Dharma duduk di tepi ranjang Aruni, hati-hati menyelimuti gadis itu dengan lembut. Aruni bersandar di pelukannya dengan wajah pucat, tampak lemah dan memelas."Mas Dharma, aku sudah jauh lebih baik. Sudahlah, jangan marah lagi." Aruni berkata lembut. "Kak Reni bukan sengaja kok, tolong lepaskan dia. Di gudang es itu dingin sekali, dia masih mengandung. Kalau sampai terjadi apa-apa, itu tidak baik.""Lepaskan dia?" Mata Dharma mendingin. "Dia sudah membuatmu sakit, masa bisa selesai begitu saja? Dia harus benar-benar sadar kesalahannya, baru tidak akan berani ulangi lagi."Rasa senang terlihat di sudut mata Aruni, namun ia tetap mempertahankan ekspresi khawatirnya. "Tapi aku memang tidak apa-apa kok, lagian anak yang dikandung Kak Reni itu anakmu juga, Mas. Kalau sampai terjadi sesuatu, kamu pasti akan menyesal.""Menyesal?" Dharma mendengus. "Aku Dharma Pratama kalau ingin punya anak, banyak perempuan yang mau memberikannya. Selama kamu baik-baik saja, yang lain tidak penting."Aruni k
Read More