Sudah lima belas menit setelah Aluna menghilang, Sindi yang tadi hanya melamun dengan tatapan kosong, kini mulai bisa diajak bicara. “Kamu kecapean, Sin?” tanya dr. Widia, sambil memberikan air putih dingin padanya. “Muka kamu pucat banget. Kamu pulang aja gih, aku izinin malam ini nggak jaga.” Sindi tidak langsung menjawab, tapi anggukkannya sudah cukup untuk membuat dr. Widia kembali terdiam. Setelah diperhatikan, tatapan Sindi terus mengarah pada lemari. Tapi dia tidak bertanya lebih jauh, dan memilih meninggalkan Sindi yang sepertinya butuh waktu untuk sendiri. “Kamu beneran pergi ke tempat itu, Luna?” gumam Sindi dengan kedua tangan yang saling meremas. Dia memang tidak melihat Aluna menghilang secara langsung, karena pingsan. Tapi sebelum dia pingsan, tubuhnya menyadari sesuatu. Seperti ada hawa aneh yang tiba-tiba merayap, hingga membuat pandangannya buram dan kepalanya berdengung. Saat ingat sesuatu, Sindi kembali meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. Dia membuka
Read more