로그인Aku melayang di udara, menyaksikan jenazah Dharma diangkut pergi. Tidak ada satu pun riak di dalam hatiku. Tidak ada kebencian. Tidak ada dendam. Seperti menyaksikan akhir kisah seorang asing.Dulu aku kira aku akan membencinya seumur hidup. Benci karena ketidakpeduliannya saat aku membeku di dalam gudang es itu. Benci karena ia telah membunuh anak kami. Benci karena ia membiarkan dirinya dibutakan oleh Aruni dan terus-menerus menyakitiku. Namun ketika aku benar-benar berdiri di sini dalam wujud roh, menyaksikan ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk menebus kesalahan, menyaksikan ia berubah dari Tuan Dharma yang gagah menjadi lelaki tua yang layu dan sengsara, kebencian itu seperti asap yang ditiup angin, perlahan-lahan buyar tanpa bekas.Bukan memaafkan. Melainkan tidak lagi merasa ia layak untuk itu. Dulu aku mencintainya begitu dalam, memberikan segalanya untuknya. Namun ia menginjak-injak cintaku, menghancurkan harga diriku hingga berkeping-keping, cinta itu sudah lama membek
Angin musim gugur menggulung daun-daun kuning kecokelatan, berputar sejenak di depan nisan, lalu berhamburan jatuh di bahu Dharma. Ia berjalan tertatih-tatih dengan tongkat kayu yang permukaannya sudah halus karena sering dipegang, ukiran sulur teratai di ujungnya sudah memudar, seperti dirinya sendiri yang telah dikikis waktu, menjadi sosok yang tua dan rapuh.Bertahun-tahun ini, ia hampir menjadikan area pemakaman sebagai rumahnya. Selembar selimut terhampar di sisi nisan, di atasnya diletakkan tungku dupa favorit melati yang semasa hidupku paling kusuka. Tapi sudah lama sekali tidak ada yang menyalakannya. Hanya sesekali kalau ia teringat sesuatu, ia akan gemetar mencabut korek api, menyalakan satu batang dupa murah membiarkan asap tipisnya buyar dihembus angin.Rambutnya sudah memutih sepenuhnya, tipis menempel di kulit kepala yang keabu-abuan. Kerutan di sudut matanya sedalam jurang, mengurung sepasang mata yang dulu tajam itu menjadi redup dan keruh. Setiap kali hendak duduk, ia
Aruni dikurung di dalam gudang es. Ia menanggung siksaan yang tak terkira, kedinginan, kelaparan, ketakutan, satu per satu menggerogoti ketabahannya. Akhirnya ia merasakan sendiri penderitaan yang pernah kualami.Ia mulai menyesal. Menyesal atas segala yang pernah ia lakukan, andai ia tidak iri padaku, andai ia tidak berulang kali menjebakku maka ia tidak akan berakhir seperti ini.Namun semua penyesalan itu sudah terlambat. Dharma sama sekali tidak berniat melepaskannya. Setiap hari hanya dikirim sedikit makanan dan air cukup untuk mempertahankan hidupnya saja, membiarkannya tersiksa di dalam gudang es itu.Aruni mencoba memohon pengampunan dari Dharma. Namun Dharma tidak sudi menemuinya. Di hatinya hanya ada rasa bersalah padaku dan kebencian pada Aruni.Beberapa hari kemudian, seorang pembantu menemukan Aruni sudah tidak bernapas. Tubuhnya kaku, di wajahnya masih terukir ekspresi ketakutan.Dharma mendengar kabar itu tanpa bereaksi apa pun. Baginya kematian Aruni hanya sedikit merin
Dharma berdiri di depan nisanku. Di batu nisan itu, foto wajahku tersenyum lembut namun senyum itu seperti pisau yang mengiris dadanya tanpa henti.Ia menguburkan jasad sang bayi bersama jasadku. Meski si kecil belum sempat diberi nama, belum sempat merasakan kehangatan dunia, ia tetaplah darah daging Dharma."Reni, maafkan aku." Dharma berlutut di depan nisanku, air matanya tak henti mengalir. "Aku tahu sekarang sudah terlambat. Aku tidak seharusnya dibutakan oleh Aruni. Aku tidak seharusnya setega itu padamu. Aku tidak seharusnya membiarkan anak kita pergi.""Aku sudah mengurung Aruni di dalam gudang es, supaya ia tebus nyawamu dan nyawa anak kita. Aku tahu ini jauh dari cukup untuk menebus kesalahanku padamu. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan.""Reni, kalau kamu masih di sana dan bisa mendengarku, maukah kamu memaafkan aku? Aku sangat menyesal. Aku sangat merindukanmu dan anak kita."Ia berlutut di depan nisanku, dari matahari terbit hingga terbenam, tak berhenti mengaku dosanya.
Dharma mulai menyelidiki Aruni secara menyeluruh. Ia ingin tahu siapa sebenarnya perempuan itu, dan mengapa ia berulang kali menjebakku.Hasil penyelidikan itu mengejutkannya sampai ke tulang.Ternyata Aruni sama sekali bukan perempuan lemah lembut yang ia bayangkan. Sejak kecil, Aruni sudah memendam rasa iri padaku karena keluargaku termasuk yang berada, karena paras cantikku dan kedua orang tua Dharma pernah ingin menjodohkan kami berdua.Aruni sudah lama menyukai Dharma. Demi mendapatkannya, Aruni tidak segan menggunakan segala cara. Ia sengaja mempertontonkan kelemahannya di depan Dharma agar Dharma merasa iba dan ingin selalu melindunginya. Ia berulang kali menjebak dan memfitnahku agar Dharma membenciku dan akhirnya mengusirku supaya ia bisa menggantikan posisiku sebagai Nyonya Pratama.Soal vas bunga yang pecah dulu, itu disengaja olehnya. Flu yang dialaminya kali ini pun adalah sandiwara yang ia buat sendiri. Ia tahu tubuhnya lemah dan mudah flu jika kena angin. Jadi setelah ak
Dharma memerintahkan orang-orangnya membawa jasadku dan sang bayi kembali ke vila Keluarga Pratama. Ia duduk di sofa ruang tamu, tatapannya kosong, tak bergerak sama sekali, seperti boneka tanpa jiwa.Pak Harto menatapnya dengan rasa khawatir. Setelah lama ragu, ia akhirnya melangkah maju dan berkata pelan, "Tuan, Nyonya sangat mencintai anda. Sejak menikah dengan Anda, ia selalu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan. Malam hari betapa pun larutnya anda pulang, ia selalu menunggu. Waktu Anda sakit, ia duduk menjaga di sisi ranjang Anda sepanjang malam.""Dia tahu hati Anda ada untuk Nona Aruni. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai istri dengan sepenuh hati. Setelah mengandung, ia semakin bersemangat, setiap hari ia putarkan musik dan mendongengkan cerita untuk bayi itu, menantikan dengan penuh sukacita kehadiran sang buah hati.""Hari itu ia membuka jendela karena ruangan terlalu pengap. Ia khawatir bayinya tidak cukup udara segar jadi ia buka jendel







