“Klik….”Sabuk kulit yang melilit pergelangan tangannya terlepas begitu saja.Tepat saat aku mengira dia akan mendorongku menjauh, di luar dugaan, Evelyn malah mengalungkan lengannya di leherku.“Berikan padaku, berikan padaku, om!”Tuntutannya menjadi semakin intens. Aku menekan kepalanya, menempel erat-erat pada bibir dan lidahnya.“Nyaman nggak?”Evelyn tidak menjawab, tapi sorot matanya mulai berubah. Di balik lapisan air mata itu, ada gairah yang mulai memanas.Aku menunduk, melihat celana denimnya sudah basah kuyup oleh keringat, menempel ketat di paha dalamnya, membentuk garis lekukan yang jelas.“Apa yang kamu mau?”Aku mengulangi trik yang sama, tersenyum sambil menekan jariku.Kali ini, aku tidak lagi sekadar mencoba, melainkan menekan bagian paling lembut itu dengan telapak tangan dan menggosoknya dengan kuat.Tubuhnya menegang, lehernya mendongak hingga membentuk siluet yang indah.Mulut Evelyn terbuka lebar, tapi tak ada suara yang keluar. Seolah digerakkan oleh sesuatu,
Read more