Suasana di dalam kamar itu mendadak membeku. Kata-kata polos Kania bagaikan tongkat baseball yang menghantam kesadaran Maya hingga hancur berkeping-keping. Jantung Maya seolah berhenti berdetak, dan darah di wajahnya surut seketika, menyisakan pucat pasi yang mengerikan.Tangan Kania masih berada di sana, menindih punggung tangan ibunya yang tengah menggenggam erat aset paling berharga milik Leonardo.Dalam kegelapan, Maya bisa merasakan jemari putrinya yang halus mulai bergerak, mencoba mengenali objek keras dan panas yang ada di balik kain celana Leo. Satu gerakan lagi saja, dan rahasia kotor ini akan meledak di depan mata Kania."Ibu? Kok tangan Ibu... keras banget?" cicit Kania lagi, matanya yang bulat mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan, menatap ke arah gundukan di bawah selimut.Maya nyaris pingsan karena malu. Namun, di saat kritis itu, sebuah tangan besar dan hangat mendarat dengan tenang di atas punggung tangan Kania.Itu tangan Leonardo.Meskipun dalam posisi terjepit,
Last Updated : 2026-04-15 Read more