ganda. Wanita itu kemudian menarik kunci peraknya dan dengan sengaja memasukkannya jauh ke dalam saku rok ketatnya.
“Kamu pikir, kamu bisa lari begitu saja dariku, Arnol?”
“Cih, kenapa diam?”Dorongan tiba-tiba dari kedua tangan Liliana tepat di bagian dadamembuat Arnol kehilangan keseimbangan. Pria itu terhuyung mundur dua langkah,lalu jatuh terduduk dengan posisi canggung di atas sofa kulit panjang di tengahruangan.“Nyonya.” Napas Arnol tercekat di tenggorokan.Matanya terpaku menatap Liliana yang kini berdiri menjulang tepat dihadapannya. Senyum sinis namun penuh gairah menghiasi wajah cantik wanita itu.“Aku nggak suka buang-buang waktu berharga.” Suara Liliana berubah serakdan mendalam.Tanpa sedikit pun keraguan, wanita modis itu mengangkat kedua tangannya.Jari-jari lentiknya mulai menanggalkan kancing kemeja sutra kerjanya satu persatu dari atas ke bawah. Kain mahal itu meluncur jatuh bebas ke atas karpetmarmer.“Gusti.” Arnol membatin panik.Pemandangan di depannya sukses membuat otak Arnol korslet permanen.Liliana kini hanya menyisakan bra renda tipis berwarna merah marun yangmembungkus erat dua gunung kembarnya. Dua gundukan kenyal
“Nyonya.” Arnol menelan ludah susah payah.Liliana tidak menyahut. Senyum miring yang terukir di bibir merahnyamengisyaratkan dominasi mutlak. Wanita modis itu melangkah menjauh dari pintudengan tempo lambat yang sengaja dibuat-buat.Ayunan pinggulnya menciptakan ritme visual yang mengintimidasi sekaligusmenggoda iman. Ia berjalan memutar mengelilingi sofa kulit, lalu menjatuhkantubuhnya dengan elegan di atas kursi kebesaran suaminya.“Buka pintunya.” Arnol memohon pelan.“Kenapa buru-buru? Bukannya tadi kamu bilang perutmu mulas mau mencret?Sekarang kelihatannya kamu sehat-sehat saja.”Sindiran tajam itu menelanjangi kebohongan konyol Arnol. Pria itumenunduk dalam, meremas ujung kemeja seragamnya hingga kusut.“Nyonya, saya mohon dengan sangat. Biarkan saya ngerjain tugas saya.Kalau Nyonya marah soal kejadian tadi, saya berani sumpah potong jari nggakakan bocor ke siapa pun soal kelakuan Bapak. Tolong jangan hukum saya pakaicara begini. Kalau sampai ada orang luar yang tahu
Kewarasan Arnol nyaris putus mendengarnya. Logikanya bekerja sangatkeras mengingatkan bahwa ini adalah zona bahaya tingkat dewa yang bisamembuatnya dijebloskan ke penjara atau dipecat tanpa pesangon.“Nyonya!” Arnol tiba-tiba berseru nyaring.Liliana sedikit tersentak kaget lalu menarik tangannya. “Apa?”“Maaf!” Arnol buru-buru membungkuk.Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menciptakan alasan paling absurdyang bisa dipikirkan otak paniknya.“Saya baru ingat ada panggilan mendadak dari Pak Supervisor di lantaibawah buat bersihin toilet lobi sekarang juga! Terus saya juga tiba-tibakebelet buang air besar karena kebanyakan makan sambal terasi basi tadi pagi!Perut saya mulas parah sampai mau mencret di celana, Nyonya! Saya permisi turundulu sebelum meledak di ruangan Nyonya ini!”Arnol langsung melepaskan gagang troli dan memutar tubuhnya seratusdelapan puluh derajat.“Hei!”“Mau ke mana kamu, Arnol?! Aku belum selesai bicara sama kamu soalurusan kita ini! Jangan berani-berani
“Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati aja kamusana!”Arnol sontak menoleh ke arah pintu.Seketika, tangisan pilu wanita di hadapannya lenyap tak bersisa seiringusapan kasar jari lentiknya pada sisa air mata di pipi. Wajah yang tadinyamemelas itu langsung berubah sinis.“Nyonya?” Arnol mengerjap.Liliana mendengus kasar sambil berkacak pinggang menatap pintu yangtertutup rapat.“Kamu pikir aku sungguhan peduli sama semua ocehannya tadi? Gila aja akusampai harus akting nangis bombay biar egonya yang rapuh itu merasa menang.Coba kalau aku ngelawan sedikit, ocehan cerewetnya pasti bisa sampai besok paginggak bakal berhenti. Kupingku bisa bernanah dengerin suaranya yang cemprengkayak knalpot bocor.”Lantaran salah tingkah, Arnol hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidakgatal.“Iya.”“Kamu pasti sering denger kita berantem kan tiap kali kamu bersihinlorong depan? Ngaku aja, semua pegawai di lantai ini pasti udah hafal kelakuanAndra.”“Kadang-kadang.” Arno
“Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yangbertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasapengap.Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakankasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat pekerjaan kasar. Entahitu kuli, angkat barang, benerin listri, ngepel, dan lainnya.Yang pasti, pekerjaan Arnol hanya pekerjaan biasa saja.“Masuk, Pak Maman. Ada apa lagi ini? Pinggang saya rasanya udah maucopot,” jawab Arnol sambil menekan tombol PTT pada alat komunikasi tersebut.Napasnya masih ngos-ngosan.“Banyak ngeluh kamu! Tinggalkan kardus arsip itu sekarang. Naik kelantai eksekutif. Ke ruang CEO. Ada brankas raksasa yang harus kamu pindahkanke troli,” perintah Pak Maman tanpa basa-basi.Arnol membelalakkan matanya. “Waduh, ke ruangan Pak Andra? Brankasnyaisi apa, Pak? Emas batangan atau isi dosa perusahaan? Kok tumben banget kulimacam saya yang disuruh ke ruang bos besar?”“