Suasana di ruang makan terasa hangat, Reyner menyesap kuah supnya perlahan, lalu terdiam sejenak seolah ada yang berbeda dengan ingatannya."Masakan Bibi tidak buruk," ujar Reyner, "tapi entah kenapa, aku mendadak rindu masakanmu, Lan. Rasanya beda."Lana yang sedang menyendok nasi hanya tersenyum tipis, menanggapi pujian terselubung itu dengan tenang. Sejak kepulangan mereka dari babymoon beberapa bulan lalu, Reyner memang bersikeras mempekerjakan ART tambahan agar Lana tidak terlalu lelah dan bisa fokus pada kehamilannya—atau setidaknya, itulah yang Reyner percayai."Padahal resep yang Bibi pakai itu persis seperti yang sering kubuat, Mas," sahut Lana.Reyner menggeleng, "Tetap saja beda. Mungkin setelah urusan kantor agak reda, bisakah sekali saja kamu masak menu andalanmu itu? Aku benar-benar merindukan rasa yang dulu."Lana mengangguk pelan, meski dalam hati ia sedang memikirkan hal lain. "Tentu, kalau memang Mas mau. Tapi janga
Mehr lesen