INICIAR SESIÓNWati memeluk erat papan jalan berisi catatan ritase truk limbah ke depan dadanya."Tulis lima puluh ton untuk laporan tagihan hari ini, atau kau tidak akan pulang ke rumahmu," ancam preman pertama mencengkeram kerah seragam Wati. "Puskesmas elite itu memiliki dana tak terbatas.""Kapasitas truk kita hanya mengangkut dua puluh ton," tolak Wati dengan bibir gemetar. "Kalian memanipulasi data tagihan untuk merampok fasilitas medis daerah.""Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran janda miskin pencatat angka," ejek preman kedua melangkah maju.Pria itu menarik paksa papan jalan tersebut dari pelukan Wati hingga tali pengenal identitasnya terputus.Leo melangkah memotong jarak dari arah pintu tanpa memberikan peringatan lisan. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya lurus mengincar celah leher kedua penyerang dari belakang.Dua jari Leo menekan kuat simpul saraf brachialis di bawah telinga mereka secara bersamaan.Tubuh kedua preman itu mengejang sesaat merespons tekanan mematikan dar
Truk logistik puskesmas menurunkan ratusan tabung oksigen murni di area landasan bongkar muat pada pergantian fajar. Fasilitas kesehatan modern yang dibangun Leo kembali beroperasi penuh menyelamatkan pasien yang tertunda perawatannya.Aroma karbol dan obat-obatan mendominasi koridor utama puskesmas hingga pertengahan hari. Namun, bau menyengat yang berbeda mulai merembes masuk dari arah pintu belakang bangunan.Bidan Ayu berjalan cepat menyusuri lorong menuju ruang kerja VIP Leo. Asisten medis itu membawa papan daftar laporan dengan dahi yang berkerut menahan bau tidak sedap."Dokter, jadwal pengangkutan limbah medis B3 kita dihentikan sepihak pagi ini," lapor Ayu meletakkan papan akrilik di atas meja kerja kayu jati.Leo mengalihkan pandangannya dari layar monitor dan menatap laporan harian tersebut. Pria itu membaca keterangan pembatalan rute dari perusahaan sanitasi distrik."Tumpukan kantong kuning berisi limbah infeksius jarum suntik dan sisa operasi menggunung di area bela
Suara langkah sepatu bot menjauh meninggalkan sisi badan truk beralih menuju area pemuatan lainnya. Dinda melepaskan gigitannya dari dada Leo dengan napas memburu dan bibir yang masih sedikit membiru.Apoteker itu memeluk erat leher sang dokter mencari sisa kehangatan dari tubuh pria tersebut.Suhu kabin baja perlahan menurun melewati titik kritis yang bisa ditoleransi tubuh manusia.Leo menarik pergelangan tangannya memutus tekanan pada saraf tulang belakang Dinda secara perlahan. Pria itu memungut kemeja linennya dari lantai yang mulai diselimuti bunga es."Pakai pakaianmu kembali dan mundurlah," perintah Leo mengancingkan kemeja linennya dengan cepat."Truk ini terkunci dari luar, Dokter," lapor Dinda dengan suara gemetar memperbaiki letak seragam putihnya. "Mereka telah menyegel sistem mekanik pintunya."Leo tidak membalas laporan tersebut dengan kepanikan verbal. Mata sang dokter menyesuaikan pandangan dengan kegelapan kabin mengincar celah engsel pintu baja.Pria itu menar
Angin malam berembus membawa hawa dingin menusuk kulit saat Leo mematikan mesin Jeep hitamnya. Kendaraan itu terparkir tersembunyi di balik semak belukar berjarak seratus meter dari gerbang utama gudang Hendro.Pria itu menyusup masuk melalui celah kawat berduri pada saat pergantian shift penjaga malam.Gudang penyimpanan gas medis itu beroperasi tanpa penjagaan ketat di area pemuatan kargo. Lampu neon putih menyorot deretan truk pendingin yang terparkir rapi menempel pada landasan bongkar muat.Leo berjalan tanpa suara menyusuri dinding beton bangunan utama. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet dua orang di dekat deretan tumpukan palet kayu.Seorang preman berbadan kekar menampar wajah Dinda hingga kacamata baca wanita itu terlempar ke lantai beton. Dinda adalah apoteker wanita berseragam putih yang dikenal memiliki kedisiplinan dan watak sangat kaku di seluruh distrik."Serahkan buku catatan pencurian tabung oksigen itu sekarang juga!" bentak preman itu mencengkeram
Tumpukan kain seprai berwarna putih bersih tersusun rapi di dalam rak lemari penyimpanan bangsal timur. Bau harum dari larutan desinfektan medis menguar memenuhi seluruh penjuru ruangan perawatan.Sari menepati janji kerjanya malam tadi dengan sangat sempurna. Janda penjahit itu mengirimkan ratusan linen steril tanpa menyisakan residu logam berat pewarna tekstil sedikit pun.Namun, ketenangan di dalam fasilitas kesehatan tersebut tidak bertahan lama memasuki pertengahan hari.Suara roda brankar berdecit kasar bergesekan dengan lantai keramik lorong ruang gawat darurat. Bidan Ayu mendorong ranjang dorong tersebut dibantu oleh dua perawat wanita lainnya dari arah belakang.Lampu indikator pada mesin monitor tanda vital berkedip merah memancarkan peringatan darurat ke seluruh penjuru ruangan."Dokter, jadwal operasi bedah pintas jantung pasien di ruang nomor tiga terpaksa ditunda," lapor Ayu dengan napas memburu dan dahi berkeringat.Leo mengambil papan akrilik berisi catatan rekam
Suara tarikan rantai leher anjing terdengar menjauh menyusuri lorong utama pabrik.Anjing penjaga berjenis doberman itu ditarik oleh pawangnya menuju area pemuatan kargo di sayap barat. Langkah sepatu bot penjaga itu perlahan hilang tertelan bisingnya deru mesin pendingin ruangan.Leo melepaskan tekanan jarinya dari area dada atas Sari secara perlahan. Janda muda itu menarik napas panjang meraup sisa oksigen di udara berdebu. Kulit Sari masih memerah akibat guncangan hormon yang baru saja mereda."Tetap diam di tempatmu dan atur pernapasanmu," perintah Leo melangkah keluar dari celah sempit tersebut.Pria itu mengangkat kaki kanannya dan menendang tumpukan gulungan kain denim di depannya.Gulungan seberat puluhan kilogram itu rubuh menghantam dua preman patroli yang sedang menyisir lorong."Tolong! Kain ini menjepit kakiku!" teriak salah satu preman yang tertindih tumpukan tekstil tebal tanpa bisa bangkit berdiri.Langkah kaki menyeret terdengar mendekati area pemotongan kain mal
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi