Pagi harinya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar hotel yang tersingkap tipis, menyinari permukaan tempat tidur dengan cahaya keemasan. Keira perlahan menggeliat pelan di atas ranjang yang empuk, merasakan seluruh sendi dan otot tubuhnya remuk redam bagai habis dihantam beban berat."Ugh... pegal sekali," gumam Keira serak sambil memegangi pinggangnya yang terasa linu.Ia memiringkan tubuhnya, menoleh ke samping. Namun, tempat di sebelahnya sudah kosong melompong, hanya menyisakan sprei yang kusut. Keira mengerutkan kening, lalu perlahan mendudukkan diri menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia mengedarkan pandangan memutar, mengamati sekeliling kamar yang hening. Tak ada tanda-tanda keberadaan suaminya."Mas Arkana ke mana, sih?" bisiknya heran.Dengan sisa-sisa tenaga, Keira menyibakkan selimut, turun dari tempat tidur, dan melangkah perlahan menuju kamar mandi. Namun, saat pintu kamar mandi dibuka, ruangan itu pun kosong. Keira mendesah pelan, lalu panda
Read more