แชร์

Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku
Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku
ผู้แต่ง: Ikan Gabus

Bab 1

ผู้เขียน: Ikan Gabus
"Apa sebenarnya yang Reni mau? Sudah jelas-jelas Aruni tubuhnya lemah, dia malah buka jendela sampai Aruni flu parah begini. Pasti dia sengaja mau mencelakai Aruni!"

Dharma Pratama membanting termometer dengan keras ke karpet yang mahal. Suara pecahnya tabung air berpadu dengan tatapan garang di sudut matanya, membuat seluruh ruang tamu diselimuti tekanan yang mencekam.

Para pembantu di sekitarnya menahan napas, menyusut ketakutan di sudut dinding. Pak Harto, kepala pelayan yang sudah setia bertahun-tahun, memberanikan diri maju selangkah, suaranya bergetar pelan. "Tuan, Nyonya hanya merasa ruangan terlalu pengap, jadi membuka jendela sebentar. Lagipula anginnya tidak kencang hari itu. Mungkin Nona Aruni lupa menutup selimut waktu tidur ...."

"Diam!" Dharma menghentikan omongan Pak Harto, Tatapan matanya sangat dingin. "Kamu juga berani membela dia? Aruni dari kecil tubuhnya lemah, tidak tahan sedikit pun kena angin. Reni sudah bertahun-tahun tinggal di rumah ini, masa tidak tahu? Dia itu iri melihat Aruni di hatiku, sengaja mencari kesempatan untuk balas dendam!"

Aruni yang ia maksud adalah Aruni Siti, sahabat masa kecilnya yang tumbuh bersama.

Di mata Dharma, Aruni adalah sosok lemah lembut, rapuh, dan butuh perlindungan seumur hidup sebuah permata yang harus ia jaga. Sedangkan aku, Reni Maharani, tidak lebih dari istri hasil perjodohan keluarga. Perempuan yang hanya mengantongi gelar Nyonya Pratama.

"Bawa dia ke sini!" perintah Dharma, suaranya tak terlihat sedikitpun kehangatan.

Tak lama, aku digiring masuk ke ruang tamu oleh dua orang pengawal. Kandunganku yang sudah memasuki usia lima bulan agak terlihat dari balik daster hamil yang kukenakan. Mendengar kata-kata Dharma, wajahku seketika pucat pasi. Aku meronta, berusaha menjelaskan, "Mas Dharma, aku tidak sengaja. Aku hanya ingin membuka jendela sebentar, aku benar-benar tidak tahu Aruni akan flu ...."

"Tidak tahu?" Dharma tertawa sinis, melangkah mendekati aku, menatapku dari atas dengan penuh jijik yang tidak ia sembunyikan sama sekali. "Reni, jangan pikir kamu bisa seenaknya hanya karena mengandung anakku. Di mataku, kamu bahkan tidak sebanding dengan sehelai rambut Aruni. Dia sekarang berbaring kesakitan di kasur, jadi kamu harus menanggung akibatnya!"

Tubuhku gemetar ketakutan, refleks melindungi perutku, air mata tak terbendung. "Mas Dharma, aku tahu salah, aku tidak akan buka jendela lagi, aku akan merawat Aruni dengan baik. Tolong, demi anak kita, maafkan aku sekali ini."

"Maafkan kamu?" Dharma seolah mendengar lelucon terbesar hidupnya. "Penderitaan Aruni harus kamu tanggung seratus kali lipat. Bawa dia ke gudang es di belakang gunung. Tunggu sampai Aruni sembuh, baru boleh dilepas!"

"Jangan!" Aku menjerit ketakutan. Gudang es itu suhunya bisa minus belasan derajat sepanjang tahun. Aku sedang hamil bagaimana mungkin aku bisa bertahan? "Mas Dharma, di sana terlalu dingin. Aku bisa mati membeku, anak kita pun tidak akan selamat! Tolong hukum aku dengan cara lain, apa pun aku terima!"

Namun Dharma sama sekali tidak peduli dengan tangisanku. Ia berbalik dan memerintahkan pengawalnya, "Jalankan perintah! Siapa yang berani membela dia, ikut dihukum!"

Para pengawal pun menyeret tubuhku yang meronta-ronta menuju gudang es di belakang gunung. Aku menatap punggung Dharma yang berbalik pergi tanpa satu pun rasa bersalah, hatiku sangat sakit. Setahun sudah aku jadi istrinya. Setahun aku yakinkan diri sendiri bahwa cinta yang tulus pasti bisa melunakkan hati sebeku apa pun. Tapi ternyata aku salah. Di matanya, aku dan bayi ini tidak ada artinya. Jangankan dibandingkan dengan Aruni secara keseluruhan. Bahkan satu helai rambutnya pun, aku tidak ada apa-apanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 10

    Aku melayang di udara, menyaksikan jenazah Dharma diangkut pergi. Tidak ada satu pun riak di dalam hatiku. Tidak ada kebencian. Tidak ada dendam. Seperti menyaksikan akhir kisah seorang asing.Dulu aku kira aku akan membencinya seumur hidup. Benci karena ketidakpeduliannya saat aku membeku di dalam gudang es itu. Benci karena ia telah membunuh anak kami. Benci karena ia membiarkan dirinya dibutakan oleh Aruni dan terus-menerus menyakitiku. Namun ketika aku benar-benar berdiri di sini dalam wujud roh, menyaksikan ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk menebus kesalahan, menyaksikan ia berubah dari Tuan Dharma yang gagah menjadi lelaki tua yang layu dan sengsara, kebencian itu seperti asap yang ditiup angin, perlahan-lahan buyar tanpa bekas.Bukan memaafkan. Melainkan tidak lagi merasa ia layak untuk itu. Dulu aku mencintainya begitu dalam, memberikan segalanya untuknya. Namun ia menginjak-injak cintaku, menghancurkan harga diriku hingga berkeping-keping, cinta itu sudah lama membek

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 9

    Angin musim gugur menggulung daun-daun kuning kecokelatan, berputar sejenak di depan nisan, lalu berhamburan jatuh di bahu Dharma. Ia berjalan tertatih-tatih dengan tongkat kayu yang permukaannya sudah halus karena sering dipegang, ukiran sulur teratai di ujungnya sudah memudar, seperti dirinya sendiri yang telah dikikis waktu, menjadi sosok yang tua dan rapuh.Bertahun-tahun ini, ia hampir menjadikan area pemakaman sebagai rumahnya. Selembar selimut terhampar di sisi nisan, di atasnya diletakkan tungku dupa favorit melati yang semasa hidupku paling kusuka. Tapi sudah lama sekali tidak ada yang menyalakannya. Hanya sesekali kalau ia teringat sesuatu, ia akan gemetar mencabut korek api, menyalakan satu batang dupa murah membiarkan asap tipisnya buyar dihembus angin.Rambutnya sudah memutih sepenuhnya, tipis menempel di kulit kepala yang keabu-abuan. Kerutan di sudut matanya sedalam jurang, mengurung sepasang mata yang dulu tajam itu menjadi redup dan keruh. Setiap kali hendak duduk, ia

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 8

    Aruni dikurung di dalam gudang es. Ia menanggung siksaan yang tak terkira, kedinginan, kelaparan, ketakutan, satu per satu menggerogoti ketabahannya. Akhirnya ia merasakan sendiri penderitaan yang pernah kualami.Ia mulai menyesal. Menyesal atas segala yang pernah ia lakukan, andai ia tidak iri padaku, andai ia tidak berulang kali menjebakku maka ia tidak akan berakhir seperti ini.Namun semua penyesalan itu sudah terlambat. Dharma sama sekali tidak berniat melepaskannya. Setiap hari hanya dikirim sedikit makanan dan air cukup untuk mempertahankan hidupnya saja, membiarkannya tersiksa di dalam gudang es itu.Aruni mencoba memohon pengampunan dari Dharma. Namun Dharma tidak sudi menemuinya. Di hatinya hanya ada rasa bersalah padaku dan kebencian pada Aruni.Beberapa hari kemudian, seorang pembantu menemukan Aruni sudah tidak bernapas. Tubuhnya kaku, di wajahnya masih terukir ekspresi ketakutan.Dharma mendengar kabar itu tanpa bereaksi apa pun. Baginya kematian Aruni hanya sedikit merin

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 7

    Dharma berdiri di depan nisanku. Di batu nisan itu, foto wajahku tersenyum lembut namun senyum itu seperti pisau yang mengiris dadanya tanpa henti.Ia menguburkan jasad sang bayi bersama jasadku. Meski si kecil belum sempat diberi nama, belum sempat merasakan kehangatan dunia, ia tetaplah darah daging Dharma."Reni, maafkan aku." Dharma berlutut di depan nisanku, air matanya tak henti mengalir. "Aku tahu sekarang sudah terlambat. Aku tidak seharusnya dibutakan oleh Aruni. Aku tidak seharusnya setega itu padamu. Aku tidak seharusnya membiarkan anak kita pergi.""Aku sudah mengurung Aruni di dalam gudang es, supaya ia tebus nyawamu dan nyawa anak kita. Aku tahu ini jauh dari cukup untuk menebus kesalahanku padamu. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan.""Reni, kalau kamu masih di sana dan bisa mendengarku, maukah kamu memaafkan aku? Aku sangat menyesal. Aku sangat merindukanmu dan anak kita."Ia berlutut di depan nisanku, dari matahari terbit hingga terbenam, tak berhenti mengaku dosanya.

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 6

    Dharma mulai menyelidiki Aruni secara menyeluruh. Ia ingin tahu siapa sebenarnya perempuan itu, dan mengapa ia berulang kali menjebakku.Hasil penyelidikan itu mengejutkannya sampai ke tulang.Ternyata Aruni sama sekali bukan perempuan lemah lembut yang ia bayangkan. Sejak kecil, Aruni sudah memendam rasa iri padaku karena keluargaku termasuk yang berada, karena paras cantikku dan kedua orang tua Dharma pernah ingin menjodohkan kami berdua.Aruni sudah lama menyukai Dharma. Demi mendapatkannya, Aruni tidak segan menggunakan segala cara. Ia sengaja mempertontonkan kelemahannya di depan Dharma agar Dharma merasa iba dan ingin selalu melindunginya. Ia berulang kali menjebak dan memfitnahku agar Dharma membenciku dan akhirnya mengusirku supaya ia bisa menggantikan posisiku sebagai Nyonya Pratama.Soal vas bunga yang pecah dulu, itu disengaja olehnya. Flu yang dialaminya kali ini pun adalah sandiwara yang ia buat sendiri. Ia tahu tubuhnya lemah dan mudah flu jika kena angin. Jadi setelah ak

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 5

    Dharma memerintahkan orang-orangnya membawa jasadku dan sang bayi kembali ke vila Keluarga Pratama. Ia duduk di sofa ruang tamu, tatapannya kosong, tak bergerak sama sekali, seperti boneka tanpa jiwa.Pak Harto menatapnya dengan rasa khawatir. Setelah lama ragu, ia akhirnya melangkah maju dan berkata pelan, "Tuan, Nyonya sangat mencintai anda. Sejak menikah dengan Anda, ia selalu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan. Malam hari betapa pun larutnya anda pulang, ia selalu menunggu. Waktu Anda sakit, ia duduk menjaga di sisi ranjang Anda sepanjang malam.""Dia tahu hati Anda ada untuk Nona Aruni. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai istri dengan sepenuh hati. Setelah mengandung, ia semakin bersemangat, setiap hari ia putarkan musik dan mendongengkan cerita untuk bayi itu, menantikan dengan penuh sukacita kehadiran sang buah hati.""Hari itu ia membuka jendela karena ruangan terlalu pengap. Ia khawatir bayinya tidak cukup udara segar jadi ia buka jendel

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 4

    Seminggu berlalu, flu Aruni benar-benar sembuh. Ia berdandan lalu menggandeng lengan Dharma menuju gudang es di belakang gunung."Mas Dharma, kita keluarkan Kak Reni sekarang ya." Aruni berkata lembut, tatap matanya menyimpan harap yang tidak tersembunyikan.Dharma mengangguk, mengerakkan tangannya

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 3

    Dharma duduk di tepi ranjang Aruni, hati-hati menyelimuti gadis itu dengan lembut. Aruni bersandar di pelukannya dengan wajah pucat, tampak lemah dan memelas."Mas Dharma, aku sudah jauh lebih baik. Sudahlah, jangan marah lagi." Aruni berkata lembut. "Kak Reni bukan sengaja kok, tolong lepaskan dia.

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 2

    Dingin yang membekukan tulang seketika menjalar dari telapak kaki hingga ke seluruh tubuh, menembus daster tipis yang kukenakan, masuk ke dalam sumsum tulangku.Gudang es itu sunyi senyap. Yang terdengar hanya tetesan air dari bongkahan es yang mencair, dan suara gigi-gigiku yang gemetar tak kuat me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status