Pemakamanku dilaksanakan sore itu juga.Kenny menguburku dengan penghormatan tertinggi, sebagai “Calon Nyonya Keluarga Brahms.”Makamku berdiri tepat di samping makam ibunya, dengan tulisan:[Navia Pengantin Abadi]Di pemakaman, ayahku menangis tersedu-sedu.Ia hampir menerjang Kenny dan mencengkeram lehernya.Kenny menahan para pengawal yang ingin menolong, suaranya serak. “Maaf, Tuan Javier … ini salahku.”Air mata ayahku mengalir deras, matanya dipenuhi amarah. “Navia-ku! Kamu yang membunuh Navia-ku!”“Anda bisa membunuhku. Keluarga Brahms tidak akan menyalahkan Anda.”Ayah melepaskan genggaman tangannya perlahan. Kenny menepuk lehernya dan terbatuk-batuk.“Ketika Navia bilang ingin menikah denganmu, aku sebenarnya tak setuju. Aku ingin dia menikah dengan orang biasa dan hidup sederhana selamanya,” kata ayahku sambil menghapus air matanya. “Tetapi katanya ia mencintaimu, kalau tidak menikah denganmu, hidupnya akan berakhir.”Air mata Kenny juga menetes.“Tetapi tak disangka, hidupn
続きを読む