Minggu pagi, Lana tampak segar setelah salat, mandi, dan berbelanja pada tukang sayur yang lewat. Dengan merogoh kocek sendiri karena Rey belum memberikan nafkah. "Ikan mas, timun, selada, cabai, serta bawang merah dan putih saja, Mang. Jadi berapa?" tanya Lana sambil tersenyum. Tukang sayur itu tersenyum ramah sambil membungkus belanjaan Lana. Di saat bersamaan, Rey keluar ke teras dengan muka bantal dan rambut acak-acakan. Ia tertegun sejenak melihat Lana yang tampak begitu bersahaja dan tenang, sangat berbeda dengan sosok yang menampar Kimmy semalam. Rey melangkah mendekat, membayangkan aroma masakan dari bahan-bahan yang dibeli Lana. Ada rasa gengsi yang besar di dadanya untuk sekadar menyapa, namun perutnya tidak bisa berbohong bahwa ia merindukan masakan rumah. "Ada apa?" tanya Lana, merasa aneh melihat suaminya berdiri bersedekap di dekat pintu. "Tidak ada. Hanya heran melihatmu sudah bangun sepagi ini. Masak yang enak, jangan sampai bahan-bahan itu terbuang percuma ka
Read more