تسجيل الدخولSore itu, Lana duduk di ruang kerjanya yang berpenerangan redup, menatap layar monitor yang menampilkan real-time log activity dari sistem logistik perusahaan Reyner. Di sudut bibirnya, tersungging senyum tipis yang dingin saat melihat akun bernama "Mitha_Admin" baru saja melakukan perubahan status pada manifes pengiriman bernomor fiktif yang sengaja ia siapkan."Kena kau," bisik Lana sambil tersenyum miring.Ternyata, pengiriman bahan mentah dari Afrika besok pagi hanyalah umpan. Berlian-berlian asli itu sudah aman berada di gudang rahasia Lana sejak dua hari lalu melalui jalur logistik pribadi yang tidak diketahui siapa pun. Dokumen yang sengaja ia biarkan "terbuka" di meja Reyner tadi pagi adalah jebakan fiktif dengan nilai asuransi yang sengaja digelembungkan untuk memancing kerakusan dan kelicikan Mitha.Lana meraih ponselnya, lalu melakukan panggilan singkat. "Dante, umpan sudah dimakan. Siapkan tim hukum dan pastikan orang-orang di Bea Cukai
Di kantornya, Reyner mulai jengah saat Mitha terus memanggilnya "Mas" sejak identitas wanita itu sebagai adik tiri Lana terungkap. "Mitha, jaga profesionalisme kerja saat di kantor meski hanya ada kamu dan saya. Panggil Pak! Kamu paham tidak? Sudah berapa kali saya ingatkan?" Mitha mengerucutkan bibirnya, lalu mendekat ke meja Reyner dengan tatapan manja. "Galak sekali, Pak. Apa ini karena Kak Lana? Padahal dulu Bapak tidak keberatan." Reyner langsung berdiri, menciptakan jarak tegas saat Mitha mulai melangkah terlalu dekat. Ia merasa muak dengan gelagat wanita di depannya ini. "Segera verifikasi kiriman bahan mentah milik *L'Aura by Lana*. Kamu tahu, kan? Bisnis istriku adalah prioritas utama. Jangan sampai tertukar dengan dokumen manifes lainnya," perintah Reyner. Mitha tersenyum masam, tatapannya menyiratkan rasa tidak suka yang terpendam. "Tentu, Pak. Sudah diproses. Kalau begitu, saya permisi
Siang itu, setelah rapat selesai, Lana kembali ke ruangannya dan Dante telah menunggunya."Aku mengajakmu makan siang, apa kau keberatan? Maaf aku tidak mengabarimu, Lan."Lana tersenyum tipis sambil merapikan berkasnya. "Tentu, Dante. Kebetulan aku butuh suasana baru untuk membicarakan progres suplier Eropa. Mari, aku yang tahu tempat tenang di dekat sini."Di keheningan mobil Range Rover Dante, hanya terdengar sayup-sayup lagu dari platform musik. Lana sedang mengisi daya ponselnya saat sebuah pesan masuk muncul di fitur pop-up aplikasi hijau dari Kimmy."Lana, baru saja kukirim ya uang jajan untuk Eden. Btw makasih sebelumnya."Dante sempat membaca sekilas pesan itu. "Kimmy? Kimmy Cassandra?""Kamu kenal, Dante?" tanya Lana."Tidak terlalu. Dia dulu dekat dengan Reyner, kan? Mantan pacar Reyner?""Bukan, teman saja," jawab Lana singkat."Kau yakin? Mereka lengket sekali lho, seperti sepasang kek
Lana berbalik, menghadap tepat ke arah Reyner. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfumnya yang elegan memenuhi indra penciuman suaminya. "Mas, aku dan Dante hanya bertemu sesekali dalam seminggu, itu pun di jam kerja. Dia investorku, dan kami sangat profesional. Tolong jangan mulai lagi," ucap Lana sambil menatap lurus ke dalam manik mata Reyner. "Aku sedang berusaha mengedepankan logika, padahal hatiku sebenarnya jauh lebih cemburu melihat kamu yang setiap hari berinteraksi dengan Mitha." Lana menjeda kalimatnya, memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar. "Di sini seharusnya aku yang marah karena kamu sudah melakukan pengkhianatan kecil soal kontrak itu. Aku harap kamu bisa segera meninjau ulang keputusannya." Rahang Reyner mengeras mendengar istilah 'pengkhianatan kecil' yang dilemparkan Lana. Ia merasa seperti terdakwa di rumahnya
Reyner turun ke lantai bawah, menatap dapur bersih dengan lampu yang telah padam. Istrinya sudah tidak ada di sana. "Lana sudah ke kamar sepertinya," gumamnya.Reyner pun segera menyusul dan benar saja, Lana tidur terlentang dengan penutup mata yang biasa ia gunakan. Reyner berbaring di samping istrinya; ia tahu Lana belum benar-benar tidur, tapi ia memilih tidak ambil pusing. Reyner memeluk Lana dan mengecup bahunya yang terbuka karena gaun tidur sutra itu."Selamat tidur, Lana. Maafkan aku," bisiknya. Kecupan terakhir mendarat di pelipis Lana, lalu ia langsung memberi jarak, sadar bahwa istrinya sedang tidak dalam suasana hati yang baik.Di balik penutup matanya, Lana masih terjaga sepenuhnya. Dadanya terasa sesak saat mendengar kata maaf yang meluncur begitu saja dari bibir Reyner."Maaf untuk apa, Mas?" batinnya getir. "Maaf karena sudah ingkar janji, maaf karena membiarkan Mitha menyentuhmu, atau hanya maaf agar beban pikiranmu hilang se
Lana menghela napas panjang sebelum melangkah masuk. Sambil membawa clutch-nya, ia masuk ke kamar. Reyner melepas bajunya dengan membelakangi istrinya, lalu melenggang ke kamar mandi. Tak lama, Lana menyusul setelah berganti gaun malam. "Mas, kamu kenapa sih? Di sini seharusnya aku yang marah lho. Aset wanita lain disodorkan ke suamiku? Itu baru yang aku lihat, enggak tahu keseharian kalian di kantor bagaimana," ucap Lana pedas. Reyner menghentikan gerakannya di depan wastafel, lalu berbalik dengan tatapan tajam yang masih menyala. "Jangan memutarbalikkan fakta, Lan! Mitha itu bekerja, sedangkan kamu? Kamu sengaja membiarkan Dante menyentuhmu hanya untuk memancing emosiku, kan?" jawab Reyner dengan suara tertahan. "Kamu baru lihat sekali ini saja sudah jengkel, kan? Bagaimana denganku yang melihatmu mempekerjakannya selama empat bulan? Kamu bilang masa percobaanny
Minggu pagi, Lana tampak segar setelah salat, mandi, dan berbelanja pada tukang sayur yang lewat. Dengan merogoh kocek sendiri karena Rey belum memberikan nafkah. "Ikan mas, timun, selada, cabai, serta bawang merah dan putih saja, Mang. Jadi berapa?" tanya Lana sambil tersenyum. Tukang sayur itu
Tepat tengah malam, taksi mengantarnya sampai di depan rumah. Rey membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Ruangan tampak tenang, lampu di ruang utama sudah mati, hanya menyisakan cahaya redup yang menciptakan suasana syahdu. Biasanya ia sendiri, namun kini ada seorang wanita di rumah ini. Sayup
"Serius kebutuhan biologis? Bukan karena ada ketertarikan?" selidik Kimmy. "Lihat, dia menamparku keras sekali hanya karena aku punya kunci rumahmu. Ini sakit sekali," ucap Kimmy dengan nada manja dan dramatis.Rey mengusap wajahnya kasar, lalu menarik dagu Kimmy untuk memeriksa bekas tamparan itu.
Keputusan Rey untuk lebih memilih santapan batin daripada sekadar ragawi terbukti tepat. Suasana kamar kian memanas saat ia terus mengganti posisi hingga ke side-lying dari belakang. Rey terus menghujamkan miliknya dengan ritme yang dalam, sementara kedua tangannya memeluk erat tubuh sang istri dar







