LOGINTengah malam, di sebuah toko perlengkapan dewasa yang remang-remang, aku memergoki putri pemilik toko sedang memuaskan dirinya sendiri. Matanya tertutup kain, kedua kakinya terbuka lebar dan tersampir di sandaran tangan kursi erotis itu, tampak sangat terbuai dalam kenikmatan. Hingga akhirnya, kursi itu mengalami kerusakan. Wajahnya memerah karena sulit melepaskan diri, dia pun meminta tolong. “Om, tolong aku….” Aku malah berjongkok, jari-jariku mengusap paha, betis, hingga pinggang bagian dalamnya. “Jangan bergerak, struktur kursi ini rumit, aku harus mempelajarinya pelan-pelan.” “Kumohon… cepatlah.” Aku memperhatikannya, mulai dari malu hingga menjadi gairah yang meluap, hingga akhirnya pertahanannya runtuh dan dia pun menyerah. “Om, berikan padaku. Berikan segalanya padaku.” Tepat di saat genting itu, terdengar suara pemilik toko membuka pintu dari luar. Aku segera mendorongnya ke balik rak pajangan. Di sana, aku malah melihat sebuah mainan cetakan yang tampak sama persis dengannya.
View MoreSeketika, kolom komentar pun lenyap.“Kalian nggak bisa melarikan diri,” kataku.“Polisi akan menemukan kalian satu per satu. Keluarga, teman, hingga rekan kerja kalian akan tahu orang seperti apa kalian sebenarnya.”Jam tiga pagi, seluruh jalanan sudah dipenuhi oleh mobil polisi.Saat si pemilik toko digiring keluar, orang-orang di sekitar mengangkat ponsel untuk merekamnya. Si pemilik hanya bisa menunduk dengan wajah bengkak yang sudah tak terbentuk.Evelyn berdiri di depan pintu toko, membungkus tubuhnya dengan jaketku sambil menyaksikan semua itu.Seorang polwan mendekat dan berkata dengan lembut, “Evelyn, kamu harus ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan.”Evelyn berbalik hendak pergi, tapi langkahnya terhenti, Dia menoleh menatapku.“Kamu bakal menungguku?”Aku menatap matanya.Tidak ada lagi ketenangan dingin seperti sebelumnya di sana, yang ada hanyalah harapan yang tampak sangat rapuh.“Iya,” jawabku dengan tegas.Tiga hari kemudian.Berita itu viral.[Seorang pria ne
Di layar, Evelyn membalikkan badannya. Gaun tidurnya tersingkap sedikit lagi ke atas, memperlihatkan pinggiran celana dalamnya.Kolom komentar langsung meledak.[Gila!][Bos, kamu memang hebat!][Kasih sawer!]Aku memperhatikan riwayat saweran di layar yang terus bergulir satu per satu.Nominalnya bervariasi, mulai dari puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan ada yang mencapai jutaan.Lalu, aku mendengar gerakan dari lantai atas.Pemilik toko turun.Aku menahan napas, mengintip dari celah pintu gudang.Si pemilik toko berjalan ke balik meja kasir, membuka komputer dan mulai berbicara ke arah layar.“Bonus malam ini, ada di bagian akhir. Sahabat-sahabat sekalian, jangan buru-buru.”Ucapnya dengan suara mesum yang dipenuhi kegembiraan menjijikkan.“Kalau mau yang lebih menantang, sawer dulu satu putaran. Siapa yang kasih saweran paling banyak, boleh tentukan sudut pandang kameranya.”Kolom komentar kembali heboh.Aku melihat angka saweran itu terus melonjak, seiring dengan amarahku yang juga
Dia bangkit berdiri, lalu mengambil sebuah ponsel yang tersembunyi di bagian paling dalam rak.“Ini foto-foto yang kuambil diam-diam dari komputer ayahku.”Dia membuka galeri dan menggeser layar untuk memperlihatkannya padaku.”“Ini video-video yang dia simpan, ini riwayat percakapannya dengan orang-orang yang membeli cetakan itu dan ini… foto-foto saat dia melecehkanku.”Melihat foto-foto itu satu per satu, tanganku perlahan mengepal kuat.“Kamu sudah coba lapor polisi?” tanyaku.“Percuma.”Evelyn menggeleng, “Hukum sulit menjangkau hal seperti ini. Apalagi dia punya uang dan koneksi, paling hanya akan dikurung beberapa hari, lalu dibebaskan. Setelah itu….”Dia tak melanjutkannya.Namun, aku tahu apa yang ingin dia katakan.Setelah itu, tamatlah riwayat dirinya.“Lalu, apa yang kamu inginkan?”Evelyn menatapku, matanya berbinar.“Aku mau dia mati,” ucapnya.“Tapi, bukan mati di penjara. Aku ingin saat dia masih hidup, namanya hancur total dan dia merasa sakit yang mematikan.”Sebenarn
Aku langsung tersentak berdiri, membuat Evelyn ikut terbangun karena terkejut.Dia mengucek matanya sambil menatapku dan saat melihat kotak di tanganku, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis.“Dari mana kamu mengambilnya?”“Dari rak.” Aku menatapnya dan bertanya, “Evelyn, apa yang terjadi?”Dia tak menjawab, hanya memandangiku dengan tatapan yang sangat rumit. Aku membalikkan kotak itu dan menemukan sebaris tulisan kecil di bagian belakang, “Cetakan asli, replika 1:1.”“Replika 1:1.” Aku mengulangi kata-kata itu, “Replika siapa? Kamu?”Evelyn menundukkan pandangannya dan terdiam cukup lama.Sangking lamanya, aku mengira dia tidak akan menjawab.Kemudian, dia mendongak menatapku. Sudut bibirnya membentuk lengkungan yang aneh.“Kamu mau dengar kebenarannya?”“Mau.”Dia menarik napas dalam-dalam, “Ayahku… dia itu mesum.”Udara seolah membeku, aku bahkan tak berani bernapas.“Saat berusia 14 tahun, orang tua kandungku meninggal. Mereka mengadopsiku dan sejak saat itu, mereka mulai me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.