Wati memeluk erat papan jalan berisi catatan ritase truk limbah ke depan dadanya."Tulis lima puluh ton untuk laporan tagihan hari ini, atau kau tidak akan pulang ke rumahmu," ancam preman pertama mencengkeram kerah seragam Wati. "Puskesmas elite itu memiliki dana tak terbatas.""Kapasitas truk kita hanya mengangkut dua puluh ton," tolak Wati dengan bibir gemetar. "Kalian memanipulasi data tagihan untuk merampok fasilitas medis daerah.""Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran janda miskin pencatat angka," ejek preman kedua melangkah maju.Pria itu menarik paksa papan jalan tersebut dari pelukan Wati hingga tali pengenal identitasnya terputus.Leo melangkah memotong jarak dari arah pintu tanpa memberikan peringatan lisan. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya lurus mengincar celah leher kedua penyerang dari belakang.Dua jari Leo menekan kuat simpul saraf brachialis di bawah telinga mereka secara bersamaan.Tubuh kedua preman itu mengejang sesaat merespons tekanan mematikan dar
Read more