Share

Bab 3

Penulis: Husky
Meski terdengar pelan, suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat.

Tiba-tiba, Evelyn membuka matanya. Dengan wajah penuh ketakutan, dia menatapku dan berkata, “Mereka sudah pulang!”

Dia meronta hendak lari, tapi aku menahannya dengan kuat. Dengan dingin, aku berkata, “Aku bisa saja melepaskanmu, tapi kamu….”

Aku membungkuk, lalu berbisik di telinganya, “Kamu milikku.”

Wajah Evelyn memerah, tapi dia tetap mengangguk.

Tepat saat gagang pintu diputar, aku melepaskan semua kaitan sabuk kulitnya.

Kakinya terasa lemas hingga tak sanggup berdiri dan seluruh tubuhnya jatuh ke dalam pelukanku.

Pintu terbuka.

“Evelyn! Di mana orangnya?”

Aku mendorongnya ke dalam bayangan di antara rak-rak barang, menggunakan tubuhku untuk menghalanginya.

Kedua orang itu hanya berhenti sejenak di lantai satu, lalu langsung naik ke lantai atas.

Sambil bersembunyi di belakangku, Evelyn buru-buru merapikan celananya.

Aku bisa mendengar deru napasnya yang pendek. Mataku melirik ke arah botol-botol di rak.

Lalu aku mengambil sebotol pelumas bertuliskan “Super Tahan Lama” dan diam-diam memasukkannya ke dalam saku.

Karena hanya mengenakan bra sexy di sekujur tubuhnya, Evelyn mencoba menyusup semakin dalam ke balik rak.

Aku mencoba menahan gairah yang membara, tapi kedua tanganku malah kembali bergerak melepas kaitan branya.

“Aaaa….”

Dia mendesah dan menatapku dengan takut, lalu berbisik, “Jangan… aku takut!”

“Tadi nyaman, ‘kan?”

Aku mendekat ke wajahnya, “Jawab jujur.”

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Evelyn menjawab dengan suara sekecil dengungan nyamuk, “Nyaman.”

Dengan mata terpejam dan air mata yang menetes, dia menjawab keras,

“Memang nyaman, puas?! Aku memang perempuan murahan, diperlakukan seperti itu olehmu, tapi aku malah merasa nyaman….”

Aku membungkam kata-kata selanjutnya dengan ciuman.

Tubuhnya sempat menegang sedetik, lalu akhirnya melemas dan dia bergantung di tubuhku.

Kali ini, aku menciumnya lebih dalam, seolah ingin melahapnya habis.

Baru sekarang aku menyadari betapa menggoda tubuh yang selama ini tersembunyi di balik seragam sekolah itu.

Evelyn membalas ciumanku dengan kaku. Dia meremas bajuku, sementara tubuh putihnya gemetar hebat di pelukanku.

Entah berapa lama berlalu, aku baru melepaskannya setelah dia merasa kehabisan napas.

Dia menatap cemas ke arah CCTV yang tak jauh dari sana. Aku tersenyum sambil mengangkat pergelangan tanganku.

“Tiga, dua… satu!”

Lampu di ruangan langsung padam.

“Baru saja ada pemberitahuan, ada pemadaman listrik malam ini!”

Jariku meluncur turun dari punggungnya, lalu masuk ke dalam celana denimnya tanpa hambatan.

Alih-alih menghindar, dia malah sedikit mengangkat kakinya untuk memudahkan gerakanku.

Aku melemparkan celananya ke samping dan tanpa ragu memasukkan tangan ke dalam celana dalamnya.

Tubuh Evelyn tersentak, lalu menjadi semakin lemas.

Basah sekali.

Bahkan jauh lebih basah dari sebelumnya.

“Bagian ini… sangat jujur.”

Di tengah kegelapan, Evelyn terengah-engah, “Om, masuklah.”

Aku tersenyum, menyingkap lapisan kain yang menghalangi, lalu memasukkan satu jari secara langsung.

Tubuhnya langsung menegang.

Rasanya sangat sempit dan panas.

Sensasi jepitan itu hampir membuatku tak bisa menahan diri.

Aku mulai bergerak, tidak cepat, tapi sangat bertenaga.

Setiap gerakan kupastikan mengenai titik paling sensitifnya.

Tubuhnya bergetar mengikuti ritmeku dan desahannya semakin sulit untuk diredam.

“Pelankan suaramu. Ruangan ini nggak kedap suara atau kamu memang mau ditonton orang?”

Semakin dia mencoba menahan diri, tubuhnya malah menjadi semakin sensitif.

Aku bisa merasakan otot-ototnya terus berkontraksi, semakin menjepit dan semakin panas.

Kaki Evelyn sudah tidak bisa berdiri stabil. Aku mempercepat tempo dan dia hanya bisa merintih terputus-putus.

Aku menarik jariku yang sudah basah. Aroma yang khas mulai memenuhi ruangan sempit itu.

“Mau yang lebih nyaman lagi?”

Evelyn mendongak, menatapku dengan pandangan kosong.

Aku membuka ikat pinggangku.

Suara risleting terdengar sangat jelas di dalam gudang yang sunyi itu.

Dia menunduk, menatap hasratku yang sudah menegang dengan bibir sedikit terbuka.

“Berlutut!”

Tanpa ragu, aku menekan bahunya, memaksanya untuk berhadapan langsung dengan kejantananku.

“Nggak….”

Aku tersenyum dingin, “Kalau nggak mau, biar kupanggil ayahmu agar dia bisa melihat putrinya, yang branya sudah robek dan sudah dilayani dengan sangat baik oleh tangan seorang pria.”

“Hm….”

Mungkin karena terlalu takut, akhirnya Evelyn langsung menyambut benda milikku dengan mulutnya.

Aku mencengkeram rahangnya, tersenyum tipis, lalu mulai bergerak maju mundur sambil menginjak dan mempermainkan buah dadanya dengan kakiku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 9

    Seketika, kolom komentar pun lenyap.“Kalian nggak bisa melarikan diri,” kataku.“Polisi akan menemukan kalian satu per satu. Keluarga, teman, hingga rekan kerja kalian akan tahu orang seperti apa kalian sebenarnya.”Jam tiga pagi, seluruh jalanan sudah dipenuhi oleh mobil polisi.Saat si pemilik toko digiring keluar, orang-orang di sekitar mengangkat ponsel untuk merekamnya. Si pemilik hanya bisa menunduk dengan wajah bengkak yang sudah tak terbentuk.Evelyn berdiri di depan pintu toko, membungkus tubuhnya dengan jaketku sambil menyaksikan semua itu.Seorang polwan mendekat dan berkata dengan lembut, “Evelyn, kamu harus ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan.”Evelyn berbalik hendak pergi, tapi langkahnya terhenti, Dia menoleh menatapku.“Kamu bakal menungguku?”Aku menatap matanya.Tidak ada lagi ketenangan dingin seperti sebelumnya di sana, yang ada hanyalah harapan yang tampak sangat rapuh.“Iya,” jawabku dengan tegas.Tiga hari kemudian.Berita itu viral.[Seorang pria ne

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 8

    Di layar, Evelyn membalikkan badannya. Gaun tidurnya tersingkap sedikit lagi ke atas, memperlihatkan pinggiran celana dalamnya.Kolom komentar langsung meledak.[Gila!][Bos, kamu memang hebat!][Kasih sawer!]Aku memperhatikan riwayat saweran di layar yang terus bergulir satu per satu.Nominalnya bervariasi, mulai dari puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan ada yang mencapai jutaan.Lalu, aku mendengar gerakan dari lantai atas.Pemilik toko turun.Aku menahan napas, mengintip dari celah pintu gudang.Si pemilik toko berjalan ke balik meja kasir, membuka komputer dan mulai berbicara ke arah layar.“Bonus malam ini, ada di bagian akhir. Sahabat-sahabat sekalian, jangan buru-buru.”Ucapnya dengan suara mesum yang dipenuhi kegembiraan menjijikkan.“Kalau mau yang lebih menantang, sawer dulu satu putaran. Siapa yang kasih saweran paling banyak, boleh tentukan sudut pandang kameranya.”Kolom komentar kembali heboh.Aku melihat angka saweran itu terus melonjak, seiring dengan amarahku yang juga

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 7

    Dia bangkit berdiri, lalu mengambil sebuah ponsel yang tersembunyi di bagian paling dalam rak.“Ini foto-foto yang kuambil diam-diam dari komputer ayahku.”Dia membuka galeri dan menggeser layar untuk memperlihatkannya padaku.”“Ini video-video yang dia simpan, ini riwayat percakapannya dengan orang-orang yang membeli cetakan itu dan ini… foto-foto saat dia melecehkanku.”Melihat foto-foto itu satu per satu, tanganku perlahan mengepal kuat.“Kamu sudah coba lapor polisi?” tanyaku.“Percuma.”Evelyn menggeleng, “Hukum sulit menjangkau hal seperti ini. Apalagi dia punya uang dan koneksi, paling hanya akan dikurung beberapa hari, lalu dibebaskan. Setelah itu….”Dia tak melanjutkannya.Namun, aku tahu apa yang ingin dia katakan.Setelah itu, tamatlah riwayat dirinya.“Lalu, apa yang kamu inginkan?”Evelyn menatapku, matanya berbinar.“Aku mau dia mati,” ucapnya.“Tapi, bukan mati di penjara. Aku ingin saat dia masih hidup, namanya hancur total dan dia merasa sakit yang mematikan.”Sebenarn

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 6

    Aku langsung tersentak berdiri, membuat Evelyn ikut terbangun karena terkejut.Dia mengucek matanya sambil menatapku dan saat melihat kotak di tanganku, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis.“Dari mana kamu mengambilnya?”“Dari rak.” Aku menatapnya dan bertanya, “Evelyn, apa yang terjadi?”Dia tak menjawab, hanya memandangiku dengan tatapan yang sangat rumit. Aku membalikkan kotak itu dan menemukan sebaris tulisan kecil di bagian belakang, “Cetakan asli, replika 1:1.”“Replika 1:1.” Aku mengulangi kata-kata itu, “Replika siapa? Kamu?”Evelyn menundukkan pandangannya dan terdiam cukup lama.Sangking lamanya, aku mengira dia tidak akan menjawab.Kemudian, dia mendongak menatapku. Sudut bibirnya membentuk lengkungan yang aneh.“Kamu mau dengar kebenarannya?”“Mau.”Dia menarik napas dalam-dalam, “Ayahku… dia itu mesum.”Udara seolah membeku, aku bahkan tak berani bernapas.“Saat berusia 14 tahun, orang tua kandungku meninggal. Mereka mengadopsiku dan sejak saat itu, mereka mulai me

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 5

    “Berani sekali kamu!”Evelyn bergumam pelan, “Aku mengira kamu akan datang, jadi sengaja nggak mengunci pintunya”Sial!Gadis ini!Melihat wajahnya yang tersipu malu, api di dalam diriku kembali berkobar.“Aku memikirkanmu sampai nggak bisa tidur.”Mendengar itu, tiba-tiba Evelyn mendongak dan menciumku.Aku membungkuk, lalu membalas ciumannya.Dia ditindih olehku di ranjang, tangannya merangkul bahuku dan seluruh tubuhnya gemetar hebat.Aku mencium setiap bagian tubuhnya, meninggalkan bekas gigitan di kulitnya.Aku kembali menyentak branya hingga terlepas, lalu kembali menyesap kedua gundukan lembut itu.“Hm… jangan… terlalu….”Aku tidak berhenti dan suhu tubuhnya terasa semakin panas.Akhirnya, Evelyn menegang hebat, mengeluarkan rintihan yang pecah, lalu terkulai lemas di pelukanku.Aku bangkit dan menatapnya.Dia berbaring di sana dengan pandangan kosong, dadanya bergerak naik turun dengan cepat dan aroma keringat di tubuhnya terasa begitu menggoda.Saat ini, sudah tidak ada lagi p

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 4

    Stimulasi yang bertubi-tubi itu membuat Evelyn hampir tak berdaya. Napasnya tertahan dan tenggorokannya menyempit, nyaris membuatku menyerah kalah lebih awal.“Kok rumah mati lampu, sih?” terdengar suara yang familiar dari lantai atas.Mereka turun.Aku mendorong Evelyn untuk bersembunyi lebih dalam di antara rak barang, di tempat mainan silikon bertumpuk.Berada di tengah-tengah benda itu, keberadaan kami nyaris tak mungkin terlihat.Permainan mulut Evelyn yang masih amatir membuatku semakin gelisah.Saat ini juga, rasanya aku ingin langsung menghabisinya di sini!Namun tak bisa, hal terbaik harus disimpan di belakang.Aku memegang kepalanya, melakukan dorongan kuat sebanyak seratusan kali, hingga akhirnya terasa lega.“Ting….”Lampu di atas kepala menyala. Evelyn berlutut di lantai dengan kondisi berantakan dan tubuh yang kotor.“Ma… maafkan aku.”Evelyn meminta maaf padaku dengan tubuh gemetar, tapi aku malah ingin tertawa.Aku melemparkan sisa pakaiannya yang sudah robek padanya, “

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status