공유

Bab 4

작가: Husky
Stimulasi yang bertubi-tubi itu membuat Evelyn hampir tak berdaya. Napasnya tertahan dan tenggorokannya menyempit, nyaris membuatku menyerah kalah lebih awal.

“Kok rumah mati lampu, sih?” terdengar suara yang familiar dari lantai atas.

Mereka turun.

Aku mendorong Evelyn untuk bersembunyi lebih dalam di antara rak barang, di tempat mainan silikon bertumpuk.

Berada di tengah-tengah benda itu, keberadaan kami nyaris tak mungkin terlihat.

Permainan mulut Evelyn yang masih amatir membuatku semakin gelisah.

Saat ini juga, rasanya aku ingin langsung menghabisinya di sini!

Namun tak bisa, hal terbaik harus disimpan di belakang.

Aku memegang kepalanya, melakukan dorongan kuat sebanyak seratusan kali, hingga akhirnya terasa lega.

“Ting….”

Lampu di atas kepala menyala. Evelyn berlutut di lantai dengan kondisi berantakan dan tubuh yang kotor.

“Ma… maafkan aku.”

Evelyn meminta maaf padaku dengan tubuh gemetar, tapi aku malah ingin tertawa.

Aku melemparkan sisa pakaiannya yang sudah robek padanya, “Bangunlah, aku sudah harus pulang.”

Di luar dugaan, Evelyn malah menangis. Dia memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan dirinya sendiri.

Sebenarnya aku ingin menenangkannya, tapi jika tidak segera pergi, aku benar-benar akan ketahuan oleh pemilik toko.

Untungnya jarak dari ruang gudang ke pintu keluar tidak terlalu jauh, aku pun melangkah keluar dalam dua tiga langkah.

Tepat di depan pintu, aku melihat pemilik toko kembali dan hampir berpapasan denganku, jadi aku terpaksa berpura-pura baru saja tiba.

“Bos!” Aku menyapa duluan, “Cetakan yang kupesan kemarin sudah selesai? Aku butuh cepat!”

Pemilik toko tersenyum lebar, “Sudah sampai! Stok baru, rasanya jauh lebih menantang.”

Pemilik toko membawaku ke area barang yang lain, memberikan cukup waktu bagi Evelyn untuk bersiap.

Aku pun segera membungkus satu mainan dan pergi ke kasir untuk membayar.

Evelyn muncul tepat waktu dengan pakaian rapi.

“Ayah! Tadi mati lampu, aku lagi rapikan barang di gudang.”

Ayahnya mengangguk, seolah kekacauan yang baru saja terjadi hanyalah sebuah kebetulan biasa.

Tatapanku dan Evelyn bertemu, tangannya yang memegang alat pemindai kode masih gemetar.

Memanfaatkan kelengahan ayahnya, aku mengulurkan tangan dan mencubit pinggang Evelyn. Dia tersentak ketakutan dan menghindar ke samping, sama sekali tidak berani menatap mataku.

Tiba-tiba, muncul rasa bersalah di hatiku. Aku tak menyangka telah membuatnya ketakutan sampai seperti itu.

Namun, saat aku ingin menjelaskan, Evelyn sudah bergegas pergi bersembunyi.

Saat tiba di rumah, waktu sudah jam dua pagi.

Aku mandi air dingin selama setengah jam, tapi gairah itu tetap tak kunjung padam.

Sialan, seharusnya aku tak melepaskannya begitu saja!

Aku berbaring di ranjang dengan kepala penuh tentangnya.

Bayangan cahaya lampu gudang yang jatuh di wajah mungilnya, butiran air mata yang menggantung di bulu matanya, serta caranya menggigit bibir sambil memanggilku om.

Bahkan… sensasi basah itu masih terasa nyata.

Setelah gelisah sampai jam tiga, aku mengeluarkan mainan yang baru saja kubeli.

Impor dari Jepun, bahan simulasi, katanya tingkat kemiripannya mencapai 99 persen.

Meskipun sudah memakai pelumas, tetap saja tak berguna!

Begitu dimasukkan, pikiranku hanya tertuju pada Evelyn.

Semakin memikirkannya, semakin aku merasa boneka palsu di bawahku ini menakutkan.

Silikon tetaplah silikon, tidak ada suhu hangat, tidak ada getaran.

Tidak ada reaksi tubuh yang akan melemas saat kusentuh!

Sialan!

Aku melempar mainan itu ke samping dan bersandar di kepala ranjang sambil menyalakan rokok.

Sudah jam tiga, dia pasti sudah tidur. Setelah kejadian tadi, mungkin dia bahkan tak mau melihatku lagi.

Namun, api liar di perut bawahku melonjak naik, membakar seluruh tubuh hingga terasa panas.

Lampu toko alat seks itu masih menyala.

Buka 24 jam.

Pintu ruang jaga terbuka sedikit dan dari dalam terdengar suara napas yang halus.

Evelyn meringkuk di atas ranjang lipat sempit di ruang jaga itu. Dia tertutup selimut tipis yang justru menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah.

Aku berdiri di depan pintu melihatnya sejenak, lalu menutup pintu perlahan dan menguncinya dari dalam.

Aku duduk di tepi ranjang hingga ranjangnya agak menurun. Dia bergerak sedikit dan berbalik badan, tapi tidak terbangun.

Selimutnya merosot, memperlihatkan seluruh tubuhnya yang penuh dengan bercak merah jejak yang kutinggalkan tadi.

Aku mengulurkan tangan, menjelajahi tubuhnya dan menekan kedua gundukan lembutnya.

Aku menunduk, menyesap kelembutan itu ke dalam mulutku, menghirup aroma tubuhnya dengan rakus.

Setelah itu, aku mulai merobeknya dengan hati-hati.

Tiba-tiba, dia membuka mata. Saat melihatku, terpancar kebingungan sekaligus ketakutan di matanya.

Aku menekannya kembali ke ranjang, memaksanya menerima setiap perlakuanku.

Saat tanganku menyentuh paha bagian dalam, ternyata dia tak memakai apa-apa! Dan… di sana… sudah basah….
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 9

    Seketika, kolom komentar pun lenyap.“Kalian nggak bisa melarikan diri,” kataku.“Polisi akan menemukan kalian satu per satu. Keluarga, teman, hingga rekan kerja kalian akan tahu orang seperti apa kalian sebenarnya.”Jam tiga pagi, seluruh jalanan sudah dipenuhi oleh mobil polisi.Saat si pemilik toko digiring keluar, orang-orang di sekitar mengangkat ponsel untuk merekamnya. Si pemilik hanya bisa menunduk dengan wajah bengkak yang sudah tak terbentuk.Evelyn berdiri di depan pintu toko, membungkus tubuhnya dengan jaketku sambil menyaksikan semua itu.Seorang polwan mendekat dan berkata dengan lembut, “Evelyn, kamu harus ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan.”Evelyn berbalik hendak pergi, tapi langkahnya terhenti, Dia menoleh menatapku.“Kamu bakal menungguku?”Aku menatap matanya.Tidak ada lagi ketenangan dingin seperti sebelumnya di sana, yang ada hanyalah harapan yang tampak sangat rapuh.“Iya,” jawabku dengan tegas.Tiga hari kemudian.Berita itu viral.[Seorang pria ne

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 8

    Di layar, Evelyn membalikkan badannya. Gaun tidurnya tersingkap sedikit lagi ke atas, memperlihatkan pinggiran celana dalamnya.Kolom komentar langsung meledak.[Gila!][Bos, kamu memang hebat!][Kasih sawer!]Aku memperhatikan riwayat saweran di layar yang terus bergulir satu per satu.Nominalnya bervariasi, mulai dari puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan ada yang mencapai jutaan.Lalu, aku mendengar gerakan dari lantai atas.Pemilik toko turun.Aku menahan napas, mengintip dari celah pintu gudang.Si pemilik toko berjalan ke balik meja kasir, membuka komputer dan mulai berbicara ke arah layar.“Bonus malam ini, ada di bagian akhir. Sahabat-sahabat sekalian, jangan buru-buru.”Ucapnya dengan suara mesum yang dipenuhi kegembiraan menjijikkan.“Kalau mau yang lebih menantang, sawer dulu satu putaran. Siapa yang kasih saweran paling banyak, boleh tentukan sudut pandang kameranya.”Kolom komentar kembali heboh.Aku melihat angka saweran itu terus melonjak, seiring dengan amarahku yang juga

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 7

    Dia bangkit berdiri, lalu mengambil sebuah ponsel yang tersembunyi di bagian paling dalam rak.“Ini foto-foto yang kuambil diam-diam dari komputer ayahku.”Dia membuka galeri dan menggeser layar untuk memperlihatkannya padaku.”“Ini video-video yang dia simpan, ini riwayat percakapannya dengan orang-orang yang membeli cetakan itu dan ini… foto-foto saat dia melecehkanku.”Melihat foto-foto itu satu per satu, tanganku perlahan mengepal kuat.“Kamu sudah coba lapor polisi?” tanyaku.“Percuma.”Evelyn menggeleng, “Hukum sulit menjangkau hal seperti ini. Apalagi dia punya uang dan koneksi, paling hanya akan dikurung beberapa hari, lalu dibebaskan. Setelah itu….”Dia tak melanjutkannya.Namun, aku tahu apa yang ingin dia katakan.Setelah itu, tamatlah riwayat dirinya.“Lalu, apa yang kamu inginkan?”Evelyn menatapku, matanya berbinar.“Aku mau dia mati,” ucapnya.“Tapi, bukan mati di penjara. Aku ingin saat dia masih hidup, namanya hancur total dan dia merasa sakit yang mematikan.”Sebenarn

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 6

    Aku langsung tersentak berdiri, membuat Evelyn ikut terbangun karena terkejut.Dia mengucek matanya sambil menatapku dan saat melihat kotak di tanganku, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis.“Dari mana kamu mengambilnya?”“Dari rak.” Aku menatapnya dan bertanya, “Evelyn, apa yang terjadi?”Dia tak menjawab, hanya memandangiku dengan tatapan yang sangat rumit. Aku membalikkan kotak itu dan menemukan sebaris tulisan kecil di bagian belakang, “Cetakan asli, replika 1:1.”“Replika 1:1.” Aku mengulangi kata-kata itu, “Replika siapa? Kamu?”Evelyn menundukkan pandangannya dan terdiam cukup lama.Sangking lamanya, aku mengira dia tidak akan menjawab.Kemudian, dia mendongak menatapku. Sudut bibirnya membentuk lengkungan yang aneh.“Kamu mau dengar kebenarannya?”“Mau.”Dia menarik napas dalam-dalam, “Ayahku… dia itu mesum.”Udara seolah membeku, aku bahkan tak berani bernapas.“Saat berusia 14 tahun, orang tua kandungku meninggal. Mereka mengadopsiku dan sejak saat itu, mereka mulai me

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 5

    “Berani sekali kamu!”Evelyn bergumam pelan, “Aku mengira kamu akan datang, jadi sengaja nggak mengunci pintunya”Sial!Gadis ini!Melihat wajahnya yang tersipu malu, api di dalam diriku kembali berkobar.“Aku memikirkanmu sampai nggak bisa tidur.”Mendengar itu, tiba-tiba Evelyn mendongak dan menciumku.Aku membungkuk, lalu membalas ciumannya.Dia ditindih olehku di ranjang, tangannya merangkul bahuku dan seluruh tubuhnya gemetar hebat.Aku mencium setiap bagian tubuhnya, meninggalkan bekas gigitan di kulitnya.Aku kembali menyentak branya hingga terlepas, lalu kembali menyesap kedua gundukan lembut itu.“Hm… jangan… terlalu….”Aku tidak berhenti dan suhu tubuhnya terasa semakin panas.Akhirnya, Evelyn menegang hebat, mengeluarkan rintihan yang pecah, lalu terkulai lemas di pelukanku.Aku bangkit dan menatapnya.Dia berbaring di sana dengan pandangan kosong, dadanya bergerak naik turun dengan cepat dan aroma keringat di tubuhnya terasa begitu menggoda.Saat ini, sudah tidak ada lagi p

  • Akhir Dari Sebuah Siksaan Batin   Bab 4

    Stimulasi yang bertubi-tubi itu membuat Evelyn hampir tak berdaya. Napasnya tertahan dan tenggorokannya menyempit, nyaris membuatku menyerah kalah lebih awal.“Kok rumah mati lampu, sih?” terdengar suara yang familiar dari lantai atas.Mereka turun.Aku mendorong Evelyn untuk bersembunyi lebih dalam di antara rak barang, di tempat mainan silikon bertumpuk.Berada di tengah-tengah benda itu, keberadaan kami nyaris tak mungkin terlihat.Permainan mulut Evelyn yang masih amatir membuatku semakin gelisah.Saat ini juga, rasanya aku ingin langsung menghabisinya di sini!Namun tak bisa, hal terbaik harus disimpan di belakang.Aku memegang kepalanya, melakukan dorongan kuat sebanyak seratusan kali, hingga akhirnya terasa lega.“Ting….”Lampu di atas kepala menyala. Evelyn berlutut di lantai dengan kondisi berantakan dan tubuh yang kotor.“Ma… maafkan aku.”Evelyn meminta maaf padaku dengan tubuh gemetar, tapi aku malah ingin tertawa.Aku melemparkan sisa pakaiannya yang sudah robek padanya, “

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status