LOGINHanya karena aku membuka jendela untuk mengangin-anginkan ruangan, sahabat masa kecil suamiku terserang flu. Dalam murka yang memuncak, suamiku langsung memerintahkan orang-orangnya untuk mengikat dan membawaku yang sedang hamil ke dalam gudang es. "Jangan pikir kamu bisa seenaknya membuli Aruni hanya karena kamu mengandung anakku." "Kalau satu helai rambutnya pun terluka, aku akan membalasnya seratus kali lipat padamu!" Tubuhku menggigil hebat. Sambil menangis, aku berlutut di hadapannya, memohon maaf, dan berjanji akan setia melayani sahabat masa kecilnya itu sebagai tebusan, tidak akan membiarkan wanita itu terluka sedikit pun. Namun dengan dingin, ia memerintahkan pintu gudang es itu ditutup, berkata bahwa ia ingin memberiku pelajaran yang akan terukir seumur hidup. Seminggu berlalu. Flu kekasih masa kecilnya sudah sembuh. Barulah ia teringat padaku yang masih terkurung di dalam gudang es. "Reni, apa kamu sudah benar-benar menyesal? Asalkan kamu berjanji akan langsung pergi berlutut meminta maaf pada Aruni, aku akan memaafkanmu." Namun ia tidak tahu ... di dalam gudang es itu, tubuhku sudah lama membeku. Begitu pula anak yang ia anggap harta paling berharga. Sudah lama tak ada tanda-tanda kehidupan ....
View MoreAku melayang di udara, menyaksikan jenazah Dharma diangkut pergi. Tidak ada satu pun riak di dalam hatiku. Tidak ada kebencian. Tidak ada dendam. Seperti menyaksikan akhir kisah seorang asing.Dulu aku kira aku akan membencinya seumur hidup. Benci karena ketidakpeduliannya saat aku membeku di dalam gudang es itu. Benci karena ia telah membunuh anak kami. Benci karena ia membiarkan dirinya dibutakan oleh Aruni dan terus-menerus menyakitiku. Namun ketika aku benar-benar berdiri di sini dalam wujud roh, menyaksikan ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk menebus kesalahan, menyaksikan ia berubah dari Tuan Dharma yang gagah menjadi lelaki tua yang layu dan sengsara, kebencian itu seperti asap yang ditiup angin, perlahan-lahan buyar tanpa bekas.Bukan memaafkan. Melainkan tidak lagi merasa ia layak untuk itu. Dulu aku mencintainya begitu dalam, memberikan segalanya untuknya. Namun ia menginjak-injak cintaku, menghancurkan harga diriku hingga berkeping-keping, cinta itu sudah lama membek
Angin musim gugur menggulung daun-daun kuning kecokelatan, berputar sejenak di depan nisan, lalu berhamburan jatuh di bahu Dharma. Ia berjalan tertatih-tatih dengan tongkat kayu yang permukaannya sudah halus karena sering dipegang, ukiran sulur teratai di ujungnya sudah memudar, seperti dirinya sendiri yang telah dikikis waktu, menjadi sosok yang tua dan rapuh.Bertahun-tahun ini, ia hampir menjadikan area pemakaman sebagai rumahnya. Selembar selimut terhampar di sisi nisan, di atasnya diletakkan tungku dupa favorit melati yang semasa hidupku paling kusuka. Tapi sudah lama sekali tidak ada yang menyalakannya. Hanya sesekali kalau ia teringat sesuatu, ia akan gemetar mencabut korek api, menyalakan satu batang dupa murah membiarkan asap tipisnya buyar dihembus angin.Rambutnya sudah memutih sepenuhnya, tipis menempel di kulit kepala yang keabu-abuan. Kerutan di sudut matanya sedalam jurang, mengurung sepasang mata yang dulu tajam itu menjadi redup dan keruh. Setiap kali hendak duduk, ia
Aruni dikurung di dalam gudang es. Ia menanggung siksaan yang tak terkira, kedinginan, kelaparan, ketakutan, satu per satu menggerogoti ketabahannya. Akhirnya ia merasakan sendiri penderitaan yang pernah kualami.Ia mulai menyesal. Menyesal atas segala yang pernah ia lakukan, andai ia tidak iri padaku, andai ia tidak berulang kali menjebakku maka ia tidak akan berakhir seperti ini.Namun semua penyesalan itu sudah terlambat. Dharma sama sekali tidak berniat melepaskannya. Setiap hari hanya dikirim sedikit makanan dan air cukup untuk mempertahankan hidupnya saja, membiarkannya tersiksa di dalam gudang es itu.Aruni mencoba memohon pengampunan dari Dharma. Namun Dharma tidak sudi menemuinya. Di hatinya hanya ada rasa bersalah padaku dan kebencian pada Aruni.Beberapa hari kemudian, seorang pembantu menemukan Aruni sudah tidak bernapas. Tubuhnya kaku, di wajahnya masih terukir ekspresi ketakutan.Dharma mendengar kabar itu tanpa bereaksi apa pun. Baginya kematian Aruni hanya sedikit merin
Dharma berdiri di depan nisanku. Di batu nisan itu, foto wajahku tersenyum lembut namun senyum itu seperti pisau yang mengiris dadanya tanpa henti.Ia menguburkan jasad sang bayi bersama jasadku. Meski si kecil belum sempat diberi nama, belum sempat merasakan kehangatan dunia, ia tetaplah darah daging Dharma."Reni, maafkan aku." Dharma berlutut di depan nisanku, air matanya tak henti mengalir. "Aku tahu sekarang sudah terlambat. Aku tidak seharusnya dibutakan oleh Aruni. Aku tidak seharusnya setega itu padamu. Aku tidak seharusnya membiarkan anak kita pergi.""Aku sudah mengurung Aruni di dalam gudang es, supaya ia tebus nyawamu dan nyawa anak kita. Aku tahu ini jauh dari cukup untuk menebus kesalahanku padamu. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan.""Reni, kalau kamu masih di sana dan bisa mendengarku, maukah kamu memaafkan aku? Aku sangat menyesal. Aku sangat merindukanmu dan anak kita."Ia berlutut di depan nisanku, dari matahari terbit hingga terbenam, tak berhenti mengaku dosanya.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.