Compartilhar

Bab 2

Autor: Husky
“Klik….”

Sabuk kulit yang melilit pergelangan tangannya terlepas begitu saja.

Tepat saat aku mengira dia akan mendorongku menjauh, di luar dugaan, Evelyn malah mengalungkan lengannya di leherku.

“Berikan padaku, berikan padaku, om!”

Tuntutannya menjadi semakin intens. Aku menekan kepalanya, menempel erat-erat pada bibir dan lidahnya.

“Nyaman nggak?”

Evelyn tidak menjawab, tapi sorot matanya mulai berubah.

Di balik lapisan air mata itu, ada gairah yang mulai memanas.

Aku menunduk, melihat celana denimnya sudah basah kuyup oleh keringat, menempel ketat di paha dalamnya, membentuk garis lekukan yang jelas.

“Apa yang kamu mau?”

Aku mengulangi trik yang sama, tersenyum sambil menekan jariku.

Kali ini, aku tidak lagi sekadar mencoba, melainkan menekan bagian paling lembut itu dengan telapak tangan dan menggosoknya dengan kuat.

Tubuhnya menegang, lehernya mendongak hingga membentuk siluet yang indah.

Mulut Evelyn terbuka lebar, tapi tak ada suara yang keluar.

Seolah digerakkan oleh sesuatu, aku menjulurkan satu tangan untuk mengelus bibirnya.

“Hm….”

Tiba-tiba, Evelyn mengulum jariku dan aku perlahan memasukkannya lebih dalam ke mulutnya.

“Sret….”

Tanganku yang lain sudah membuka kancing celana denim Evelyn. Renda berwarna merah menyala yang terlihat, seketika memicu gairahku.

Dua kaki jenjang Evelyn melingkar santai di pinggangku, bergoyang mengikuti gerakanku.

Bagian bawah tubuh kami menempel semakin rapat, bahkan bagian depan celanaku pun mulai ikut basah.

Aku mendadak menarik tangan, lalu merobek sisa pakaian yang menutupi bagian atasnya.

Kain putih itu kulempar ke samping, seperti kain yang telah mengalami penghinaan, sama seperti Evelyn saat ini.

Secara reflek, Evelyn menutupi dadanya dengan kedua tangan, tapi bagian bawah tubuhnya kini benar-benar terekspos.

Evelyn hanya bisa mengerang pelan, mencoba menutupi tubuhnya sebisa mungkin. Tubuhnya meringkuk seperti bola.

“Aku mau lihat,” ucapku sambil melangkah mendekat. Hasrat yang meluap di bawah sana sudah tak tertahankan.

Aku sengaja menggesekkan diriku meski terhalang kain, dia gemetar hebat, sudah benar-benar kehilangan kendali.

Perlahan, Evelyn melepaskan tangannya, membiarkan tubuh bagian atasnya terlihat sepenuhnya di hadapanku.

Bra sexy berwarna merah terang itu memberinya kesan menggoda yang berbeda.

Aku mengulurkan tangan, menarik pinggiran rendanya, lalu perlahan turun hingga mencapai bagian yang menonjol.

“Kamu begitu bergairah?”

Evelyn menutup matanya dengan tangan, diam-diam melihat ke arahku sambil menggigit bibir tanpa suara.

Aku memegang dua buah dadanya yang kenyal, tertutup sempurna dalam genggamanku.

Aku meremasnya dan dua buah dadanya berubah bentuk sesuai keinginanku.

Dalam kondisi seperti itu, Evelyn terus mendesah manja. Dadanya pun menegang.

Tepat saat sentuhan itu hampir membawanya ke puncak, terdengar suara langkah kaki dari luar pintu.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 9

    Seketika, kolom komentar pun lenyap.“Kalian nggak bisa melarikan diri,” kataku.“Polisi akan menemukan kalian satu per satu. Keluarga, teman, hingga rekan kerja kalian akan tahu orang seperti apa kalian sebenarnya.”Jam tiga pagi, seluruh jalanan sudah dipenuhi oleh mobil polisi.Saat si pemilik toko digiring keluar, orang-orang di sekitar mengangkat ponsel untuk merekamnya. Si pemilik hanya bisa menunduk dengan wajah bengkak yang sudah tak terbentuk.Evelyn berdiri di depan pintu toko, membungkus tubuhnya dengan jaketku sambil menyaksikan semua itu.Seorang polwan mendekat dan berkata dengan lembut, “Evelyn, kamu harus ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan.”Evelyn berbalik hendak pergi, tapi langkahnya terhenti, Dia menoleh menatapku.“Kamu bakal menungguku?”Aku menatap matanya.Tidak ada lagi ketenangan dingin seperti sebelumnya di sana, yang ada hanyalah harapan yang tampak sangat rapuh.“Iya,” jawabku dengan tegas.Tiga hari kemudian.Berita itu viral.[Seorang pria ne

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 8

    Di layar, Evelyn membalikkan badannya. Gaun tidurnya tersingkap sedikit lagi ke atas, memperlihatkan pinggiran celana dalamnya.Kolom komentar langsung meledak.[Gila!][Bos, kamu memang hebat!][Kasih sawer!]Aku memperhatikan riwayat saweran di layar yang terus bergulir satu per satu.Nominalnya bervariasi, mulai dari puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan ada yang mencapai jutaan.Lalu, aku mendengar gerakan dari lantai atas.Pemilik toko turun.Aku menahan napas, mengintip dari celah pintu gudang.Si pemilik toko berjalan ke balik meja kasir, membuka komputer dan mulai berbicara ke arah layar.“Bonus malam ini, ada di bagian akhir. Sahabat-sahabat sekalian, jangan buru-buru.”Ucapnya dengan suara mesum yang dipenuhi kegembiraan menjijikkan.“Kalau mau yang lebih menantang, sawer dulu satu putaran. Siapa yang kasih saweran paling banyak, boleh tentukan sudut pandang kameranya.”Kolom komentar kembali heboh.Aku melihat angka saweran itu terus melonjak, seiring dengan amarahku yang juga

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 7

    Dia bangkit berdiri, lalu mengambil sebuah ponsel yang tersembunyi di bagian paling dalam rak.“Ini foto-foto yang kuambil diam-diam dari komputer ayahku.”Dia membuka galeri dan menggeser layar untuk memperlihatkannya padaku.”“Ini video-video yang dia simpan, ini riwayat percakapannya dengan orang-orang yang membeli cetakan itu dan ini… foto-foto saat dia melecehkanku.”Melihat foto-foto itu satu per satu, tanganku perlahan mengepal kuat.“Kamu sudah coba lapor polisi?” tanyaku.“Percuma.”Evelyn menggeleng, “Hukum sulit menjangkau hal seperti ini. Apalagi dia punya uang dan koneksi, paling hanya akan dikurung beberapa hari, lalu dibebaskan. Setelah itu….”Dia tak melanjutkannya.Namun, aku tahu apa yang ingin dia katakan.Setelah itu, tamatlah riwayat dirinya.“Lalu, apa yang kamu inginkan?”Evelyn menatapku, matanya berbinar.“Aku mau dia mati,” ucapnya.“Tapi, bukan mati di penjara. Aku ingin saat dia masih hidup, namanya hancur total dan dia merasa sakit yang mematikan.”Sebenarn

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 6

    Aku langsung tersentak berdiri, membuat Evelyn ikut terbangun karena terkejut.Dia mengucek matanya sambil menatapku dan saat melihat kotak di tanganku, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis.“Dari mana kamu mengambilnya?”“Dari rak.” Aku menatapnya dan bertanya, “Evelyn, apa yang terjadi?”Dia tak menjawab, hanya memandangiku dengan tatapan yang sangat rumit. Aku membalikkan kotak itu dan menemukan sebaris tulisan kecil di bagian belakang, “Cetakan asli, replika 1:1.”“Replika 1:1.” Aku mengulangi kata-kata itu, “Replika siapa? Kamu?”Evelyn menundukkan pandangannya dan terdiam cukup lama.Sangking lamanya, aku mengira dia tidak akan menjawab.Kemudian, dia mendongak menatapku. Sudut bibirnya membentuk lengkungan yang aneh.“Kamu mau dengar kebenarannya?”“Mau.”Dia menarik napas dalam-dalam, “Ayahku… dia itu mesum.”Udara seolah membeku, aku bahkan tak berani bernapas.“Saat berusia 14 tahun, orang tua kandungku meninggal. Mereka mengadopsiku dan sejak saat itu, mereka mulai me

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 5

    “Berani sekali kamu!”Evelyn bergumam pelan, “Aku mengira kamu akan datang, jadi sengaja nggak mengunci pintunya”Sial!Gadis ini!Melihat wajahnya yang tersipu malu, api di dalam diriku kembali berkobar.“Aku memikirkanmu sampai nggak bisa tidur.”Mendengar itu, tiba-tiba Evelyn mendongak dan menciumku.Aku membungkuk, lalu membalas ciumannya.Dia ditindih olehku di ranjang, tangannya merangkul bahuku dan seluruh tubuhnya gemetar hebat.Aku mencium setiap bagian tubuhnya, meninggalkan bekas gigitan di kulitnya.Aku kembali menyentak branya hingga terlepas, lalu kembali menyesap kedua gundukan lembut itu.“Hm… jangan… terlalu….”Aku tidak berhenti dan suhu tubuhnya terasa semakin panas.Akhirnya, Evelyn menegang hebat, mengeluarkan rintihan yang pecah, lalu terkulai lemas di pelukanku.Aku bangkit dan menatapnya.Dia berbaring di sana dengan pandangan kosong, dadanya bergerak naik turun dengan cepat dan aroma keringat di tubuhnya terasa begitu menggoda.Saat ini, sudah tidak ada lagi p

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 4

    Stimulasi yang bertubi-tubi itu membuat Evelyn hampir tak berdaya. Napasnya tertahan dan tenggorokannya menyempit, nyaris membuatku menyerah kalah lebih awal.“Kok rumah mati lampu, sih?” terdengar suara yang familiar dari lantai atas.Mereka turun.Aku mendorong Evelyn untuk bersembunyi lebih dalam di antara rak barang, di tempat mainan silikon bertumpuk.Berada di tengah-tengah benda itu, keberadaan kami nyaris tak mungkin terlihat.Permainan mulut Evelyn yang masih amatir membuatku semakin gelisah.Saat ini juga, rasanya aku ingin langsung menghabisinya di sini!Namun tak bisa, hal terbaik harus disimpan di belakang.Aku memegang kepalanya, melakukan dorongan kuat sebanyak seratusan kali, hingga akhirnya terasa lega.“Ting….”Lampu di atas kepala menyala. Evelyn berlutut di lantai dengan kondisi berantakan dan tubuh yang kotor.“Ma… maafkan aku.”Evelyn meminta maaf padaku dengan tubuh gemetar, tapi aku malah ingin tertawa.Aku melemparkan sisa pakaiannya yang sudah robek padanya, “

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status