Share

Bab 3

Author: Ikan Gabus
Dharma duduk di tepi ranjang Aruni, hati-hati menyelimuti gadis itu dengan lembut. Aruni bersandar di pelukannya dengan wajah pucat, tampak lemah dan memelas.

"Mas Dharma, aku sudah jauh lebih baik. Sudahlah, jangan marah lagi." Aruni berkata lembut. "Kak Reni bukan sengaja kok, tolong lepaskan dia. Di gudang es itu dingin sekali, dia masih mengandung. Kalau sampai terjadi apa-apa, itu tidak baik."

"Lepaskan dia?" Mata Dharma mendingin. "Dia sudah membuatmu sakit, masa bisa selesai begitu saja? Dia harus benar-benar sadar kesalahannya, baru tidak akan berani ulangi lagi."

Rasa senang terlihat di sudut mata Aruni, namun ia tetap mempertahankan ekspresi khawatirnya. "Tapi aku memang tidak apa-apa kok, lagian anak yang dikandung Kak Reni itu anakmu juga, Mas. Kalau sampai terjadi sesuatu, kamu pasti akan menyesal."

"Menyesal?" Dharma mendengus. "Aku Dharma Pratama kalau ingin punya anak, banyak perempuan yang mau memberikannya. Selama kamu baik-baik saja, yang lain tidak penting."

Aruni kegirangan dalam hati, namun tetap berpura-pura menolak. "Mas Dharma, tidak seharusnya berkata begitu, anak itu tidak bersalah. Begini saja, setelah aku benar-benar sembuh, suruh saja dia minta maaf padaku secara langsung, dengan berlutut. Jadi masalah ini anggap selesai."

Dharma berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah, terserah kamu. Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh, aku bawa dia menghadapmu untuk minta maaf."

Ia tidak tahu bahwa saat itu juga, di dalam gudang es, aku sudah hampir kehilangan kesadaran. Nyeri di perutku semakin menjadi-jadi, seperti ratusan pisau yang merobek-robek isi perutku tanpa henti. Tubuhku terasa semakin dingin, dan pikiranku kian kabur.

Aku teringat Ibu dan Ayah, kalau mereka tahu kondisiku sekarang, pasti hati mereka akan sangat hancur. Dulu aku yang bersikeras ingin menikah dengan Dharma. Mereka tidak setuju tapi akhirnya menghormati pilihanku. Kini aku menyesali segalanya. Seandainya aku tidak menikah dengannya, mungkin hidupku tidak akan berakhir seperti ini.

"Nak, maafkan Ibu. Ibu tidak bisa melindungimu." Air mataku mengalir deras, hati dipenuhi keputusasaan. "Kalau ada kehidupan berikutnya, Ibu tidak akan sebodoh ini lagi. Ibu akan mencari seseorang yang benar-benar mencintai dan menyayangi kita."

Entah berapa lama kemudian, aku merasakan ada cairan hangat mengalir dari bawah tubuhku. Aku pun tahu air ketubanku pecah. Keputusasaan mengalir dalam pikiranku. Dalam kondisi sebeku ini, bayi itu tidak mungkin selamat.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan nyawa kecil itu. Namun dingin yang menusuk dan rasa sakit yang luar biasa membuatku tak berdaya. Aku bisa merasakan kehidupan sang buah hati memudar sedikit demi sedikit. Dan aku pun perlahan kehilangan kesadaran.

Sesaat sebelum gelap sepenuhnya menguasaiku, aku seolah melihat wajah Dharma. Tatapan dinginnya seperti pisau tajam yang menembus jantungku. Dalam hati, aku berbisik pelan, 'Dharma, aku benci kamu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidup.'
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 10

    Aku melayang di udara, menyaksikan jenazah Dharma diangkut pergi. Tidak ada satu pun riak di dalam hatiku. Tidak ada kebencian. Tidak ada dendam. Seperti menyaksikan akhir kisah seorang asing.Dulu aku kira aku akan membencinya seumur hidup. Benci karena ketidakpeduliannya saat aku membeku di dalam gudang es itu. Benci karena ia telah membunuh anak kami. Benci karena ia membiarkan dirinya dibutakan oleh Aruni dan terus-menerus menyakitiku. Namun ketika aku benar-benar berdiri di sini dalam wujud roh, menyaksikan ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk menebus kesalahan, menyaksikan ia berubah dari Tuan Dharma yang gagah menjadi lelaki tua yang layu dan sengsara, kebencian itu seperti asap yang ditiup angin, perlahan-lahan buyar tanpa bekas.Bukan memaafkan. Melainkan tidak lagi merasa ia layak untuk itu. Dulu aku mencintainya begitu dalam, memberikan segalanya untuknya. Namun ia menginjak-injak cintaku, menghancurkan harga diriku hingga berkeping-keping, cinta itu sudah lama membek

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 9

    Angin musim gugur menggulung daun-daun kuning kecokelatan, berputar sejenak di depan nisan, lalu berhamburan jatuh di bahu Dharma. Ia berjalan tertatih-tatih dengan tongkat kayu yang permukaannya sudah halus karena sering dipegang, ukiran sulur teratai di ujungnya sudah memudar, seperti dirinya sendiri yang telah dikikis waktu, menjadi sosok yang tua dan rapuh.Bertahun-tahun ini, ia hampir menjadikan area pemakaman sebagai rumahnya. Selembar selimut terhampar di sisi nisan, di atasnya diletakkan tungku dupa favorit melati yang semasa hidupku paling kusuka. Tapi sudah lama sekali tidak ada yang menyalakannya. Hanya sesekali kalau ia teringat sesuatu, ia akan gemetar mencabut korek api, menyalakan satu batang dupa murah membiarkan asap tipisnya buyar dihembus angin.Rambutnya sudah memutih sepenuhnya, tipis menempel di kulit kepala yang keabu-abuan. Kerutan di sudut matanya sedalam jurang, mengurung sepasang mata yang dulu tajam itu menjadi redup dan keruh. Setiap kali hendak duduk, ia

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 8

    Aruni dikurung di dalam gudang es. Ia menanggung siksaan yang tak terkira, kedinginan, kelaparan, ketakutan, satu per satu menggerogoti ketabahannya. Akhirnya ia merasakan sendiri penderitaan yang pernah kualami.Ia mulai menyesal. Menyesal atas segala yang pernah ia lakukan, andai ia tidak iri padaku, andai ia tidak berulang kali menjebakku maka ia tidak akan berakhir seperti ini.Namun semua penyesalan itu sudah terlambat. Dharma sama sekali tidak berniat melepaskannya. Setiap hari hanya dikirim sedikit makanan dan air cukup untuk mempertahankan hidupnya saja, membiarkannya tersiksa di dalam gudang es itu.Aruni mencoba memohon pengampunan dari Dharma. Namun Dharma tidak sudi menemuinya. Di hatinya hanya ada rasa bersalah padaku dan kebencian pada Aruni.Beberapa hari kemudian, seorang pembantu menemukan Aruni sudah tidak bernapas. Tubuhnya kaku, di wajahnya masih terukir ekspresi ketakutan.Dharma mendengar kabar itu tanpa bereaksi apa pun. Baginya kematian Aruni hanya sedikit merin

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 7

    Dharma berdiri di depan nisanku. Di batu nisan itu, foto wajahku tersenyum lembut namun senyum itu seperti pisau yang mengiris dadanya tanpa henti.Ia menguburkan jasad sang bayi bersama jasadku. Meski si kecil belum sempat diberi nama, belum sempat merasakan kehangatan dunia, ia tetaplah darah daging Dharma."Reni, maafkan aku." Dharma berlutut di depan nisanku, air matanya tak henti mengalir. "Aku tahu sekarang sudah terlambat. Aku tidak seharusnya dibutakan oleh Aruni. Aku tidak seharusnya setega itu padamu. Aku tidak seharusnya membiarkan anak kita pergi.""Aku sudah mengurung Aruni di dalam gudang es, supaya ia tebus nyawamu dan nyawa anak kita. Aku tahu ini jauh dari cukup untuk menebus kesalahanku padamu. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan.""Reni, kalau kamu masih di sana dan bisa mendengarku, maukah kamu memaafkan aku? Aku sangat menyesal. Aku sangat merindukanmu dan anak kita."Ia berlutut di depan nisanku, dari matahari terbit hingga terbenam, tak berhenti mengaku dosanya.

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 6

    Dharma mulai menyelidiki Aruni secara menyeluruh. Ia ingin tahu siapa sebenarnya perempuan itu, dan mengapa ia berulang kali menjebakku.Hasil penyelidikan itu mengejutkannya sampai ke tulang.Ternyata Aruni sama sekali bukan perempuan lemah lembut yang ia bayangkan. Sejak kecil, Aruni sudah memendam rasa iri padaku karena keluargaku termasuk yang berada, karena paras cantikku dan kedua orang tua Dharma pernah ingin menjodohkan kami berdua.Aruni sudah lama menyukai Dharma. Demi mendapatkannya, Aruni tidak segan menggunakan segala cara. Ia sengaja mempertontonkan kelemahannya di depan Dharma agar Dharma merasa iba dan ingin selalu melindunginya. Ia berulang kali menjebak dan memfitnahku agar Dharma membenciku dan akhirnya mengusirku supaya ia bisa menggantikan posisiku sebagai Nyonya Pratama.Soal vas bunga yang pecah dulu, itu disengaja olehnya. Flu yang dialaminya kali ini pun adalah sandiwara yang ia buat sendiri. Ia tahu tubuhnya lemah dan mudah flu jika kena angin. Jadi setelah ak

  • Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku   Bab 5

    Dharma memerintahkan orang-orangnya membawa jasadku dan sang bayi kembali ke vila Keluarga Pratama. Ia duduk di sofa ruang tamu, tatapannya kosong, tak bergerak sama sekali, seperti boneka tanpa jiwa.Pak Harto menatapnya dengan rasa khawatir. Setelah lama ragu, ia akhirnya melangkah maju dan berkata pelan, "Tuan, Nyonya sangat mencintai anda. Sejak menikah dengan Anda, ia selalu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan. Malam hari betapa pun larutnya anda pulang, ia selalu menunggu. Waktu Anda sakit, ia duduk menjaga di sisi ranjang Anda sepanjang malam.""Dia tahu hati Anda ada untuk Nona Aruni. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai istri dengan sepenuh hati. Setelah mengandung, ia semakin bersemangat, setiap hari ia putarkan musik dan mendongengkan cerita untuk bayi itu, menantikan dengan penuh sukacita kehadiran sang buah hati.""Hari itu ia membuka jendela karena ruangan terlalu pengap. Ia khawatir bayinya tidak cukup udara segar jadi ia buka jendel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status