Home / Male Adult / Kuli Panggul Kesayangan Nyonya / Bab 2 Masa Kamu Kepanasan?

Share

Bab 2 Masa Kamu Kepanasan?

Author: Elva Larissa
last update Last Updated: 2026-03-05 15:11:25

“Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati aja kamu sana!”

Arnol sontak menoleh ke arah pintu.

Seketika, tangisan pilu wanita di hadapannya lenyap tak bersisa seiring usapan kasar jari lentiknya pada sisa air mata di pipi. Wajah yang tadinya memelas itu langsung berubah sinis.

“Nyonya?” Arnol mengerjap.

Liliana mendengus kasar sambil berkacak pinggang menatap pintu yang tertutup rapat.

“Kamu pikir aku sungguhan peduli sama semua ocehannya tadi? Gila aja aku sampai harus akting nangis bombay biar egonya yang rapuh itu merasa menang. Coba kalau aku ngelawan sedikit, ocehan cerewetnya pasti bisa sampai besok pagi nggak bakal berhenti. Kupingku bisa bernanah dengerin suaranya yang cempreng kayak knalpot bocor.”

Lantaran salah tingkah, Arnol hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Iya.”

“Kamu pasti sering denger kita berantem kan tiap kali kamu bersihin lorong depan? Ngaku aja, semua pegawai di lantai ini pasti udah hafal kelakuan Andra.”

“Kadang-kadang.” Arnol menjawab takut-takut.

“Baguslah kalau kamu tahu. Biar semua orang sadar kalau bos besar pujaan mereka itu aslinya cuma pecundang yang berlindung di balik jas kebesarannya.”

Wanita modis itu tiba-tiba berjalan menuju meja mini bar di sudut ruangan. Suara pantofel hak tingginya berketuk nyaring di atas lantai marmer. “Mau minum?”

“En-Enggak, Nyonya.” Arnol menggeleng cepat.

“Santai aja, aku nggak bakal racunin kamu. Aku cuma butuh teman ngobrol sebentar buat ngilangin stres.”

Pesona wanita di hadapannya ini sungguh tidak main-main. Rok ketat yang membalut pinggul rampingnya bergoyang anggun setiap kali ia melangkah. Arnol buru-buru mengalihkan pandangan ke arah langit-langit ruangan agar matanya tidak berdosa lebih jauh.

“Cantik.” Arnol membatin kagum.

Meski sudah bersuami, tubuh proporsional bak gitar spanyol milik Liliana benar-benar menguji iman lelaki normal manapun yang melihatnya dari dekat.

Sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas kaca, Liliana menatap sinis pantulan dirinya sendiri di cermin dinding. “Dia itu narsis gila dan nggak pernah mau ngaca sama kekurangannya sendiri. Berani-beraninya ngatain aku mandul padahal burungnya aja nggak pernah bangun sempurna!”

Uhuk!

Mendengar rutukan tersebut, Arnol terbatuk hebat seraya memukul-mukul dadanya. “Maaf.”

Liliana memutar tubuhnya lalu menatap langsung ke bola mata Arnol dengan raut penuh kekesalan. “Kamu nggak salah dengar, Arnol. Baru juga disentuh sedikit, main sebentar, langsung keluar cairan bening kayak air cucian beras. Dasar lelaki lemah syahwat, sperma encer, tapi gengsinya setinggi langit!”

Mendadak lutut Arnol terasa lemas menerima rentetan informasi vulgar yang dibongkar tanpa sensor.

“Aduh.” Arnol memijat pelipisnya.

“Aku pura-pura nikmat tiap malam demi egonya yang kelewat tinggi itu! Aku sampai harus teriak-teriak palsu padahal geli aja nggak kerasa sama sekali di bawah sana. Tiga detik doang, Arnol! Cuma tiga detik dia sudah tepar dan ngorok. Terus sekarang dia berani nyalahin aku nggak bisa hamil gara-gara perutku bermasalah?”

Sedetik kemudian, suasana ruangan mendadak hening total.

Arnol memejamkan mata rapat-rapat sambil merapal doa dalam hati agar telinganya mendadak tuli sementara. Ia benar-benar tidak ingin mendengar aib ranjang bos besarnya lebih jauh lagi.

“Permisi.” Arnol menunduk.

Namun langkahnya terhenti tatkala Liliana tiba-tiba tertawa sumbang.

“Kamu mau ke mana? Kamu takut aku laporkan ke Andra kalau kamu denger semuanya?”

“Iya.” Arnol menelan ludah.

Gelas kaca di tangan Liliana diletakkan dengan pelan ke atas meja.

“Tenang aja, Arnol. Aku nggak sejahat suamiku yang suka ngerendahin orang lain pakai harta. Kamu di sini aja dulu nemenin aku, kepalaku rasanya mau pecah kalau sendirian di ruangan ini.”

Akibat perintah langsung itu, Arnol terpaksa melepaskan dorongan trolinya kembali. “Baik, Nyonya.”

Liliana melangkah mendekati sofa lalu menjatuhkan tubuhnya dengan elegan.

“Kamu tahu rasanya jadi bahan gunjingan teman-teman arisan tiap minggu?”

“Tidak.” Arnol menggeleng polos.

“Teman-temanku selalu pamerin anak mereka yang lucu-lucu tiap kali kumpul. Aku cuma bisa senyum palsu sambil gigit jari gara-gara si benih rusak itu nggak bisa ngasih aku keturunan. Dia malah seenaknya ngancam mau cari istri baru buat buktiin kejantanannya yang palsu itu. Laki-laki macam apa yang cuma bisa nyalahin istri buat nutupin kekurangannya sendiri!”

Melihat raut frustrasi di wajah cantik itu, Arnol merasa sedikit iba meski masih ketakutan.

“Sabar ya, Nyonya, saya tahu Nyonya pasti kesiksa gara-gara Bapak.” Arnol mencoba menghibur.

“Mungkin Bapak cuma kecapekan kerja terus, Nyonya. Kalau disuruh minum jamu kuat racikan dari kampung saya, pasti langsung tokcer lagi staminanya.”

Seketika Liliana mendengus remeh.

“Jamu apaan, udah ke dokter spesialis mahal luar negeri juga hasilnya nol besar. Memang dasar pabriknya yang rongsok dari sananya, mau dikasih ramuan ajaib juga nggak bakal meledak.”

“Kamu pikir, enak jadi istri orang kaya yang suaminya hobi main di luar tapi di rumah impoten? Semua barang mewah ini cuma kompensasi busuk buat nutupin kelemahannya di ranjang. Aku ini wanita normal. Aku nggak butuh sekadar transferan uang miliaran ke rekening tiap bulan. Lagian, aku juga butuh cowok-cowok perkasa, bisa muasin aku di ranjang! Yakali duit banyak tapi aku ga puas pas lagi anu-anuan?!”

Mendengar keluhan itu, Arnol semakin menunduk canggung. “Miliaran?”

Angka sebesar itu belum pernah ia dengar langsung seumur hidupnya. Kalau saja ia punya uang sebanyak itu, ibunya pasti sudah selesai dioperasi sejak minggu lalu dan mereka bisa pulang ke kampung dengan tenang.

Perlahan, tatapan Liliana berubah fokus menelusuri tubuh pria di hadapannya dari ujung sepatu bot kotor, celana kargo ketat, hingga berhenti lama di lengan yang masih digulung tinggi.

“Gila.” Liliana bergumam.

Bulir keringat di dada bidang Arnol tercetak sangat jelas dari balik kain seragam basahnya. Otot-ototnya menonjol sempurna akibat kerja keras fisik.

“Oh iya, kok kamu bisa angkat brankas raksasa itu sendirian?”

Berubahnya nada suara Liliana menjadi serak mendalam itu seketika membuat bulu kuduk Arnol merinding hebat. Sinyal bahaya meraung kencang di kepalanya.

“Otot kuli.” Arnol menjawab kaku.

Wanita itu bangkit dari sofa lalu melangkah maju memangkas jarak di antara mereka.

“Kamu angkat brankas seberat itu gampang banget. Andra ngangkat koper baju aja ngeluh encok berminggu-minggu.”

“Beda kebiasaan.”

Lantaran jarak yang semakin menipis, aroma parfum vanila bercampur melati dari tubuh Liliana langsung menyerbu penciuman Arnol. “Berapa umurmu, Arnol?”

Refleks, Arnol memundurkan langkahnya sampai punggungnya menabrak pinggiran troli besi. “Dua puluh lima.”

Liliana memiringkan kepalanya sedikit dengan senyuman menggoda. “Masih sangat muda dan pasti sangat kuat. Apa kamu sudah punya pacar di luar sana yang bisa menikmati tubuh bagusmu ini tiap malam?”

“Boro-boro punya pacar buat nemenin tidur, Nyonya. Kucing lewat aja langsung lari kocar-kacir kalau lihat muka ndeso saya yang dekil ini. Saya masih perjaka tingting dari kampung yang kerjanya cuma ngaduk semen sama ngangkat galon kotor. Seumur hidup, saya belum pernah pacaran atau nyentuh perempuan sama sekali karena sibuk cari duit buat berobat ibu saya.”

Sontak, senyum penuh arti mengembang lebar di bibir merah Liliana.

“Masa?” Liliana memicingkan mata.

“Sumpah.”

Satu jari telunjuk Liliana yang berhias kuku cantik perlahan terulur ke depan. Ujung kukunya mengusap otot bisep Arnol dari atas ke bawah dengan gerakan super lambat.

“Keras.” Liliana berbisik pelan.

Jantung Arnol berpacu gila-gilaan persis motor balap yang remnya blong. Lelaki normal mana yang tidak merinding sekaligus bereaksi saat disentuh wanita secantik dan seagresif ini di ruangan tertutup.

“Diam.” Arnol membatin panik. Ia berusaha keras memberi peringatan pada insting liarnya di bawah sana yang mendadak ingin ikut campur merespons sentuhan lembut tersebut.

Sialnya, Gatot malah perlahan mendongak mencari perhatian, menabrak kain celana kargonya dengan antusias.

“Aduh, Gatot, tolong kerja samanya dikit napa! Ini istri bos besar, urusannya bisa langsung sama polisi kalau sampai ketahuan kita tegang di sini,” omel Arnol merana dalam hati.

“Kamu kepanasan, ya?” Liliana kembali bersuara seraya menaikkan jarinya ke kerah seragam Arnol yang terbuka sedikit.

“Dingin di sini, Bu.” Padahal keringat dingin sebesar biji jagung mulai meluncur deras dari pelipis pria itu. Suhu AC ruangan yang menusuk tulang sama sekali tidak membantu mendinginkan gejolak di tubuhnya.

“Masa dingin sampai keringetan begini? Tubuhmu bagus sekali, Arnol. Sangat kokoh dan jantan. Pasti ukuran di balik celana kargomu itu ukurannya nggak mengecewakan kayak punya suamiku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 5 Ukuran Afrika

    “Cih, kenapa diam?”Dorongan tiba-tiba dari kedua tangan Liliana tepat di bagian dadamembuat Arnol kehilangan keseimbangan. Pria itu terhuyung mundur dua langkah,lalu jatuh terduduk dengan posisi canggung di atas sofa kulit panjang di tengahruangan.“Nyonya.” Napas Arnol tercekat di tenggorokan.Matanya terpaku menatap Liliana yang kini berdiri menjulang tepat dihadapannya. Senyum sinis namun penuh gairah menghiasi wajah cantik wanita itu.“Aku nggak suka buang-buang waktu berharga.” Suara Liliana berubah serakdan mendalam.Tanpa sedikit pun keraguan, wanita modis itu mengangkat kedua tangannya.Jari-jari lentiknya mulai menanggalkan kancing kemeja sutra kerjanya satu persatu dari atas ke bawah. Kain mahal itu meluncur jatuh bebas ke atas karpetmarmer.“Gusti.” Arnol membatin panik.Pemandangan di depannya sukses membuat otak Arnol korslet permanen.Liliana kini hanya menyisakan bra renda tipis berwarna merah marun yangmembungkus erat dua gunung kembarnya. Dua gundukan kenyal

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 4 Deal

    “Nyonya.” Arnol menelan ludah susah payah.Liliana tidak menyahut. Senyum miring yang terukir di bibir merahnyamengisyaratkan dominasi mutlak. Wanita modis itu melangkah menjauh dari pintudengan tempo lambat yang sengaja dibuat-buat.Ayunan pinggulnya menciptakan ritme visual yang mengintimidasi sekaligusmenggoda iman. Ia berjalan memutar mengelilingi sofa kulit, lalu menjatuhkantubuhnya dengan elegan di atas kursi kebesaran suaminya.“Buka pintunya.” Arnol memohon pelan.“Kenapa buru-buru? Bukannya tadi kamu bilang perutmu mulas mau mencret?Sekarang kelihatannya kamu sehat-sehat saja.”Sindiran tajam itu menelanjangi kebohongan konyol Arnol. Pria itumenunduk dalam, meremas ujung kemeja seragamnya hingga kusut.“Nyonya, saya mohon dengan sangat. Biarkan saya ngerjain tugas saya.Kalau Nyonya marah soal kejadian tadi, saya berani sumpah potong jari nggakakan bocor ke siapa pun soal kelakuan Bapak. Tolong jangan hukum saya pakaicara begini. Kalau sampai ada orang luar yang tahu

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 3 Nyonya Beringas

    Kewarasan Arnol nyaris putus mendengarnya. Logikanya bekerja sangatkeras mengingatkan bahwa ini adalah zona bahaya tingkat dewa yang bisamembuatnya dijebloskan ke penjara atau dipecat tanpa pesangon.“Nyonya!” Arnol tiba-tiba berseru nyaring.Liliana sedikit tersentak kaget lalu menarik tangannya. “Apa?”“Maaf!” Arnol buru-buru membungkuk.Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menciptakan alasan paling absurdyang bisa dipikirkan otak paniknya.“Saya baru ingat ada panggilan mendadak dari Pak Supervisor di lantaibawah buat bersihin toilet lobi sekarang juga! Terus saya juga tiba-tibakebelet buang air besar karena kebanyakan makan sambal terasi basi tadi pagi!Perut saya mulas parah sampai mau mencret di celana, Nyonya! Saya permisi turundulu sebelum meledak di ruangan Nyonya ini!”Arnol langsung melepaskan gagang troli dan memutar tubuhnya seratusdelapan puluh derajat.“Hei!”“Mau ke mana kamu, Arnol?! Aku belum selesai bicara sama kamu soalurusan kita ini! Jangan berani-berani

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 2 Masa Kamu Kepanasan?

    “Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati aja kamusana!”Arnol sontak menoleh ke arah pintu.Seketika, tangisan pilu wanita di hadapannya lenyap tak bersisa seiringusapan kasar jari lentiknya pada sisa air mata di pipi. Wajah yang tadinyamemelas itu langsung berubah sinis.“Nyonya?” Arnol mengerjap.Liliana mendengus kasar sambil berkacak pinggang menatap pintu yangtertutup rapat.“Kamu pikir aku sungguhan peduli sama semua ocehannya tadi? Gila aja akusampai harus akting nangis bombay biar egonya yang rapuh itu merasa menang.Coba kalau aku ngelawan sedikit, ocehan cerewetnya pasti bisa sampai besok paginggak bakal berhenti. Kupingku bisa bernanah dengerin suaranya yang cemprengkayak knalpot bocor.”Lantaran salah tingkah, Arnol hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidakgatal.“Iya.”“Kamu pasti sering denger kita berantem kan tiap kali kamu bersihinlorong depan? Ngaku aja, semua pegawai di lantai ini pasti udah hafal kelakuanAndra.”“Kadang-kadang.” Arno

  • Kuli Panggul Kesayangan Nyonya    Bab 1 Dasar Istri Mandul!

    “Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yangbertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasapengap.Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakankasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat pekerjaan kasar. Entahitu kuli, angkat barang, benerin listri, ngepel, dan lainnya.Yang pasti, pekerjaan Arnol hanya pekerjaan biasa saja.“Masuk, Pak Maman. Ada apa lagi ini? Pinggang saya rasanya udah maucopot,” jawab Arnol sambil menekan tombol PTT pada alat komunikasi tersebut.Napasnya masih ngos-ngosan.“Banyak ngeluh kamu! Tinggalkan kardus arsip itu sekarang. Naik kelantai eksekutif. Ke ruang CEO. Ada brankas raksasa yang harus kamu pindahkanke troli,” perintah Pak Maman tanpa basa-basi.Arnol membelalakkan matanya. “Waduh, ke ruangan Pak Andra? Brankasnyaisi apa, Pak? Emas batangan atau isi dosa perusahaan? Kok tumben banget kulimacam saya yang disuruh ke ruang bos besar?”“

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status