Lana menaruh piring pudingnya di nakas untuk dicuci besok. Namun, baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya, Reyner mulai menunjukkan gelagat menginginkan "jatahnya" malam ini."Ih, kamu ini... Aku sedang malas, lagi tidak mood," tolak Lana manja."Masa? Nanti kalau sudah dirangsang juga pasrah saja. Ujung-ujungnya bilang, 'Terus, Rey... lebih cepat,' ya, kan?" goda Reyner, menirukan kata-kata Lana yang biasanya berubah drastis setelah ia melakukan foreplay dengan sabar dan manis.Lana membelalakkan mata ambernya, wajahnya seketika merona merah mendengar suaminya menirukan suara desahannya dengan begitu percaya diri. Ia memukul bahu Reyner pelan dengan bantal, meski sebuah senyuman tertahan mulai muncul di sudut bibirnya."Rey! Kamu mesum sekali, sih! Jangan diingat-ingat bagian itu, memalukan tahu!" seru Lana sambil berusaha menutupi wajahnya yang panas dengan selimut.Namun, saat ia merasakan jemari Reyner mulai bermain lembut di ten
Mehr lesen